Chapter 14 : Nicotin

128 15 8
                                        


Sejauh manapun kita pergi, rumah adalah tempat pulang yang sebenarnya.

▪︎REGAN KANAGARA▪︎
.

"KESIANGAN LAGI KAMU?!"

Kia hanya nyegir kuda saat pak Rahmat mengintrogasi gadis itu dengan tatapan marah, masalahnya bukan sekali dua kali gadis itu telat tapi terlalu sering. Sampai akhirnya guru berkumis tebal itu anak menghukumnya.

"Saya minta maaf ya pak, bapak gak kasian apa, tadi saya jalan kaki loh kesini." Ucap gadis itu dengan nada dibuat-buat berharap bebas hukuman dari guru paruh baya itu.

Tapi bukan pak Rahmat namanya kalau hobi tidak menghukum murid, Kia mendapat hukuman yang sama, hukuman yang sering Kia dapat belakangan ini.

"Hormat bendera sampai bel istirahat kedua bunyi."

Mau tidak mau Kia beranjak gerbang, melangkah menuju lapangan upacara yang sedang panas-panasnya. Padahal sebelum berangkat sekolah tubuh Kia menggigil, rasanya mual, sedari malam gadis itu terus memuntahkan isi perutnya.

Gadis itu berdiri dilapangan upacara sendirian, mengangkat tangan lalu menghormat bendera. Baru beberapa menit keringat mulai keluar dari kening, kepalanya pusing.

"AWAS AJA KALAU KAMU KABUR DARI HUKUMAN!"

...

REGAN berdiri tak jauh dari gadis itu, sedari tadi laki-laki itu hanya memantau Kia, Regan hanya takut tiba-tiba Kia kecapean atau pingsan mendadak, apalagi Kia sedang mengandung dan kondisinya pun kurang baik.

Sejak memasuki gerbang tubuh Kia sudah pucat, apalagi semalam gadis itu mengigil terus memuntahkan isi perutnya, Regan berdecak bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Karena tidak mungkin, tiba-tiba Regan datang dan mengajak Kia lari deri hukuman, bisa-bisa Regan yang akan di tandai guru galak itu.

Tak ada pilihan lain, langkah laki-laki itu bergerak menuju lapangan tempat upacara— tempat dimana Kia menghormat bendera ditengah terik matahari pagi. Saat sadar ada seseorang di sebelahnya, Kia menoleh.

"Ngeyel banget sih lo, kan gue udah ngajak lo bareng tapi lo malah gak mau, kan di hukum jadinya." Laki-laki itu berucap datar, tapi pandangannya tidak menoleh kearah gadis itu.

Kia menelan ludah, tenggorokannya kering. "Lebih baik gue dihukum gini daripada harus bareng sama lo." Tegas gadis itu dengan wajah pucat yang kentara, ia tidak bohong sedari tadi kepalanya pusing.

Regan mengangkat kedua tangannya keatas, tangan besar itu menutupi cahaya matahari yang membakar wajah Kia. Kalau di bayangkan seperti adegan film-film anak SMA indonesia pada umumnya.

Kia mengangkat wajah, lalu menoleh kearah laki-laki itu, ia bisa melihat sorot ketulusan disana. "Lo gak perlu ngelakuin ini, Re. Semakin lo bertindak gini, semakin gue benci sama lo."

Tapi Regan tidak peduli dengan apa yang Kia ucapkan. Ia tetap pada pendirian untuk melindungi Kia yang sedang mengandung anaknya. Regan tidak mau kenapa-napa? Regan tidak mau kesehatan Kia memburuk dan berpengaruh pada anak yang sedang dikandungnya.

"Cantik."

Satu kata itu tiba-tiba lolos dari mulutnya tanpa aba-aba. Mungkin Kia adalah interpretasi dari bunga ditaman yang keterlaluan cantik. Rambut yang dikuncir kuda dan wajah tanpa polesan make up adalah bentuk dari cantik yang Regan maksud. Okstitosinnya mendadak naik.

"Boleh gue cerita?"

Semakin Regan mendekat, semakin Kia mencium aroma tajam dari tubuh laki-laki itu. Aroma yang sebelumnya jarang Kia hirup, dulu aroma ini sering menempel dirumah saat papa pulang, didalam mobil, ataupun diruang tamu, dan Kia benci dengan setiap kenangan dari aroma jahat ini.

Aroma nicotin.

Aroma tembakau itu menempel diseragam Regan dan masuk kedalam indra penciuman, terlalu menusuk. Rokok akan selalu jadi pelarian bagi Regan, berandal modelan seperti dia akan menghabiskan satu bungkus rokok dibanding ikut pelajaran dikelas.

"Lo dengerkan kemarin mama bilang apa." Untuk memecah keheningan, Regan berucap, tangan besarnya masih melindungi gadis itu dari terik matahari.

"Mama bilang dia pengen cepet Samudra sadar karena dia harapan mereka satu-satunya..." Regan bercerita dengan tenang, tanpa tercekat. Separuh napasnya hampir habis, lalu tertawa kaku. Menertawakan dirinya yang bodoh.

"Padahal gue juga anak mereka kan?" Pandangan itu lurus kedepan, masih tenang dengan ucapannya. "Tapi papa bilang gue cuma anak haram, katanya."

Saat itu juga Kia menoleh. Yang berdiri disampinya bukan lagi Regan yang so kelihatan kuat dengan tingkah berandalnya, tapi yang kali ini gadis itu lihat hanya ada sosok Regan dengan rasa sakit yang selama ini terpendam.

"Anak haram?" Kata itu lolos keluar dari mulut Kia, membuat Regan tersenyum tipis kearahnya.

Tersenyum menyakitkan.

Regan mengedikan bahu, separuh dari dirinya retak. "Gue gak tahu kenapa papa bilang gitu, dari kecil gue ngerasa hal yang beda, semua bisa gue dapetin, kecuali.." Rasanya laki-laki itu tidak berani melanjutkan ucapannya, ia mengambil napas beberapa kali.

"Kecuali apa?" Kia mengangkat sebelah alisnya keatas.

"Kecuali kasih sayang."

Regan mengalihkan pandangan kearah Kia, dua tatapan mata itu saling beradu, seolah saling mengetahui bahwa mereka sama-sama hancur, sama-sama terluka dalam posisi yang setara.

Dan mata coklat itu..

"But i'm tried you know. Gue udah berusaha jadi yang mereka mau, tapi tetep aja gue gak akan pernah bisa jadi Samudra yang serba sempurna.

—Menyimpan kilatan luka yang tidak bisa Kia jelaskan.

"Karena gue dan Sam itu dua manusia beda, gak akan pernah bisa sama."

Bayangan hitam itu kembali muncul dalam otak Regan, separuhnya menyakitkan. Sosok berandal so kuat yang Kia kenal ternyata serapuh ini, sosok kasar yang Kia kenal ternyata semenyakitkan ini. Tanpa Kia ketahui ada bagian dari diri Regan yang sudah lama remuk.

"Gue akan tanggung jawab, jangan ada yang namanya anak haram."

Belum sempat menjawab ucapan Regan, Kia merasakan kepalanya pusing. Keringat dingin bercucuran keluar, pun dengan wajahnya yang pucat pasi, pandangan gadis itu buram sebelum semuanya terlihat gelap.

...

"Kenapa lo sebajingan ini?"

Regan menoleh kesebelahnya. Disana ada Gama yang sedang menatapnya tajam, seolah ada sesuatu yang siap ditembakan. "Jadi lo beneran hamilin Kia?" Pelan, dia bertanya.

UKS cukup sepi pagi ini,.hanya ada Gama, Regan dan Kia. Kia belum sadarkan diri saat pingsan di lapangan tadi, dan benar saja apa yang Regan khawatirkan Kia pingsan, kondisinya jauh dari kata baik.

"Obatin dulu wajah lo, jangan banyak tanya ck!" Jawab Regan, matanya terus fokus menatap Kia, berharap gadis itu segera membuka matanya.

Sementara Gama sedang mengobati dirinya sendiri sehabis baku hantam dengan teman kelas. Wajahnya babak belur, Gama tidak suka ada yang mengusiknya, jadi siapapun yang berani mengganggu miliknya— orang itu akan di cari sampai habis.

Termasuk Shaka— laki-laki itu berani mengusik milik Gama. Kemarin malam Gama tahu Bella— gadis yang saat ini menjadi pacarnya malah pergi berdua dengan Shaka, tentu hal itu tidak membuat Gama diam.

Tadi pagi saat koridor sedang sepi, Gama tidak segan-segan menghabisi Gama sampai babak belur. Dan karena Gama anak silat, laki-laki itu tentu lebih lihai berkelahi, membuat kini wajah Gama babak belur.

Ditengah mengusapkan alkohol kewajahnya, Gama masih bertanya pada Regan. "Kia beneran hamil anak lo?"

Namun Regan hanya diam, padahal anak Athalaric sudah tahu tentang vidio Kia yang membeli tespack untuk memastikan kehamilan anak Regan. Tentang hari dimalam ulang tahun Felic, Regan bertindak hal gila kepada Kia dibawah kendali alkohol.

"Kenapa lo sebajingan ini, Re?" Gama mengambil napas, menyimpan kembali obat merah di kotak P3K. "Apa karena lo benci Samudra, makanya lo jadiin dia hamil supaya lo puas?"



BERSAMBUNG....

Regan KanagaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang