Sanica yang tengah fokus meraba permukaan tanah yang kotor untuk mencari jepit rambut milik sahabatnya tidak memedulikan minimnya pencahayaan yang membuatnya sulit melihat.
BRUK!
Gadis itu menoleh tatkala telinganya menangkap sebuah suara benda jatuh. Karena penasaran, ia mencoba mencari sesuatu yang jatuh itu. Bukan benda yang ia temukan, melainkan tubuh seorang gadis yang bermandi darah.
"AAAAAAAA!!"
gadis itu berteriak kencang dan mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar hebat dan raut wajah yang penuh kepanikan serta rasa takut.
"Ada apa ini?"
Sanica menoleh saat seseorang menghampirinya. Ia menunjuk dengan jari yang gemetar ke arah semak tanpa sempat melihat siapa yang datang.
Rupanya hampir seluruh orang yang tadi berada di aula kini berbondong-bondong menghampiri karena suara teriakannya. Sanica sadar, laki-laki yang kini berjalan memeriksa adalah Ansel. Laki-laki menutup kedua mulutnya, terlalu terkejut hingga tidak bisa bicara.
"Ada apa, Ansel?" tanya Verron dengan wajah penasaran.
"Cepat panggil ambulan!" seru Ansel berteriak. Salah satu dari mereka segera menelpon ambulan tanpa bertanya lebih lanjut. Laki-laki itu menatap Verron dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Ver. L-lo harus liat ini,"
Verron berjalan mendekati Ansel, melihat sendiri apa yang terjadi.
"LIANA!"
Semua orang yang penasaran apa yang terjadi kini menoleh ke belakang, tempat seseorang yang berlari dengan wajah berlinang air mata. Ailette, gadis itu berlari dengan mengangkat ujung gaun untuk mempermudahnya tanpa memedulikan pandangan orang-orang.
"Ailie!" seru Sanica yang langsung berlari memeluk Ailette.
"Di-di mana Liana? Di mana dia!" tanya Ailette dengan nada berteriak sambil memeluk Sanica.
"Aliette Kathleen Faheem. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi," pinta Verron dengan nada datar dan tangan yang terkepal di samping tubuhnya.
"Ta-tadi Liana ...."
Ailette mencoba menceritakan apa yang terjadi. Saat ia diajak oleh gadis itu untuk pergi ke rooftop karena ingin melihat pemandangan dari atas, lalu pertengkaran mereka yang bermula dari Liana yang mengungkapkan kebencian padanya dan berakhir dengan Liana yang memutuskan untuk lompat.
Bunyi sirine ambulan terdengar, beberapa petugas medis menghampiri untuk memeriksa jasad tersebut dan para polisi yang datang meminta untuk mundur dan memberi mereka ruang untuk memeriksa tempat kejadian.
Ailette dan Sanica yang tampak syok diberi pelayanan khusus untuk menenangkan diri karena mereka secara tidak langsung terlibat dalam kasus itu.
"Ailette Kathleen. Gue harap yang lo ceritakan tadi adalah benar, tapi sayangnya gue kenal Liana sejak lama," ujar Verron berbisik di telinganya kemudian pergi menjauh. Mendengar perkataan laki-laki itu yang terdengar bagai ancaman membuat bulu kuduknya berdiri.
Ailette terdiam, tubuhnya bergetar hebat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Napasnya naik-turun dan jantungnya berdetak cepat. Dalam dirinya ia merasa takut, tapi di sisi lain merasa lega. Kelegaan yang muncul karena dirinya berhasil menyingkirkan orang yang akan merebut miliknya.
"Ailie, kamu baik-baik saja?" tanya Sanica menyentuh pundanya dengan raut wajah khawatir.
Gadis itu mengangkat pandangan, beradu pandang dengan iris coklat Sanica.
"Sanica," panggil Ailette pelan.
Gadis itu mendekatkan tubuhnya ."Iya Ailie, katakan."
"Ailie lelah, apa Ailie boleh pulang sekarang?" tanya Ailette.
"Sebentar, akan kutanyakan."
Sanica mendekati Keisha dan Khai yang saat ini sedang diinterogasi oleh beberapa polisi kemudian kembali padanya.
"Boleh, besok mereka akan memanggil kita untuk ditanya. Ailie pulang dengan siapa?"
"Biar gue aja yang nganter," tawar Ansel mendekati mereka.
Sanica mengangguk. "Titip Ailie ya, Ansel."
Laki-laki itu mengangguk, mengajak Ailette ke parkirann tempar mobil milinya dan mengantarnya pulang. Dalam perjalanan, ia tidak bertanya apa-apa, membiarkan suasana hening menyelimuti perjalanan mereka.
"Terima kasih udah nganter Ailie pulang, Ansel," ucap Ailtte dari balik kaca mobil.
Ansel mengangguk. "Lebih baik malam ini lo istirahat, besok pasti lo butuh banyak tenaga buat diinterogasi sama polisi. Gue balik, ya," pamit Ansel yang sudah melajukan mobilnya tanpa mendengar balasan darinya.
Gadis itu segera masuk ke dalam, sepi seperti biasa. Ayahnya belum pulang dan mungkin Bi Maryam, pembantunya, sudah pulang, meninggalkannya sendiri di rumah besar itu.
Ia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya yang bercat biru muda. Gadis itu menyentuh dadanya yang masih berdetak cepat. Sedetik kemudian ia tertawa keras dengan memeluk dirinya sendiri. Pandangannya terhenti pada cermin besar yang berada tak jauh dari tempatnya kini.
"Sekarang, Ailie aman. Tidak akan ada lagi yang membuat Ailie khawatir," gumam gadis itu dengan suara tawa yang memenuhi kamarnya.
༻༺ ༻༺ ༻༺
"Walau udah lewat, tapi kejadian itu masih teringat jelas olehku," ujar Sancia bergidik ngeri. Ailette hanya mengangguk pelan tanpa mengatakan apa-apa. Mereka baru saja keluar dari ruangan kepsek yang digunakan oleh polisi untuk menginterogasi beberapa orang yang terlibat kejadian semalam, termasuk mereka berdua.
Sanica meraih tangan Ailette, menggenggamnya dengan erat membuat gadis itu menoleh. "Jangan khawatir, semua pasti akan berlalu."
Ailette tersenyum, menganggap bahwa perkataannya itu ada benarnya.
Itu benar, semua pasti akan berlalu. Dan tidak akan ada yang ingat tentang kejadian semalam terlalu lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINE
Mystery / Thriller"Semua perhatian hanya akan tertuju padaku!" Ailette Kathleen. Siapa yang tidak mengenalnya. Siswi yang berhasil menarik perhatian warga sekolah karena kepintaran serta perilaku dan sikapnya yang ramah dan manis kepada siapa pun. Tidak ada yang meny...
