10

1.5K 113 0
                                        

"N-na please slow down"

"Fuck."
Nana mengumpat, dia terus menghujami Wynna dari belakang. Tangan kirinya memegang pinggang Wynna, tangan kanannya meremas buah dada Wynna. Bibirnya di arah kan pada leher Wynna dia terus membisikan kata sedukatif mungkin. Lalu memcium bahu Wynna, mendesah seiring gerakan tempo yang semakin cepat

"J-Jaenandaa!!!"
Nafasnya sudah tersendat sendat Wynna hanya mampu merintih dan mendesah saat Nana menyentuh titik terlemahnya. Dia meremas kuat kuat seprei yang ada di kamar mereka dia sudah tak mampu lagi melakukan hal lain selain mendesah dan memanggil nama Nana

"Yes, wife. I will coming too."
Nana semakin mempercepat tempo gerakannya. dia memejamkan matanya saat dia merasa mencapai puncak surgawi untuk yang ke sekian kali. Dia ikut ambruk menyusul Wynna yang sudah tak berdaya, nafas mereka saling memburu dia menarik Wynna untuk di dekapnya. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka

"Thank you, wife." dia mengecup pucuk kepala Wynna dan merapikan rambut Wynna yang berantakan karna kegiatan panas mereka. "How is it, hmm?" tanya Nana masih dengan nafas terengah engah

"Gila, lo nggak kasih gue nafas masa gue di hajar tanpa henti." ucap Wynna masih berusaha mengatur nafasnya

"Sorry, wife. Gue nggak bisa nunggu lebih lama. Lo cantik dan sexy banget pas lagi berantakan di bawah gue." Nana terkekeh dan kembali mengecup bibir Wynna

"Tetep aja, masa gue dihajar sampe pagi." dia melirik jam dinding yang ada di kamar. "Aastagfirullah, Jaenanda udah jam tiga pagi."
Wynna takjub akan permainan mereka. Ini pertama kalinya bagi Nana dan juga Wynna. Tapi mereka bahkan menghabiskan waktu hampir 4 jam untuk permainan mereka

"Pantes badan gue kaya pada mau copot, tapi gila lo pro banget gue hampir nggak bisa ngimbangin permainan lo."

Nana terkekeh dia mengeratkan pelukannya pada Wynna. "Gue anggep itu sebuah pujian. Mau istirahat sebentar nggak? Nanti bangun jam 4 buat mandi sekalian sholat subuh. Atau lo mau lanjut dikamar mandi." Nana hanya iseng tapi kalo Wynna mau dia seneng aja

"Nggak, gue ngantuk Jaenanda!"


*******


Wynna sebenernya enggak beranjak dari kasur empuknya. Semua badan dia terasa remuk, tapi dia sudah berjanji pada Karina, Gishel dan Sheryl kalau dirinya akan datang bersama Nana.

"Leher gue aman kan yah?" dia masih memeriksa riasannya di depan cermin. "Jalan gue aneh nggak sih?" tanyanya beruntun

Nana masih tiduran sambil bermain posel, menunggu Wynna yang masih berkutat dengan make up nya. "Udah aman kok, emang masih sakit?"

"Menurut ngana?" sinis Wynna "Gue di hajar nggak tidur semaleman, dan sekarang lo tanya sakit apa enggak?" Wynna berjalan menghampiri Nana. "Aneh nggak sih jalan gue?"

"You looks good, indeed. Nggak aneh kok, sayang." Nana meraih tangan Wynna."Gue boleh cium nggak sih?"

"Nggak yahh!" Wynna kekuar kamar lebih dulu. "Yuk nanti macet."

Nana hanya geleng geleng kepala melihat istrinya yang kabur lebih dulu

"Kak Karin udah jalan belum, Na?" mereka sudah ada didalam mobil

"Ck, lo tuh kebiasaan deh, itu seat belt nya."

"Hehee, sorry. Tadi mbak Wendy chat, bilang mau main ke rumah." Wynna menurut memasang seat belt sebelum Nana akan menceramahinya sepanjang jalan

"Loh, kok dadakan? Ada apa emang?"

"Weekend kan, kangen adek perempuan kesayangan mungkin?"

"Iye yang paling kesayangan."

Let's Find Happiness Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang