Imelda seolah menjadi pelakor di kisah cinta Riza, padahal ia begitu tulus mencintai Cakra, pria romantis yang kadang terlalu overprotektif.
Menikah dengan Cakra bagai cita-cita bagi Imel, namun apa mau di kata saat prahara buatnya harus terpaksa m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa? Orang tua asuh?Orang tua asuh apa?"
Gue dan teh Raina sama-sama terkejut dan menoleh ke asal suara, dipintu masuk. Jovan dam Bang Diyo masuk bersamaan.
"Bisa-bisanya Teteh, langsung terpikir ide semacam ini begitu baru membuka mata? Teteh ga bisa sembrono mutusin hal seperti ini sepihak Teh, pikirin posisi Imel jika teteh ingin meminta bantuan yang tak biasa seperti ini! Bagaimana bisa teteh hanya memikirkan diri sendiri dan mengabaikan perasan Imel, Jovan dan bayi itu, padahal semua ini adalah ulah teteh sendiri! Kesalahan teteh yang harusnya diselesaikan, bukan disembunyikan dengan merusak hidup orang lain! Pokoknya Jovan ga menerima permintaan teteh itu!"
"Lalu kamu mau teteh gimana, Jov? Kamu mau lihat teteh mati aja?! Mending aku bunuh diri di banding menanggung hal memalukan ini!"
"Jovan ga pernah meminta Teteh buat mati! Berhenti berfikiran dangkal dan terus merengek seperti anak kecil begini, Teh! Kami akan bantu cari jalan keluar dan akan terus dampingi teteh, hanya tetap lah hidup. Teteh punya Jovan, Diyo dan Imel disini... Kita akan bantu."
Raina menangis tergugu, dan gue memeluknya. Benar, apa yang Jovan ucap barusan itu benar meski gue pahami, ia telah melukai perasaan kakaknya sendiri namun gue ga merutuki ucapan ketus pria yang langsung keluar ruangan itu, ia pasti juga tengah terluka, usai membentak Raina dengan kata-kata kasar yang terpaksa ia lontarkan.
Saat yakin Raina sudah tenang ditemani kak Shilvi gue memilih keluar mencari udara di taman rumah sakit dan duduk termenung disana, entah mengapa ditengah tekanan situasi pernikahan dan percintaan gue penuh gonjang -ganjing dan problematika begini separuh hati gue malah diliputi rasa iba berlebih terhadap Raina, sumpah gue ingin membantunya, wanita yang sejak kecil telah menjadi idola gue itu kini tengah terpuruk, tengah layu seredup-redupnya.
Dan seperti katanya tadi, situasi gue yang terikat dalam pernikahan ini akan sangat bisa membantunya, yaitu dengan menjadi orang tua untuk anaknya kelak... Apa dengan cara itu Raina akan bisa bangkit seperti sedia kala?
Tiba-tiba gue merasakan tangan seseorang mengusap pundak gue lembut.
Saat menoleh barulah gue menyadari jika itu ternyata adalah Diyo yang berhasil menemukan gue yang selalu bersembunyi ke belakang gedung bangunan apapun saat sedang tak ingin berbicara dengan siapapun, begitu peka bang Diyo merengkuh tubuh gue lalu berujar kalimat menenangkan.
"Aku udah berbicara dengan Raina dan Jovan, dek. Raina sudah lebih tenang sekarang. Kamu ga usah pikirin lebih jauh perihal permintaan Raina tadi yah, dia pasti ga sungguh-sungguh meminta kamu untuk menjadi ibu anaknya kok, dia ngomong gitu pasti karena dalam kondisi mental yang ga stabil."
"Tapi Imel ga tega, bang... Teh raina kasihan, dia lagi begitu terpuruk, bang. Imel dapat memahami dengan jelas bagaimana rasa terpuruk itu... meski aku ga tau gimana cara membantunya... tapi Imel ingin bantu Teh Raina bangkit dari depresinya, bang... jika itu caranya hanya dengan menuruti keinginan dia buat Imel merawat bayinya nanti, Imel rasa Imel akan mencoba, bang."
"Hush! kamu ga dengerin tadi Jovan bilang apa, Mel? Dia menolak opsi itu mentah-mentah, kalian sepasang suami istri ga bisa ngurus anak hanya sendirian, dek. Lagian bocah kayak kamu? yang ngurus diri sendiri aja masih belum becus? " Bang Diyo menggeleng miris seraya mengusap surai rambut gue rada kasar, alias mengusak rambut gue sembarangan lalu ia lanjut bertutur.
"Kalau kamu sungguhan mau membantu Raina saat ini, ga cuma dengan cara itu. Kamu bisa jadi teman terdekatnya lagi mulai sekarang kayak pas kamu kecil dulu, ingat? Cuma Raina yang mau main sama bocah pecicilan kayak kamu. perihal bayi Raina nanti, aku dan Jovan sepakat akan memberi tahu semua pada orang tua kami dan keputusan selanjutnya akan diputuskan orang tuanya, seburuk apapun permasalahan kita ga ada yang boleh disembunyikan dari keluarga, Mel. Kita ga hidup sendiri di dunia. Dan aku juga akan coba berbicara ke Arin, mungkin saja nanti ia dan abang akan berkenan untuk mengadopsi anak Raina. lalu semua akan berakhir dengan baik."
"Beneran, bang?
Bang Diyo mengangguk lembut seraya menepuk bahu gue pelan. "Kamu jangan pikirin omongan Raina tadi lagi yah, anggab itu angin lalu. sekarang kamu tetap fokus sama kuliah kamu dan Jovan yah, Mel. "
"Bang... seandainya... anggap ini sebagai pengandaian yah, yang mungkin akan terjadi di masa depan. Bagaimana jika pada akhirnya Imel dan Jovan memutuskan berpisah, apa orang tua kita bakal menerima itu, bang?
"Astagfirullah, dek? kamu beneran lagi ada masalah sama Jovan?"
"Bukannya malah lucu yah bang, kalau Imel dan Jovan akur apalagi bisa mesra satu sama lain mengingat pernikahan kami itu keterpaksaan dan dengan cara yang ga lazim begitu. abang kan tau, aku dan Jovan itu sama sekali ga deket sejak dulu."
"Tapi, Mel. Meski begitu, Jovan adalah pria terbaik yang aku tahu mampu menjaga kamu, dek..."
"Aku ga butuh orang buat ngejagain, bang. Jika untuk itu, aku kan udah punya Abang dan ayah atau ga nyewa bodyguard aja sekalian. Yang aku butuh itu cowok yang tulus sayang ke aku..."
"Jovan sayang sama kamu, Mel. Apa kamu ga bisa merasakannya?"
"Jovan ?" Senyum getir tersungging begitu saja, seolah baru mendengar hal lucu yang tidak masuk akal, namun tiba-tiba gue teringat pertemuan terakhir kami kemarin, saat ia mencium dan mengatakan kalimat candu yang masih tak bisa gue pahami hingga saat ini.
Jika dirunut kebelakang sebelum pria itu mengatakan "cinta" -nya, bayangan Jovan yang sering kali bergelagat aneh tiba-tiba memeluk, mencium atau bertutur kalimat manis yang ga banget itu kian membuat gue semakin bingung dan merasa takut... Apa iya, dia sungguhan menaruh perasaan spesial buat gue? Bukan sekedar bualan untuk mempermainkan gue semata?
To Be continue... 02 february 24
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.