Kenapa harus ada luka sehebat ini?
....
Malam ini Samudra memutuskan untuk pulang. Ditengah perjalanan Samudra hanya terdiam, pikirannya larut - tentang hubungan dia dan Kia yang akan dibawa kemana. Demi apapun Samudra begitu mencintai Kia, tanpa alasan.
"Putus atau terus?" Entah kenapa pertanyaan bodoh itu selalu ada dalam benaknya. Apa yang akan terjadi jika mama dan papa tahu? Apalagi Samudra sudah menerima perjodohannya dengan gadis pilihan mama bernama Laras.
Malam ini kota Jakarta begitu berisik. Banyak lalu lalang manusia dan pengendara yang terjebak macet. Rintik-rintik gerimis masih saja turun mengiringi, seolah ada kegelisahan dalam hati Samudra malam ini.
"Mama cuma mau kamu udahin hubungan kamu sama Kia, kepercayaan kalian aja berbeda, gimana kedepannya, Sam?"
"Tapi Kia bisa aja ngalah dan pindah agama, Ma"
Mama mengusap bahu pelan laki-laki itu. "Yakin Kia mau ngalah? Gak akan ada yang mau ngalah diantara kalian"
Pembicaraan Samudra dan Mama sore kemarin masih terekam jelas.
Lagu amin paling serius terdengar di sudut kafe persimpangan jalan. Lagu ini seolah menjadi lagu yang bermakna dalam hubungan Samudra dan Kia. Sama halnya dengan lagu ini, menceritakan dua manusia yang terlahir dalam latar belakang yang berbeda, namun mereka mengetuk pintu yang sama agar bisa bersatu.
"Hubungan kita terlalu kacau buat diperbaikin"
Bahkan saat lampu hijau menyala, Samudra masih larut dalam pikiranya yang tak berujung. Berkendara dengan kondisi berantakan, tatapannya kosong kedepan seolah menyerah dengan hal yang akan terjadi kedepannya.
Jika memang bukan untuk Samudra. Mengapa semesta harus mempertemukan dia dengan Kia? Mengapa harus ada rasa nyaman tak ingin kehilangan. Laki-laki itu mengehela napas pelan untuk mengisi kekosongan dalam paru-parunya.
"Mas yang bener bawa motornya, hampir aja nabrak saya!"
Suara klakson motor terdengar dari belakang, seolah pengendara lain ingin menegur agar Samudra berkendara dengan fokus, tapi tatapan laki-laki itu tetap kosong.
Sampai tepat di pertigaan jalan MekarAruna. Saat Sam mencoba mengendarai motornya, sebuah sedan hitam datang dari arah berlawanan melaju begitu kencang. Suaranya begitu keras saat mobil tersebut menghantam motor besar Samudra hingga laki-laki itu terpental kearah trotoar.
Sakit.
"Tolong, siapapun tolong gue"
Begitu saja. Samudra meminta tolong dengan lirih. Motornya hancur, begitupun dengan kondisinya yang berantakan. Seluruh tubuhnya terasa sakit, darah keluar dari kening, apalagi kepala yang terbentur saking kerasnya. Perlahan rintik-rintik mengenai wajah laki-laki itu, dalam beberapa detik Samudra tak sadarkan diri.
.
"Gak tahu malu banget sih dateng kesekolah!"
"Oh ini ya yang katanya ketua Osis tapi kelakuan nya malu-maluin"
"Kalau jadi gue sih, udah malu banget ketawan beli testpack pake seragam sekolah"
Hal yang pertama kali Kia dengar saat menginjak sekolah adalah suara siswi yang terus membicarakan dirinya sepanjang kolidor. Seolah berita ini sudah menjadi trending topik pagi ini di SMA Cakrawala, sebisa mungkin Kia tutup telinga seolah tidak mendengarnya.
"Lo cewe gak tahu malu itu kan?" Laras bertanya dengan nada sinis, tatapannya seolah puas dengan rencananya kali ini.
Rasanya Kia ingin membalas gadis dihadapannya sekarang juga, tapi dia tidak mau citranya semakin buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regan Kanagara
Teen Fiction"Setelah gue berusaha pertahanin hubungan ini, lo malah dengan brengseknya ngelakuin hal menjijikan gitu sama cowo lain" Kiara tak bersuara, hanya ada tangisan Samudra yang menjadi saksi bisu atas menyakitkannya pertemuan ini. "Gue minta maaf" dise...
