Imelda seolah menjadi pelakor di kisah cinta Riza, padahal ia begitu tulus mencintai Cakra, pria romantis yang kadang terlalu overprotektif.
Menikah dengan Cakra bagai cita-cita bagi Imel, namun apa mau di kata saat prahara buatnya harus terpaksa m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BRAK
Sruk
Tubuh gue mendarat diatas aspal kemudian terseret beberapa saat sebelum gue terantuk tepi Jalan dan berhenti terseret.
Gue hanya mampu meringis pelan dengan Sekujur tubuh dijalari sakit yang berpadu dengan rintikan hujan, membiarkan gue menikmati rasa sakit yang mendera. Meski anehnya dari balik tubuh gue terasa hangat seperti ada yang mengganjal kepala dan punggung gue.
Lalu suara Ringisan sakit seorang pria terdengar samar, gue coba membuka mata namun ga sanggub, di tambah hujan deras terus mengguyur membasahi wajah dan sekujur tubuh, sulit untuk menghalau hujan agar bisa membuka mata sebab tangan gue terasa amat lemah.
Sebuah tangan bergerak seolah memeluk perut, apa ini? Sungguh ada orang yang coba menolong sampai ikut tertabrak bersama gue barusan?
Tubuh itu membuat gue terbaring menantang langit lalu tubuh itu menghadang hujan dari wajah gue hingga gue dapat membuka mata dan melihatnya.
Jovan...
Gue terdiam menatapnya nanar, ribuan pertanyaan berkecamuk bersama semua rasa muak, jenuh, lelah, marah dan sesal pada tuhan. Mengapa dari semua orang, harus gue dan Jovan. Gue hanya ingin menjalani hari seperti anak lain, semangat mengejar mimpi, menerima cinta dan menantang dunia dengan pandangan optimis meski belum mengenal kejamnya dunia.
Gue mulai terisak, mengapa Jovan yang muncul bak pahlawan untuk gue sementara dia adalah penjahatnya?
"Sttt... Don't cry... Mel... Are you... okey?"
Dan mengapa... di saat seperti ini Jovan seolah menjadi manusia terakhir yang tersisa di bumi untuk peduli. Mengapa suara cemasnya bisa terdengar begitu merdu dan menenangkan? Mengapa Jovan bisa menjadi seperti orang yang paling gue butuhkan di dunia... Padahal dialah orang yang sedang ingin gue hindari?
Gue kembali membuka mata dan memandang hazel menenangkan milik Jovan, tatapan yang selalu gue benci tatapan itu berhasil menusuk hingga kebatin terdalam, menguarkan rasa tenang yang tak pernah gue rasakan.
"Kumohon, Mel... Jangan pernah buat aku lebih takut dari ini..." Gue hanya diam menerima tatapan lirih pria itu yang dipenuhi ketulusan, perlahan Jovan mendekatkan wajahnya ke gue.
Bibir kami bersentuhan, tentu gue terkejut namun Ciuman ini begitu lembut tanpa ada keinginan menuntut, yang gue dapat malah sebuah kenyamanan. Gue pun membalas Ciuman Jovan lembut hingga tak lama tubuh pria itu ambruk diatas dada gue.
Jovan pinsan!
¤¤][¤¤
"Hati-hati kak..." Gue bantu memapah Jovan dari sisi kiri membantu kak Radit tatkala kami akan masuk ke dalam apartement, meski Jovan menolak gue bantu tapi gue tetep kekeh.