Imelda seolah menjadi pelakor di kisah cinta Riza, padahal ia begitu tulus mencintai Cakra, pria romantis yang kadang terlalu overprotektif.
Menikah dengan Cakra bagai cita-cita bagi Imel, namun apa mau di kata saat prahara buatnya harus terpaksa m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Imel POV
Cakra Mematikan lampu tidur di nakas sebelum beringsut naik kekasur dan ikut masuk kedalam selimut merengkuh tubuh gue menyamankan posisi untuk segera terlelap.
Biarpun sudah setahun lebih berpacaran, gue dan Cakra ga pernah melakukan hal yang lebih jauh dari tidur bersama ini, bahkan inilah kali pertama gue memutuskan tetap menemaninya tidur, karena keadaan Cakra yang tengah amat rapuh. Baru terlibat perdebatan sengit dengan ibunya beberapa saat lalu.
Toh, kalau pulang ke apartemen gue cuma akan bertemu kesunyian karena Jovan masih belum pulang, lebih parah lagi bahkan Jovan masih belum mengabari gue apapun. Huh, gue sampai ga ingin berharap lagi Jovan akan memberi secuil kabar untuk gue. Sebab gue memang se-engga berarti itu untuknya.
Gue mengelus rambut Cakra penuh sayang. Gue memandang wajah tenangnya dan mengusap pipi yang kasar dipenuhi bulu-bulu halusnya itu penuh sayang. Ia pasti hari ini tak sempat bercukur.
Gue ternyum tipis dan mengusung akal bulus. Sepertinya untuk besok, muncukur janggut Cakra bisa menjadi pembuka kencan yang manis. Gue tersenyum indahnya membayangkan hari esok yang free tanpa jadwal perkuliahan dan bebas berada disis Cakra tanpa khawatir Jovan akan marah.
Melihat Cakra yang sudah terlelap buat gue mulai mencoba tuk ikut terhanyut masuk ke dunia mimpi seperti Cakra.
Author POV
Diluar rumah pribadi megah milik Sebastian Cakra Adhiathama, Seorang pria memukul gagang stir mobilnya frustasi. Ia menggertak sebal sembari terus menghubungi sebuah nomor yang hanya berdering diseberang sana namun tak ada tanda-tanda akan bersahut.
"Angkat Mel... shit!"
Jovan berdesis penuh amarah menatap satu-satunya kamar dengan lampu menyala dirumah mewah itu baru saja kehilangan cahaya terakhirnya, yang menandakan siapapun yang menghuni kamar ini baru memutuskan untuk pergi tidur.
Mungkin jika itu kamar orang lain, tak ada masalah sama sekali, namun ini berbeda karena dikamar mewah milik pria bernama Cakra itu ada Wanita milik pria ini, Imel ada didalam kamar itu bersama pria yang ia cintai. Entah hal gila apa yang bisa terjadi antara mereka malam ini Jovan sumpah tak ingin memikirnya.
Padahal disini, Pria itu telah menanti Imel keluar dari rumah itu untuk waktu yang lama. kembali memukuli gagang stirnya yang tak bersalah. Jovan terus berdesis kata kecewa yang menusuk remuk sanubarinya.
"How dare you... Mel... How dare you!"
Yah, Jovan telah kembali ke Indonesia dengan selamat, lebih cepat dari jadwal yang seharusnya sebab ia merasa sudah tidak punya kepentingan apapun lagi di Belgia.
Ini hari terakhir jadwal presentasinya, tiga hari jauh dari rumah sudah sangat menyiksanya karena harus berjauhan dari orang yang mungkin tengah menantinya di rumah. Imel, siapa lagi.