🥤54. Terbongkar

88 8 0
                                        

Bang Diyo memanggil nama gue, memberi kode dengan lirikan matanya agar gue keluar dari ruang inap teh Raina

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bang Diyo memanggil nama gue, memberi kode dengan lirikan matanya agar gue keluar dari ruang inap teh Raina. Sepertinya ada yang ingin dia bicarakan.

"Aku keluar dulu yah kak... " Pamit gue pada Shilvi yang mulai ketiduran duduk di samping teh Raina. Ia mengangguk seadanya sebagai jawaban, dan gue bergegas keluar menghampiri bang Diyo, ia menggandeng tangan gue dan membawa kami melangkah ke rumah makan di luar area Rumah sakit.

Kami duduk di area outdoornya dan disana sudah ada Jovan menanti.

Seketika firasat tak enak menyentil batin gue, sepertinya bang Diyo akan menginterogasi gue dan Jovan untuk menjawab rasa kecurigaannya akan hubungan kami.

"Makan malam dulu yah kita, kamu mau pesan apa, Mel? " Tanya Bang Diyo lembut, namun ditanya saat otak ini sedang berfikir malah membuat gue sedikit kikuk untuk menjawab.

Apa itu cuma firasat buruk gue yang muncul karena rasa bersalah udah bohongin abang gue sejak awal yah?

"Mel? Hei! Ditanya kok diem aja. Mau makan apa kamu? "

"Eh, iya. Samain aja kayak abang."

"Minumnya? "

"Air putih aja... Yang hangat. "

Seorang waiters menghampiri meja kami dan Bang Diyo memesan. "Lo samain juga, Jov?"

Pria itu mengangguk, "Minumnya teh lemon satu yah, mbak."

Usai memesan bang Diyo menatap gue cukup lama, dengan raut tengah menimang sesuatu sebelum ia mulai membuka suara.

"Kamu nyembunyiin apa dari abang, Mel? "

Anjir.... Keknya fix sih firasat gue bener nih. Bang Diyo tau sesuatu.

"Hah? Ap-apa yang bisa Imel sembunyiin, bang? Abang nanya apaan sih! "

"Abang udah tau, Mel. Jovan udah cerita semua, kalian udah yakin dengan perceraian itu?"

"Hah?!"

Mampus gue...

"Itu kan alasan kamu butuh semua berkas yang abang antar ini? "

"Lo udah cerita semua ke bang Diyo?! Be-beneran semuanya?! " Gue melotot kepada Jovan panik.

Cowok ini kenapa sih! Mengapa mulutnya harus lemes beberin hal ini ke bang Diyo sebelum waktunya, kan kalau begini gue ga bisa kontrol sejauh apa kekacauan rumah tangga kami yang bisa orang lain dengar, terlebih ke bang Diyo.

Ga mungkin semuanya dong, bang Diyo ga boleh tau tentang semua pertengkaran dan kejadian malam kelam itu... Atau itu akan menyakitinya.

"Aku udah berfikir dalam, Mel. Dan aku pikir Diyo harus tau... "

"Apa aja yang lo ceritain ke bang Diyo, Jov? Harusnya lo tanya dulu pendapat gue! Lo ga bisa seenaknya gini dong, Jov. Gue-"

"Stop, Mel! Berhenti cecar Jovan seperti itu. Dan abang ga habis fikir, bagaimana bisa kamu bicara sekasar itu sama dia? Dia suami kamu, dan bahkan lebih tua dari kamu, Mel! Sejak kapan kamu manggil dia cuma dengan nama dan tanpa tata krama begini, hah? Pernah abang ajari kamu bicara dengan kasar ke orang lain? "

Our Blue Sky : JOVAN (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang