Chapter 6 : Awal dari kehancuran

201 28 11
                                        

Manusia adalah tempat dari luka. Aku hanya makhluk biasa yang bisa merasakan tentang sakitnya patah dan kecewa.

••••


TAK ada yang bisa mendeskripsikan sehancur apa hidup Kia sekarang. Hingga ketika pagi hari tiba gadis itu masih menangis, memeluk selimut untuk menutup tubuh polosnya yang tak terbalut apa-apa. Sementara Regan - laki-laki itu masih tertidur seolah tidak ada kejadian apapun semalam.

"Kenapa lo sebrengsek ini, Re?" Pelan, dia bertanya. Mata sedunya menatap Regan dengan tatapan penuh kebencian. "Gue hancur, lo udah rusak semuanya"

Kiara menjerit. Mencengkram selimut dengan kuat untuk menyalurkan kekecewaannya. "Gue udah rusak"

Banyak ketakutan-ketakutan yang muncul dibenak Kia, dia takut bagaimana kalau sampai dirinya harus mengandung diusia yang masih sangat muda, bagaimana hubungan dia dengan Samudra setelah kejadian ini, bagaimana dengan sekolahnya, masa depannya, dan juga bagaimana jika mama tahu soal hal ini.

Regan membuka mata, tampaklah Kia yang sedang menangis disebelahnya. Kesadaran laki-laki itu terenggut tadi malam akibat alkohol yang terlalu banyak ia konsumsi, sampai-sampai harus merusak kesucian gadis yang baru ia kenal beberapa hari ini.

"Kia bilang sama gue, semalem itu gue gak ngapa-ngapain lo kan?" Tanya laki-laki itu tanpa dosa, masih tidak percaya perbuatan bejad yang sudah dia lakukan.

Kia tak berani menatapnya, terlihat ada ketakutan saat melihat Regan bangkit hanya untuk mendekatinya.

"Kia jawab gue, apa semalem gue ngelakuin itu?!" Laki-laki itu menyentuh tangan Kia, namun gadis itu menepisnya dengan kasar.

"Gue minta maaf" Perlahan dia semakin mendekat, memaksa Kia untuk berada dalam dekapannya. "Maaf sama tindakan bejad yang udah gue lakuin, gue gak sadar Ki"

Kia mendorong tubuh laki-laki dengan emosi yang memuncak, dia melemparkan vas bunga yang ada disekitarnya hanya untuk melukai Regan.

"Lo harus rasain gimana hancurnya gue tadi malem, saat laki-laki yang baru gue kenal seenaknya ngambil kesucian gue!"

Prank!

Vas bunga itu hancur tak berbentuk kelantai setelah mengenai wajah Regan, darah mengalir dari hidung laki-laki itu. "Gue gak sadar sama semua, Ki"

"AGHHHH GUE BENCI LO REGAN, GUE BENCI LAKI-LAKI BRENGSEK KAYA LO!!" Kia menjerit, melemparkan sesuatu yang ada disekitarnya kearah Regan, sementara laki-laki itu hanya diam, mengepalkan tangannya dengan kuat.

Brengsek. Brengsek. Brengsek.

Regan menonjok dirinya sendiri. Marah, kecewa dan menyesal atas tindakan bejad yang sudah ia lakukan tadi malam terhadap gadis yang seharusnya dia jaga. "Gue minta maaf, gue salah, maaf gue udah renggut kesucian yang selama ini lo jaga"

Tapi maaf bukan obat yang bisa membuat keadaan menjadi lebih baik kan? Maaf cuma sebuah garis afirmasi ketika kerusakan tidak bisa diperbaiki.

"Maaf"

Untuk pertama kalinya Regan menangis, menjambak rambutnya sembari membenturkan kepalanya ke tembok berulang kali, berharap hal yang ia lakukan semalam adalah mimpi.

"GUE UDAH RUSAK" Kia menangis, tatapan marah ia tunjukan pada laki-laki itu. "Gimana sama hidup gue kedepannya kalau gue hamil, gimana sama Samudra kalau tahu soal ini"

Regan mendekat kearah gadis itu, menggenggam tangannya dengan erat. "Gue akan tanggung jawab" Ucapnya tanpa ada keraguan sedikitpun.

"Gue akan tanggung jawab kalau sampai lo hamil anak gue. Gue akan nikahin lo kalau itu terjadi, Ki" tutur laki-laki itu sembari terisak, didetik selanjutnya dia memeluk tubuh Kia dengan erat seolah tak ingin membiarkan Kiara Anila terluka lagi.

Regan KanagaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang