Imelda seolah menjadi pelakor di kisah cinta Riza, padahal ia begitu tulus mencintai Cakra, pria romantis yang kadang terlalu overprotektif.
Menikah dengan Cakra bagai cita-cita bagi Imel, namun apa mau di kata saat prahara buatnya harus terpaksa m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gue pikir kepergok lagi sama Jovan. Ternyata pria itu tidak sendirian, dia datang bersama seorang dekan Senior pembimbing, Dokter yang sejak awal menangani kondisi Cakra, siapa yang menduga jika ternyata Jovan tengah menjalani pengumpulan data skribsinya di rumah sakit ini?
Dokter itu menjelaskan kondisi Pasien alias Cakra ke gue, yang memang keadaannya sudah semakin membaik. Sedangkan Jovan sibuk mencorat-coret kertas di papan yang ia bawa lalu menatap gue sekilas sebelum pergi.
Fyuh, gue pikir Jovan mau ngamuk lagi.
Gue pulang kerumah saat waktu sudah menunjuk setengah delapan malam.
Huh, hari ngampus yang melelahkan, bahkan masih ada tugas yang harus gue sambung malam ini. Ah gerah, mandi dulu ah.
Gue yang baru melempar tas sembarang ke sofa dan berinisiatif langsung mau ke kamar mandi terhenti sejenak menyadari eksistensi seseorang.
Jovan. Dia ada dirumah?!
Pria itu tengah sibuk berkutat di dapur mengolah makanan untuknya sendiri. Dan disini Gue kicep. Canggung harus bersikap seperti apa usai tak bersua dan tak menyapa seminggu lebih. Padahal tinggal seatap.
Alhasil gue melenggang coba mengabaikan, dari pada nyapa nanti di kacangin, males ah.
"Kok baru pulang, dek? Banyak tugas, hem?"
Eh? Gimana?
Gue menoleh bingung dari dalam kamar mandi yang belum tertutup pintu, yah kamar mandi ini memang bersebelahan dengan dapur.
Jovan barusan nanya kabar gue gitu? Yang bener aja gila!
"I.. Iya bang, lagi banyak tugas." jawab gue sekenanya lalu menutup pintu rapat-rapat.
Kayak ada yang aneh dari Jovan. Ah tapi bodo amat, asal dia ga ngamuk - ngamuk lagi aja udah syukur alhamdulillah.
Setelah mandi gue keluar hanya handukan dan langsung ngibrit menuju kamar dan memakai baju. Untungnya Jovan sibuk dan tak memerhatikan gue.
"Mel, nanti ada yang harus kita bahas yah."
Gue menoleh dan menyadari Jovan beri seratus persen intensitas ke gue. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gue malu njim.
Samar gue lihat Jovan tersenyum dan kembali berkutat dengan panci sedang gue langsung masuk kamar secepat mungkin.
Di meja itu tersaji dua piring pasta udang yang menggoda.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.