🥤49. Prahara Beruntun

100 14 4
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Malam datang, gue masih gusar sembari menimbang-nimbang apakah harus melaporkan teror yang gue dapati tadi sore kepada Cakra atau tidak. You know lah dengan kadar overprotec yang level dewa, Cakra pasti akan mendramatisir hal itu.

Apa ini salah satu hal yang Jovan takutkan? Inikah bahaya yang ia harap dapat Cakra halau dari gue? Dan bagaiman Jovan menganggab perlakuan semena-menanya pada gue selama Ini adalah cara ia melindungi gue? Tapi melindungi dari apa? Dari siapa?

Hal bahaya apa yang kira-kira telah menanti gue, dan hanya diketahui Jovan selama ini? Gue ga inget punya masalah sama orang selain geng norak pengagum Mahen kapan hari, lantas apakah teror ini berasal dari musuh Cakra atau Jovan?

Tapi musuh apa? Saingan bisnis kah? Atau sekedar musuh diarena balab?

Tengah sibuk terlarut dalam lamunan itu gue terpaksa dikagetkan dengan suara pintu balkon terbuka, tentu yah siapa lagi jika bukan Cakra. Pria itu baru pulang dari Kantor, dengan raut sedikit berantakan dan dasi yang sudah menggantung longgar dileher, Cakra menghampiri gue di kursi santai balkon.

Gue mengulas senyum lembut lalu bangkit memeluknya. "Udah pulang?"

"Belum... Masih dijalan. Ini aku Qorin pacar kamu."

Gue terkekeh mendengar banyolan konyol Cakra lalu mengurai jarak kami. "Lucu banget sih ayang aku." bersamaan dengan itu gue melepas dasi yang Cakra kenakan lalu memandang mata teduhnya. Lagi-lagi menimbang apa gue harus menceritakan Teror yang tadi gue terima atau tidak sebab gue tak ingin membebani pikiran Cakra, apalagi dengan ke overorotectifannya Cakra pasti tak segan minta satu batalion kepolisian untuk berjaga sekeliling rumahnya jika diperlukan.

"Ada yang mau kamu sampaikan, yang? Apa? Bilang aja sih."

As always, Cakra yang maha tahu mengulti Gue untuk jujur, namun tipikal cewek yang sulit dimengerti gue malah menggeleng seraya mengulas senyum palsu. "Enggak kok, yang. Ga lagi mau bilang apa-apa selain... Kok bisa aku punya pacar setampan ini ya tuhan..."

Kini giliran Cakra yang terkekeh senang. "Bisa aja ini mulutnya. Kalau ngomong suka bener aja ih, gemesin."

"Ingat pertemuan pertama kita ga? Waktu itu kamu keren banget..." pancing gue pada topik asal lain yang kira-kira dapat membawa suasana baru dalam obrolan kami.

Dulu, Cakra adalah pahlawan yang menyelamatkan gue dari segerombolan preman kurang kerjaan di jalan pulang dari ngampus, disaat gue masih MABA.

Dan Cakra seorang diri menghabisi gerombolan pria yang mengganggu gue kala itu.

"Aku ga nyesel buntutin kamu sejauh itu. Meski akhirnya cuma di kasih caci maki dan di tinggal pergi gitu aja. Waktu itu kesel sih, tapi sekarang... gapapa kan ga mungkin ditinggal lagi." Kami terkekeh setelah Cakra mengakhiri penuturanya.

Our Blue Sky : JOVAN (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang