Berharap pada manusia adalah seni untuk patah hati dengan sengaja.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Jingga di ujung sana hampir lenyap warnanya. Kota Jakarta sama seperti biasanya, ramai, berisik dan penuh dengan hikuk pikuk kendaraan. Kia menatap jalanan dibalik kaca mobil yang sedang dikendarai oleh Regan, namun diantara keduanya tak ada pecakapan, hanya terbungkus sunyi dan yang terdengar hanyalah suara berisik hujan.
"Lo gak papa kan, Ki?" Pertanyaan itu muncul dari mulut Regan tanpa menatap kearah Kia sedikitpun, tatapan laki-laki itu masih fokus kedepan.
Samudra masuk rumah sakit, hal itu tentu membuat Kia panik setengah mati, apalagi Samudra kecelakaan sehabis pulang dari rumah gadis itu. Rasanya seperti kehilangan separuh hidupnya saat tahu kondisi Samudra begitu parah.
"Gimana gue bisa baik-baik aja setelah denger Sam kecelakaan." Gadis itu berucap dengan lirih, membuat Regan pada akhirnya menoleh lalu mengulurkan sapu tangan biru kehadapannya.
Kia tak peduli— gadis itu sama sekali tidak menerima sapu tangan yang Regan ulurkan untuk menghapus jejak air matanya, karena entah kenapa hanya ada perasaan benci dan marah setiap kali Kia menatap wajah laki-laki itu.
"Jangan pernah ngerasa sendiri Ki, lo masih punya gue"
Kia mendengus, sementara tatapannya masih fokus kedepan. "Lo ga usah so pertahain sama gue, Re. Semua masalah itu ada karena kegoblokan dan keegoisan lo"
Pelan-pelan rasa sakitnya ia keluarkan. Rasa sakit yang belum lama ini ia pendam. "Gimana kalau Samudra tahu soal anak dalam kandungan ini hah?!" Nada gadis itu naik beberapa oktaf, air mata untuk kedua kalinya jatuh begitu saja.
"GIMANA KALAU SAMUDRA TAHU ANAK INI HAH?! APA GUE HARUS GUGURIN ANAK INI, INI SEMUA GARA-GARA TINGKAH LO YANG GILA!"
Kia meluapkan amarahnya. Menangis sejadi-jadinya dalam mobil yang sedang dikendarain oleh Regan, Kia hanya takut semua masalah akan jauh lebih berat jika anak ini lahir, bagaimana kedepannya ia harus menghadapi semuanya sendiri. Kia takut Samudra pergi.
"GUE TAKUT, RE"
Menangis. Hanya itu yang bisa Kia lakukan saat semesta lagi dan lagi membuatnya patah. Sampai pada akhirnya, Regan menghentikan mobilnya di persimpangan jalan. Ia mendekat kearah Kia, tubuh hangat itu mendekap ke arah gadis yang menangis karena ulahnya yang keterlaluan.
"Gue minta maaf." Suara laki-laki itu terdengar lirih, sementara Kia hanya terpaku saat Regan memeluknya.
Pelukan itu semakin erat, bahkan terlalu nyaman jika harus dilepaskan. Tangan Regan tidak tinggal diam, dia menghapus jejak air mata gadis itu, sorot matanya mengisyaratkan bahwa semuanya akan berjalan selayaknya.
"Gue disini Ki, gue akan tanggung jawab sama apa yang udah gue perbuat."
Hari itu Regan harus mengakui pada semesta, betapa ia ingin menjaga gadis ini dengan kekuatannya, betapa ia tidak menginginkan Kia terluka oleh siapapun. Termasuk oleh dirinya sendiri.
"Gue gak akan kemana-mana saat semua orang pergi dari lo"
Bahkan lampu trafik dan hujan juga menyaksikan pelukan dua manusia penuh luka itu dalam kegelapan. Regan perlu mengakui pada dunia bahwa Kiara Anila sudah menjadi separuh dari hidupnya.
...
"Samudra masih belum juga sadar, kata dokter kecelakaannya cukup parah, sampai harus dirawat beberapa hari." Ucap mama, meski sang suami sudah menenangkan, wanita paruh baya itu tetap merasa cemas.
Begitupun dengan Regan. Meskipun laki-laki itu membenci Samudra tetap saja ada sedikit perasaan iba ketika melihat Sam harus berada dalam kondisi seperti ini.
Isak tangis dari mama terdengar. "Mama cuma takut Samudra kenapa-napa, papa tahu kan cuma dia yang bisa buat kita bangga, cuma dia harapan kita satu-satunya!"
Saat itu juga Regan mengepalkan tangannya kuat, dia juga anak mereka, tapi mengapa selalu Samudra yang mereka sayangi. Selalu Samudra yang mereka banggakan. Sementara Regan hanyalah anak yang tidak pernah dihargai sama sekali.
Papa menenangkan mama, semua khawatir berharap ada keajaiban Samudra bisa cepat sadar.
Kia pernah dihadapkan dengan posisi seperti ini, ketika setahun lalu papa pergi karena kecelakaan beruntun. Trauma itu masih ada bahkan sampai saat ini, yang selalu Kia takutkan adalah Samudra akan pergi selama-lamanya seperti papa. Kia hanya takut harus menghadapi semuanya sendiri.
"Ngapain lo disini?" Tanya gadis berperawakan tinggi disebelahnya, Kia mengenalnya, dari cara bicara, cara berpakaian, Kia sudah menebak bahwa gadis itu adalah Laras.
"Belum puas lo bikin lagi keributan?" Tanya Kia dengan pelan. "Belum puas lo terus perlakuin gue dengan seenaknya?!"
Laras— gadis populer yang selama ini mama jodoh-jodohkan dengan Samudra, mungkin ini terlalu klise untuk didengar kalau perjodohan ini terjadi karena adanya ikatan kerja sama perusahaan.
"Lo itu gak pantes ada disini, Samudra kecelakaan gara-gara lo sialan." Tangan gadis itu mendorong Kia dengan kasar, tatapannya marah.
"Kalau Samudra kenapa-napa jangan harap lo bisa hidup dengan tenang, Kia!"
Melihat Kia diperlakukan seperti itu, Regan tidak tinggal diam. Ia menarik tangan Kia, menyembunyikan tubuh gadis itu dibelakangnya untuk melindungi Kia dari gadis barbar seperti Laras. Regan tahu betul, maksud tujuan Laras hanya untuk cari perhatian saja.
"Lo gak usah cari keributan, Ras. Kayaknya lo ini emang haus banget perhatian ya, padahal gue jelas tahu lo deketin keluarga gue cuma ada maunya, licik."
Laras geming. Karena apa yang dikatakan Regan adalah kebenaran, Laras mendekati Samudra hanya demi perusahaan papanya, dan juga ia ingin menjadi satu-satunya wanita yang menjadi istri dari Samudra— Penerus perusahaan papa nantinya.
"Jangan lo masukin hati apa yang dibilang Laras ya, Ki. Percaya deh sama gue kalau bang Samudra bakalan cepet sadar."
Pintu ruangan IGD terbuka. Dokter paruh baya itu menghampiri keluarga Samudra, dengan cepat Mama, papa dan Regan menanyakan keadaan Samudra bagaimana sekarang.
"Samudra sudah sadar, bu. Saya hanya menyampaikan pesan, katanya ia ingin ngobrol dengan Kia, apa disini ada yang namanya Kia?" Tanya dokter tersebut, Kia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Kata Samudra, dia ingin bicara sama kamu."
...
Dengan perasaan gugup, takut bercampur bahagia karena akhirnya Samudra sudah sadar, Kia memasuki ruangan itu. Saat pintu pertama kali dibuka tampaklah Samudra yang tersenyum hangat kepadanya, alih-alih ingin bertemu keluarganya Sam malah ingin bertemua Kia saat sadar.
"Maafin gue ya, Sam." Hanya kata itu yang mampu Kia katakan, rasanya permintaan maaf tidak mampu untuk membayar semuanya. "Maaf kalau lo kecelakaan ini sehabis dari rumah gue."
Sam menggeleng pelan, tangan dingin itu menyentuh permukaan wajah Kia dengan lembut, rasanya seperti putus asa. Seperti sudah kehilangan dan baru saja menemukan sesuatu dalam hidupnya.
"Ini bukan salah lo, gue mohon lo jangan pernah pergi dari kehidupan gue ya, Ki. Gue gak mau kehilangan lagi"
Kehilangan.
Mungkin sebentar lagi akan terjadi setelah Kia mengatakan semuanya, tapi malam ini dalam genggaman tangan Samudra, gadis itu berdoa semoga semesta memberikan jalan untuk Sam dan Kia agar tetap seperti ini dalam garis yang searah.
"Sebelum semuanya kacau, lo harus tahu satu hal, Sam" Gadis itu berucap hati-hati, ia akan menunggu waktu yang pas untuk mengatakan semuanya.
Samudra menatapnya bingung. "Apa? Apa yang harus gue tahu?"
Begitupun semesta tahu, diam-diam tangan Kia bergetar, pun dengan dadanya yang sesak, rasanya sesulit ini untuk mengatakan kebenaran.
BERSAMBUNG...
KAMU SEDANG MEMBACA
Regan Kanagara
Fiksi Remaja"Setelah gue berusaha pertahanin hubungan ini, lo malah dengan brengseknya ngelakuin hal menjijikan gitu sama cowo lain" Kiara tak bersuara, hanya ada tangisan Samudra yang menjadi saksi bisu atas menyakitkannya pertemuan ini. "Gue minta maaf" dise...
