Chapter 1 : Awal dari luka

287 31 3
                                        

Awal dari luka, disandingkan dengan gemuruh yang entah datang dari mana. Menciptakan perasaan yang saling 'membohongi' antara aku, kamu, dan rahasia semesta.

PULANG kerumah bukan tujuan yang tepat bagi Regan saat ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

PULANG kerumah bukan tujuan yang tepat bagi Regan saat ini. Mendapat nilai terendah di matapelajaran fisika bukan hal baru lagi bagi berandalan seperti dia. Hidup Regan tidak jauh dari main sampai larut malam, merokok seenaknya, hingga sering ikut tawuran bersama anggota geng motornya.

Athalaric. Nama geng motor yang diketua oleh Regan sendiri. Terdiri atas 60 anggota aktif, gabungan antara SMA Cakrawala dan sekolah lain. Dari sini membuat orang-orang mengenal sisi brandal seorang Regan Kanagara.

Terlahir dari keluarga kaya tidak menjamin hidup laki-laki itu bahagia. Nyatanya Regan hidup dengan tekanan dan tuntutan keras untuk selalu menurut semua perintah orang tuanya, dan hal yang paling Regan benci dari hidup ini adalah selalu dibanding-dibandingkan dengan Samudra-abangnya sendiri.

"Udah malem bos, lo gak takut bokap lo nyariin?" Tanya laki-laki berperawakan tinggi yang ada disebelahnya, namanya Abbas. Cowo humoris sekaligus anggota dari Athalaric.

"Mungkin si bos stres, dia kan baru putus sama Salma" Cowok lain yang sedang asik main game itu ikut menyahut, pasalnya dari tadi Regan kelihatan hanya melamun hingga menghabiskan satu bungkus rokok.

"Serius lo putus dari Salma?" Tanya Abbas meyakinkan, padahal ia tahu betul sebucin apa Regan terhadap Salma.

Regan yang menjalin hubungan dengan Salma sudah hampir setengah tahun lamanya, harus berakhir karena ancaman dari Papa. Papa mengatakan Salma bukan perempuan baik untuk Regan, pada akhirnya pria paruh baya itu mengancam jika Regan masih menjalin hubungan dengan Salma, maka seluruh harta dan kekayaan akan jatuh ketangan Samudra.

"Kalau putus jangan berlarut larut gitu sedihnya bos, inget masih banyak cewe yang lebih montok dari Salma" Abbas berucap lagi, menepuk punggung laki-laki itu dengan pelan.

Arsad yang sedang bermain game menyetujui ucapan Abbas. "Iya gue denger anak kelas 11 ada yang naksir sama lo, ituloh si Felic yang imut-imut itu"

"Ih Felic kan crush gue, pokonya lo gak boleh suka sama dia" cowok lain yang sedang menghisap rokok itu ikut menyahut, Galingga namanya. Cowok yang imut tapi sangar.

"Kasihan sih lo, Ga. Udah mohon-mohon supaya Felic nerima lo, tapi si Felicnya malah milih si bos"

Abbas dan Arsad tertawa terbahak-bahak. "Udah gitu si Felic malah bilang gini sama gue, kamu terlalu baik buat aku" Ucap Galingga dengan dramastis.

Disela-sela tawanya Abbas menyela. "Bukan terlalu baik, tapi bukan elu yang dia mau, Gaga"

Galingga menepuk dadanya. "Tapi demi cinta yang suci ini gue gak akan mundur untuk mendapatkan cinta neng Felic" Semangat Galingga, membuat Abbas ingin muntah rasanya.

Alvaro- cowok pemilik IQ diatas rata-rata itu ikut menyahut "Hadeh gini nih, kalau temen-temen gue pada bucin. Galau mulu"

Basecamp dimalam minggu biasanya akan seramai ini, diisi oleh anggota inti Athalaric hingga larut malam. Sekedar mengobrol hal-hal random tentang cewe, dan obrolan laki-laki. Bagi Regan Athalaric bukan cuma geng motor tapi sudah menjadi rumah kedua untuknya.

"Lo sendiri bos, udah ada niatan cari pacar baru?" Tanya Abbas yang langsung mendapat pukulan dari Alvaro disebelahnya.

"Baru juga putus, yakali si bos cari pacar baru"

Namun hanya ada umpatan kasar dari Regan. "Bacot lo pada" lalu laki-laki itu menyambar jaket bertuliskan Athalaric dimeja.

"Mau kemana lo?" Tanya Gama, laki-laki dingin yang menjabat sebagai wakil ketua geng Athalaric. Saking irit bicara, Gama hanya akan berucap ketika ada hal yang penting saja.

Regan mengangkat alis, lalu memakai jaket hitamnya. "Biasa lagi stres, mau balapan"

Balapan liar selalu menjadi pelarian ketika laki-laki itu dihadapkan dengan masalah yang membuat dia stres. Dengan balapan liar Regan merasa hidupnya jauh lebih menyenangkan tanpa ada pekik lantang yang menyuruhnya untuk sempurna.

Kini Gama mendekat, berdiri mengikuti Regan. "Gue ikut lo. Gue tau pikiran lo lagi kacau, tapi jangan bahayain diri lo sendiri, Re"

•••••••

"Hari ini jadi dijemput Samudra kan?" Tanya wanita paruh baya itu, Kia yang sedang menyantap roti dimeja makan hanya mengangguk.

"Yaudah sarapannya dihabisin, mama kerja dulu ya"

Kia tersenyum, lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya yang ada dihadapannya dengan sopan. Wanita yang Kia sebut mama itu selalu sibuk dengan pekerjaan sampai tak menyempatkan waktu bersama Kia hanya untuk satu hari saja.

"Mama berangkat ya, Asalamualaikum"

Tapi disisi lain, Kia mengerti bahwa selama ini mama kerja untuk membiayai kebutuhan sekolahnya. Kepergian papa setahun yang lalu membuat wanita itu harus terus kerja sebagai pengacara hanya untuk masa depan Kia.

Hingga ketika mama sudah pergi, suara deruman motor terdengar. Kia yakin itu pasti Samudra yang sudah menunggunya untuk berangkat sekolah.

Gadis itu menyambar tas yang ada dihadapannya, lalu bergegas keluar menuju Samudra yang sudah menunggunya.

"Selamat pagi, tuan putri" Ucap laki-laki itu dengan cengiran khas miliknya, membuat Kia gemas dibuatnya.

Kia memutar bola matanya, menepuk pelan bahu laki-laki itu. "Emang ada ya tuan putri bentukannya kaya gini?" tanya Kia, ia memperhatikan penampilannya yang bisa dibilang tomboy.

Samudra menyelipkan sejumput rambut Kia ketelinga, aroma perpaduan vanila dan bedak bayi tercium olehnya. "Ya, tuan putri gue kan penampilannya setomboy apapun tetep cantik" Ucap laki-laki itu membuat pipi Kia memerah.

Gadis itu menghela napas pelan, rasanya sudah kenyang dengan gombalan Samudra. "Udah ayo berangkat, nanti telat lagi, kalau telat bisa dihukum pak Rahmat yang galaknya luar biasa"

Samudra tertawa, kembali menyentuh pipi gadis itu dengan pelan. "Lo cantik banget sih, Ki" Ungkap laki-laki itu sembari memperhatikan wajah Kia yang nyaris tanpa celah.

Kia menurunkan tangan Samudra yang masih menyentuh wajahnya, lalu gadis itu naik kemotor sport merah milik laki-laki itu. "Udah nanti aja mujinya, sekarang kita berangkat dulu, takut telat"

"Lulus sekolah nanti, gue pengen cepet-cepet lamar lo, Kia"







BERSAMBUNG....

Regan KanagaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang