Karena sejak awal semesta pernah berucap : aku dan kamu adalah kesalahan.
• REGAN KANGARA •
...
Mungkin seumur hidupnya Regan selalu tahu cara memposisikan diri.
Sebagai anak laki-laki yang selalu tidak dipedulikan, sebagai anak yang selalu disalahkan- Regan pelan-pelan mengerti bahwa selama ini yang dia butuhkan adalah seseorang. Tapi dalam hidupnya Regan mencari apa itu ketenangan, entah itu di club malam, arena balapan, sampai merenggut sesuatu yang memang bukan ditakdirkan miliknya, dalam hidupnya Regan mencari satu alasan untuk tetap bertahan.
"Kia bisa langsung pulang besok, kondisi nya sudah membaik tetapi jangan sampai Kia banyak pikiran."
Regan menghela napas lega, setelah menemui dokter, laki-laki itu tidak langsung masuk kedalam ruangan Kia dirawat tetapi langkahnya berjalan menuju ruangan nomer 67 di seberang sana, tempat seseorang dirawat, mungkin ini adalah minggu ke 2 Regan tidak bertemu dengan Samudra.
Ada hal yang harus Regan tahan diudara, satu hal yang paling laki-laki itu benci didunia ini- ketika Papa dan Mama selalu merendahan dan membanding-bandingkan dia dengan Samudra, jadi saat tangannya ingin membuka pintu ruangan Samudra dirawat, Regan memilih mundur- tapi ia kembali berbalik saat suara seseorang dibelakang yang begitu familiar terdengar di telinganya.
Samudra, berdiri tak jauh dihadapannya.
"Kenapa?" dengan nada paling menyakitkan sedunia, dia bertanya, tapi tatapan kosongnya terlihat kentara, seolah ada hal yang sebentar lagi akan diledakan.
"Kenapa lo brengsek, Re?"
Penuh penekanan, seolah Regan sudah berbuat kesalahan yang fatal.
"Jadi apa yang gue tadi denger, itu suara lo?" Suara serak dan tatapan penuh amarah bukan perpaduan yang baik, laki-laki itu mendekat kearah Regan, jarak keduanya habis.
"Gue harap yang tadi gue denger itu salah, Re. Bilang sama gue itu bukan suara lo, kan?" Kali ini Sam mencoba tenang, meskipun seluruh tubuh nya gemetar setangah mati.
Regan mengalihkan pandang kesekitar, mungkin sengaja agar pandangannya tidak beradu dengan tatapan marah Samudra, napasnya naik turun tak beraturan, seolah bingung apa yang harus dia katakan.
"JAWAB ANJING!"
"Jauhin pacar gue." Hal yang ditakutkan akhirnya meledak juga, amarah laki-laki itu keluar saat tangan besarnya hampir melayang kearah Regan, tapi Regan menghentikannya dengan cepat.
Mengalah.
Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun Regan selalu mengalah dari Samudra-
Apapun selalu saja Regan yang mengalah, tapi untuk kali ini laki-laki itu tidak akan diam saja.
"Jauhin pacar gue, lo gak ada hak buat deket-deket sama dia, Re. Lo cuma bakal ngasih pengaruh buruk buat, Kia." Perkataan dingin dan tatapan tajam itu membuat Regan naik pitam, tangannya terkepal kuat, hampir dilayangkan kearah Samudra kalau saja ini bukan rumah sakit.
"Bisakan lo jauhin, Kia?"
Sedetik, Regan menghela napas perlahan, meredam amarahnya. "Apa salah gue bantuin Kia? Lo harus tau Sam, dia abis pingsan disekolah dan gue bantu dia bawa kerumah sakit." Nada laki-laki itu masih terdengar tenang.
"Disini gue nolong dia, bukan mau rebut dia dari lo?" Ada sedikit ketakutan di wajah pucat Samudra, takut kalau-kalau Kia akan jatuh cinta pada Regan.
Samudra belum juga reda amarahnya, tangannya masih terkepal kuat. "Lo salah karena lo mau rebut Kia dari gue kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Regan Kanagara
Novela Juvenil"Setelah gue berusaha pertahanin hubungan ini, lo malah dengan brengseknya ngelakuin hal menjijikan gitu sama cowo lain" Kiara tak bersuara, hanya ada tangisan Samudra yang menjadi saksi bisu atas menyakitkannya pertemuan ini. "Gue minta maaf" dise...
