🥤16. Titik terang

136 38 0
                                        

Mengapa bagi pria itu amat mudah tapi sulit buat aku tuk jadi suami kamu? Mengapa laki-laki beruntung itu bukan aku, Mel?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Mengapa bagi pria itu amat mudah tapi sulit buat aku tuk jadi suami kamu? Mengapa laki-laki beruntung itu bukan aku, Mel?











Yah mana saya tahu Cakra...

Sebulir air mata mengalir, gue menangis dengan kepala bertopang pintu apartemen Jovan yang sejak sepuluh menit lalu urung gue buka.

Selepas berpisah dari Cakra tubuh gue rasanya tidak ingin pulang kerumah pria itu. Pria yang membuat hidup percintaan gue begitu runyam.

Cakra benar, gue ga bisa terus hidup dalam ketidak pastian bersama Jovan begini. Status yang tak pernah gue inginkan ini satu hal sakral, yang ga seharusnya di permainkan dalam kebohongan yang gue dan Jovan lakukam selama ini. Gue tau!

Mana ada suami istri yang saling membenci dan saling berpacaran di balik satu sama lain?

Maka gue sudah memutuskan harus mengatakan hal itu sekarang juga.






Membuka pintu dan masuk, gue mendapati lampu ruang tengah masih menyala dan di sofa. Pria itu terbangun dari tidurnya, ia lekas bangkit begitu melihat penampakan gue. Jovan melihat Jam di dinding lalu berkata.

"Kamu dari mana Aja jam segini bar—"

"Gue Minta Cerai, bang."

Tak membiarkan Jovan melanjutkan cerocosannya gue berujar dingin menyampaikan keinginan gue. Huh, tak diduga gue jadi sedikit lebih lega setelah mengatakannya.

Gue lihat, Jovan tampak sedikit terkejut. Ia pasti tak menduga gue akan mengatakan kalimat itu.



"Bukannya kita sepakat ga membicarakan Hal itu dalam Waktu dekat?"


"Kapan kita sepakat? Gue ga inget kita pernah buat perjanjian pranikah atau pascanikah apapun, bahkan Waktu itu elo nolak perjanjian yang gue bikin."


Jovan berdecak. "Siapa yang menolak? Aku bilang akan aku pikirkan dulu. Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba ungkit  masalah ini lagi, hm?"

Gue menunduk mengumpulkan keberanian yang lebih besar untuk lebih  berargumen.

"Gue ga mau aja, terus hidup dalam ketidak pastian begini. Walau kita menikah demi kehormatan orang tua kita, tetep aja ini terlalu konyol tau ga?! Kita suami istri, tapi lo dan gue punya pacar masing-masing. Kita bahkan ga pernah akur di rumah ini, terus berpura-pura mesra di depan bukde Ayu, Lalu berlagak seperti orang ga kenal di kampus. Gue ga tau elo yah, tapi gue benci hidup drama, Bang! Ini semua konyol bagi gue! Come on! Kita cerai aja, dan mulai ulang hidup kita dengan lebih rasional, yah?!"

Jovan terdiam, lalu ia melangkah kedepan gue.

"Jadi alasan kamu minta cerai karena Kamu mau hidup yang lebih rasional, Mel?"

Our Blue Sky : JOVAN (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang