Kupikir dia adalah tempat pulang, ternyata hanya tempat luka. Kau masuk dalam duniaku membawa belati yang tajam lalu menusuk.
•REGAN KANAGARA•
.
PERGI.
Laki-laki itu memutuskan untuk pergi ditengah masalah yang ada dihidupnya. Regan butuh ketenangan, dia butuh tempat untuk menyalurkan semua rasa sakitnya, tentang Kia, Papa, mama dan kebahagiaan yang tidak pernah ada dihidupnya.
Sampai kapan?
Bukan club malam atau tempat tawuran yang Regan kunjungi untuk menenangkan perasaannya, tapi ditempat ini. Ditempat yang hanya ada hamparan pasir luas, permukaan air biru-jauh dari dinamika Jakarta.
"Gue hancur"
Dunia terlalu berisik. Regan bukan Samudra selalu menjadi nomer satu dihati Papa. Regan bukan Samudra yang selalu menjadi favorit Mama. Regan hanya manusia biasa yang juga mempunyai perasaan, tapi kenapa dengan seenaknya Papa berucap dia adalah anak haram?
Sakit.
"JANGAN PERNAH BERANI MUNCUL DIHADAPAN KELUARGA INI-"
Air laut terasa dingin saat bersentuhan langsung dengan kakinya yang telanjang, sementara ombak berkali-kali menghamtam ke permukaan, menabrak batu karang. Regan ingin sekuat itu, andai saja dia bisa sekuat batu karang, ketika ombak menghamtamnya berkali-kali tapi dia tetap terlihat tenang.
"Mama cuma takut Samudra kenapa-napa, papa tahu kan cuma dia yang bisa buat kita bangga, cuma dia harapan kita satu-satunya!"
Regan tidak terlalu menyukai pantai, suasananya yang berisik, penuh air asin dingin dan keramain orang yang tidak perlu. Tapi pantai yang satu ini terasa kosong, entah karena sudah tengah malam atau mungkin ini cara semesta untuk memberikan dia ruang agar beristirahat dari lelah.
Sejenak, beristirahat dari hal-hal yang membuatnya patah.
"DASAR ANAK HARAM!"
Permukaan luas berwarna biru itu juga tenang, sangat kontras dengan isi kepalanya yang keterlaluan berantakan. Sekelebat bayangan
dan ucapan menyakitkan itu terus menghantam otaknya berkali-kali tanpa kendali, sampai hancur tak tersisa. Rasanya kecewa, putus asa. Seperti tidak ada arah akan kemana selanjutnya. Keterlaluan menyakitkan.
"GUE CAPEE! KAPAN MEREKA SAYANG SAMA GUE!" Regan berteriak lantang ke permukaan, ia mengambil napas sejenak. "APA MEREKA PERNAH NGANGGEP GUE ADA HAH?!"
Didetik selanjutnya laki-laki itu tertawa bodoh. Mungkin menertawakan hidupnya yang sudah seliar ini. "Anak haram, ya?"
Kakinya terus berjalan kepermukaan pantai, tidak peduli dengan dingin yang menusuk tulangnya, tetesan air mata jatuh,-
"Gue gak akan biarin dia lahir tanpa ayah, jangan sampai ada yang namanya anak haram, dia gak bersalah."
Rasanya sakit, tapi kurva senyum dibibirnya naik kala membayangkan Kia yang sedang mengandung anaknya sendiri, meskipun ia tidak tahu akan seberapa banyak lagi luka yang didapat.
....
"Lo beneran gak kenapa-napa?" Alis Samudra terangkat keatas, heran dengan sikap Kia sepanjang tadi bulak-balik menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Samudra berpikir mungkin Kia masuk angin, pasalnya saat menuju kesini hujan deras turun mengguyur Jakarta.
Samudra yang masih kelihatan pucat itu bangkit, memberikan minyak kayu putih pada Kia yang kelihatan sangat lelah. Menjenguk orang sakit malah dia yang tumbang seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regan Kanagara
Roman pour Adolescents"Setelah gue berusaha pertahanin hubungan ini, lo malah dengan brengseknya ngelakuin hal menjijikan gitu sama cowo lain" Kiara tak bersuara, hanya ada tangisan Samudra yang menjadi saksi bisu atas menyakitkannya pertemuan ini. "Gue minta maaf" dise...
