Imelda seolah menjadi pelakor di kisah cinta Riza, padahal ia begitu tulus mencintai Cakra, pria romantis yang kadang terlalu overprotektif.
Menikah dengan Cakra bagai cita-cita bagi Imel, namun apa mau di kata saat prahara buatnya harus terpaksa m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
CETAR!
Suara kaca pecah itu otomatis buat Jovan menoleh dan mendapati Imel tengah tergesah berjongkok untuk mengumpulkan serpihan gelas pecah yang baru ia jatuhkan. Sial! tanpa sadar Jovan mengumpat cukup kencang hingga Imel mendengarnya.
"Stop! Biarin aja nanti aku beresin, sekarang lebih baik kamu kembali ke kamar dan istirahat aja yah... " Serga pria itu dengan suara lebih lembut seraya mendekati Imel. Si wanita menggeleng dan bergegas mengambil pengeruk sampah beserta sapu.
"Aku bisa beresin sendiri kok, bang... Lanjutin aja obrolan kamu, belum selesaikan? " Jawab wanita itu dengan tatapan gusar, tentu saja perpisahannya dengan Cakra masih meninggalkan sakit hati dan kecewa yang besar dihatinya, mendengar nama pria itu pasti buat Imel teringat lukanya.
Jovan mengangguk samar mendengar ucapan Imel yang memang benar. Ia merasa tak enak hati telah membuat gadis itu terkejut seperti itu namun ia tahu Radit masih menunggu jawabannya.
"Gue ga mau ambil resiko! Imel istri gue! Dia yang paling berarti masa gue jadiin taruhan? Gila lo pada?! " Ucap Jovan sedikit berbisik sembari kakinya melangkah, membuka pintu kaca menuju teras samping rumah.
"Jadi lo mending nyerah? Nolak tantangannya dan dicap pengecut? "
Jovan diam, ia menimbang sesaat sebelum mantap menjawab. "Setidaknya gue ga brengsek buat istri gue. Dia yang putusin ninggalin sialan itu! Bukan gue yang rebut Imel darinya... Jadi bajingan itu ga punya hak apapun atas Imel, Dit!"
"Oke, gue ngerti... Gue hargai keputusan lo. Tapi, kalau dia mau nerima perubah taruhan dari lo, mau tetep Join? Kesempatan langka loh... Kapan lagi Cakra turun ke lapangan selain ngelawan elo? Sekali lagi kita bisa permalukan dia di arena balap, gue ga punya penyesalan buat ninggalin dunia gelap ini setelah pertandingan lo kali ini."
Jovan menghela nafas, "Arena balap kita... Gue lepas kalau dia menang. "
"What-! Shit gila lo Jov! Rencana masa depan kita itu?! "
"Terus apa saran lo selain itu, dit? Hotel yang gue punya tinggal yang di bawah standar QQ Hotel itu! Lo pikir dia bakal tertarik? "
"Tapi aset itu adalah 'kita', Jov. "
"Makanya, masih mau gue turun? Kalau masih lebih baik buruan lo sampaiin kesepakan baru ini. Atau ga ada pertandingan sama sekali!" Jovan hendak akan menutup sambungan itu andai Radit tak terbata berucap.
"Sebenernya-"
Jovan mengernyitkan dahi. " Apa?"
"Sebenernya, bukan karena ego doang gue pingin lo kemari malam ini ngadepin dia, melainkan... Sebenernya semalem, Aron nangkep pembunuh bayaran yang dikirim Cakra ke apartemen lo. "