🥤59. Kembali

49 8 0
                                        

Gue baru keluar dari kediaman Cakra dengan membawa sebuah koper, petang telah menyapa dan beberapa pandangan mata orang yang lewat memandang aneh gue di salah satu kursi halte, mungkin mereka sempat mengira gue sebagai penampakan di waktu magrib s...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gue baru keluar dari kediaman Cakra dengan membawa sebuah koper, petang telah menyapa dan beberapa pandangan mata orang yang lewat memandang aneh gue di salah satu kursi halte, mungkin mereka sempat mengira gue sebagai penampakan di waktu magrib saking gajelasnya.

Akhirnya, hubungan gue dan Cakra hari ini berakhir begitu saja, selain menangisi kebohongan Cakra serta kebodohan gue yang terjebak didalamnya sekian lama, sebenarnya gue semakin sedih sebab bingung harus kemana sekarang?

Kembali ke apartemen Jovan bukan Opsi yang bisa gue pilih seenak jidat, mengingat gue yang cuma numpang ini telah kabur tanpa permisi dari Jovan. Pria itu pasti ga akan memaafkan gue.

Lalu tidak mungkin juga gue pulang ke Bogor atau gue akan dicecar ratusan pertanyaan melelahkan oleh ibu ayah serta Bang Diyo.

Maka satu-satunya opsi yang bisa gue pilih adalah, nginab di hotel.

Fix, gue booking  hotel segera. Dan lanjut menangis disana sepuas hati.

Sedang mengscrol daftar hotel yang kiranya akan gue pilih sebagai tempat bermalam, lelehan air mata jatuh dilayar Hape mengganggu, otomatis gue mengusap wajah tuk menghalau air mata lain yang berniat luruh.

Gue terguguh dalam tangis sembari bertanya pada semesta, mengapa sih hidup gue menyedihkan begini?


Kenapa jalan hidup yang gue pilih selalu salah dan mengarah tanpa tujuan?


Semua permasalahan yang tengah membelenggu ini sangatlah melelahkan!

Namun sialnya disaat begini gue ga punya siapapun yang bisa gue jadikan tempat pulang dan berkeluh kesah.

Tidak keluarga, sahabat, bahkan suami gue sekalipun. Padahal gue memiliki itu semua namun kenapa gue ga bisa membagi kisah hidup gue yang memuakan ini pada orang lain?


Gue capek.



Jovan, ternyata selama ini pria itu benar. Cakra bukanlah pria baik, seperti yang selama ini gue kenal.

Gue ga menyangka, saat Jovan mengatakan ia ingin melindungi gue, lalu berharap Cakra akan dapat melindungi lebih baik darinya itu dalam arti sesungguhnya, Namun gue dengan begonya malah masuk kedalam dunia Cakra yang berbahaya semakin dalam, bukannya lekas keluar sejak lama.

Jovan tak seburuk yang gue kira selama ini, meskipun sikap dan ucapannya amat menyebalkan namun jika dipikir-pikir lagi, Jovan selalu pengertian dan mengurus gue dengan baik.

Sial! Tangisan gue semakin ga terkendali, kian mengingat Jovan dan segala kedurhakaan yang pernah gue lakukan padanya, makin dipikirin kok gue jadi makin rindu Jovan ih!



Tin Tin




Klakson itu tepat muncul dari arah depan, gue megucek mata sebab masih belum menyadari siapa pria yang tengah memandang gue dari dalam mobil itu.


Our Blue Sky : JOVAN (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang