"Ailette!"
Merasa dirinya ada yang memanggil, gadis itu menoleh. Menemukan Sanica yang berada tak jauh darinya, terlihat bersama seorang laki-laki yang tidak ia kenali.
Ia memerhatikan Sanica dalam diam. Gadis itu terlihat seperti menolak sesuatu, lalu berlari menghampirinya.
"Yang tadi itu siapa?" tanya Ailette masih memandang sosok laki-laki itu yang hanya tampak dari belakang.
"Ah itu ...." Sanica menyentuh tengkuknya, tampak ragu mengatakan padanya. "Sejujurnya aku tidak terlalu mengenalnya."
"Tida saling mengenal?" tanya Ailette memicingkan mata. "Lalu sedang apa kalian?"
"Dia Leo dari IPS 3-3. Memberiku sebuah coklat, tapi aku menolaknya," terang Sanica tanpa menatap Ailette.
"Padahal tidak saling mengenal, tapi kakak kelas itu memberi Sanica coklat? Wah, jangan-jangan ... Astaga Sanica, pengaruh Sanica sangat kuat!"
"Hentikan, Ailie!" pinta Sanica dengan sedikit berteriak, wajahnya tampak memerah.
"Pengaruh apa nih?"
Kedua gadis itu menoleh saat ada seseorang yang ikut dalam pembicaraan mereka. Wajah Sanica yang semula masam kini berubah berseri.
"Juri!" pekik Sanica tanpa sadar. "Sedang apa di sini?"
"Tadi dimintai tolong guru, baru selesai. Niatnya mau ngajak ke kantin bareng, tapi ...." Juri memutus kalimatnya, melirik Ailette yang justru menatapnya terang-terangan.
Sanica menoleh kepada Ailette. "Bagaimana kalau kita ke kantin bareng, tidak masalahkan, Ailie?" ajaknya.
Ailette tersenyum, kemudian mengangguk. "Tidak masalah dong. Temen Sanica itu temen Ailie juga, benarkan Sanica?"
Sanica sedikit terkejut dengan kalimat Ailette, ia mengangguk patah-patah sambil melirik Juri yang juga merasa tersinggung.
"Ayo ke kantin!" ajak Ailette menggandeng lengan Sanica dan Juri, kedua orang itu hanya pasrah di seret olehnya.
Setibanya mereka di kantin, Sanica merasa jika tatapan semua tertuju padanya, membuatnya sedikit risih.
"Ailie, apa hanya perasaanku saja atau semua orang di sini menatap kita?" tanya Sanica berbisik pelan.
Ailette tertawa. "Mereka menatapmu, bukan kita."
"Kenapa aku?" tanya Sanica menatap Ailette.
Ailette tampak terdiam sesaat kemudian kembali tersenyum. "Karena Sanica terlihat berbeda."
Sanica memilih untuk diam, merasa tidak percaya dengan perkataan Ailette. Juri menawarkan untuk memesankan makanan mereka, dengan senang hati Ailette memesan. Sementara Sanica awalnya menolak, tapi Juri tetap memaksa dan kini tersisa mereka berdua.
"Hei, Hei, Sanica. Ailie penasaran," celetuk Ailette yang tersenyum jahil padanya.
"Apa?"
"Tentang tadi. Apa Sanica menerima coklatnya?"
"Tentu saja aku menolak, mana mungkin aku menerima," jelas Sanica.
"Menerima apa?" tanya Juri yang tiba-tiba muncul dengan membawa nampan berisi pesanan mereka.
"Kamu menerima apa, Sanica?" tanya Juri mengulang kembali pertanyaannya.
"Tadi Ailie melihat Sanica bersama laki-laki, katanya ia diberi coklat olehnya," jawab Ailette tersenyum lebar. "Bukannya itu artinya laki-laki itu menyukai Sanica?"
Tidak ada yang menyahut, Sanica dan Juri saling diam. Merasa keheningan yang aneh, gadis itu menatap keduanya bingung. "Apa Ailie salah bicara? Kenapa kalian diam?"
Juri tertawa tertahan, menggeleng pelan. "Tidak ada, aku hanya teringat sesuatu." Laki-laki itu kemudian bangkit, padahal nasi goreng pesanannya masih tersisa. "Aku pergi duluan ya, Sanica, Ailette."
Sanica memandang punggung belakang Juri yang tampak menjauh, lalu menghilang dari balik tembok. Ailette mengikuti pandangan, ia tersenyum tipis.
"Kenapa ya Juri pergi, padahal makanannya belum habis," ujar Ailette membuat Sanica menoleh.
"Seperti ada yang perlu ia kerjakan," jawab Sanica tersenyum tipis.
"Mungkin, atau ...."
"Atau apa?" tanya Sanica menatap penasaran.
"Mungkin saja ada yang ingin ia temui, temen perempuan mungkin," balas Ailette mengangkat bahunya acuh.
Tanpa sadar Sanica menjatuhkan sendok yang dipengangnya, kemudian tampak salah tingkah.
"Ada apa, Sanica?" tanya Ailette memiringkan kepala.
Sanica buru-buru menggeleng. "Tidak apa-apa, Ailie."
༻༺ ༻༺ ༻༺
"Ailette?"
Gadis itu menoleh, lagi-lagi ia merasa deja vu.
"Iya, ada apa?" tanyanya dengan tersenyum ramah.
Seorang siswa berdiri menghalanginya, tampak kelabakan karena ia tatapannya. Ia melirik badge name yang ada di dada kanannya. Lorenzo.
"Maaf, ada apa ya?" tanya Ailette kembali mengulang pertanyaannya, kali ini dengan setengah kesabaran.
"Boleh nitip gak?" tanyanya membuat Ailette mengernyitkan dahi bingung.
"Nitip?"
Ia mengangguk, menyodorkan sekotak coklat berukuran sedang padanya. "Ini, boleh minta tolong kasih ke Sanica?"
Sial, perasaan yang menyebalkan kembali lagi.
Ailette menanggapinya dengan senyuman di wajah. "Maaf ya tidak bisa, Ailie bukan kurir yang bisa diminta tolong," tolak Ailette mengibaskan rambutnya, berbalik meninggalkan Lorenzo yang terdiam membeku, terkejut karena penolakannya barusan.
Ailette mengepalkan jemarinya. Rasa-rasa harga dirinya mulai dianggap remeh dan ia tidak terima itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINE
Mystery / Thriller"Semua perhatian hanya akan tertuju padaku!" Ailette Kathleen. Siapa yang tidak mengenalnya. Siswi yang berhasil menarik perhatian warga sekolah karena kepintaran serta perilaku dan sikapnya yang ramah dan manis kepada siapa pun. Tidak ada yang meny...
