•Sunday•
Raffa menuruni tangga setelah dia selesai membasuh dirinya, dia melihat Andra sedang duduk dimeja makan memakan sarapannya. Raffa langsung bergegas menuju kesana, menarik kursinya dan duduk.
Raffa menatap Andra dengan sinis, tumben nih anak diem aja? Kesurupan? Biasanya kalo ada Raffa langsung ngucap selamat pagi.
Raffa tak mempersalahkannya, Raffa hanya mengambil roti dan mulai memakannya. Nathalie kembali dari dapur dan terheran, ada apa dengan keheningan ini?
"Kalian ngapain diem dieman? Ga kaya biasanya. Kalian lagi berantem?" Tanya Nathalie
"Berantem? Ngapain berantem sama orang kayak dia, aku juga biasanya emang diem kok!" Jawab Raffa. Sedangkan Andra hanya diam
"Andra, kamu kenapa sayang?" Tanya Nathalie
"Gapap--"
"Sakit gigi dia mah, makanya gabisa ngomong." Ucap Raffa memotong pembicaraan Andra.
Raffa langsung berdiri dan pergi keluar.
"Raffa mau kemana?" Tanya Nathalie, ada apa ini sebenarnya? Mereka berdua bertengkar?
Raffa hanya diam dan keluar, tidak menjawab nya. Dia hanya ingin sendiri.
Sedangkan Andra masih tenang memakan sarapannya.
.
.
.
"Sialan! Ngapain gw kesel sih?! Emang si Andra harus banget gitu diemin gw?! Yang gw maksud tuh... Harus banget gitu ya?"
Raffa sekarang berada di taman belakang dan sedang duduk di sebuah ayunan yang berada di taman belakang rumah mereka.
"Raffa"
"Cih" Raffa mengerti siapa orang yang memanggil nya. Tentu saja si Andra.
"Kamu sarapan cuma makan roti doang, kamu kenyang?"
"Perut gue kecil ukurannya. Gak kayak lo" Ucap Raffa tanpa menoleh ke arah Andra sama sekali
Andra menghela nafasnya sabar melihat tingkah adik tirinya ini, Andra berjalan mendekat menuju Raffa dan ikut duduk di ayunan.
"Marah?" Tanya Andra
"... Ngapain gue marah"
"Bener kamu gak marah?"
"Ya lagian ngapain gue marah sih?! Emang lo ngapain sampe buat gue marah?"
"Kan tadi kakak diemin kamu, maaf.. Kakak lagi banyak pikiran" Andra menunduk sedih, melihat Andra yang seperti itu tiba tiba Raffa merasa bersalah. Namun yah... Sifat Raffa itu.. Gengsi!
"G-gak perlu minta maaf! Gue gak marah."
Andra tersenyum hangat "Syukurlah kalo gitu"
Setelah itu keheningan melanda mereka berdua, Raffa hanya diam dan Andra juga diam. Mereka berdua sama sama tidak tau harus membicarakan hal apa.
"L-lo kalo... Ada masalah, lo boleh cerita ke gw" Ucap Raffa sedikit memerah karena malu. Tidak biasanya dia begitu care pada seseorang.
Andra sedikit terkejut lalu kemudian terkekeh "Iya"
"J-jadi... Kenapa lo murung?" Tanya Raffa
Andra menghela nafasnya "Kalo semisal kakak bilang... Kakak suka sama kamu, reaksi kamu gimana?"
"Oh? Maksud nya lo lagi suka sama seseorang?"
Andra mengangguk
"Yaelah masalah cinta. Emang kenapa? Dia gak nganggep lo? Dia gak bales cinta lo?" Tanya Raffa secara beruntun
"Jawab dulu pertanyaan kakak"
"Pertanyaan? Oh... Kalo semisal lo suka gw? Ya kan lo suka gw sebagai adik lo"
Andra menggeleng "Maksud kakak lebih dari itu"
"Hah?" Raffa tidak mengerti apa yang Andra maksud, kenapa dia menjadi sangat aneh akhir akhir ini.
"Kakak suka sama kamu Raf. Lebih dari saudara"
Raffa terkejut, badannya tiba tiba tidak bisa digerakkan. Kakaknya? Seorang... Gay?
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Brother? [End]
RandomSeorang saudara yang berbeda ibu. Raffa dan Keandra adalah seorang saudara tiri. Raffa awalnya tidak pernah mau menerima keberadaan ibu tirinya dan kakak tirinya. Namun... Siapa sangka, lama kelamaan Raffa memiliki perasaan terhadap kakak tirinya. K...
![Just Brother? [End]](https://img.wattpad.com/cover/324675971-64-k719190.jpg)