"...Ngan ... Lakukan, jangan ...."
Ailette terus menerus menggumamkan kata-kata yang sama dengan pandangan kosong.
Lampu kamar yanh dimatikan serta cahaya yang menyelinap masuk dari gorden menjadi satu-satunya penerangan di kamarnya. Jam yang sudah menunjukkan pagi hari, tapi gadis itu belum juga menutup matanya sejak semalam ataupun beranjak dari tempat. Ia menggenggam boneka beruang coklat dan menusuk-nusuknya dengan jarum sambil terus bergumam.
Dering ponsel miliknya membuat perhatiannya teralihkan, ia tertegun sesaat setelah melirik nama yang tertera pada layar ponselnya.
Dengan ragu gadis itu mengangkat telepon tersebut. "Hallo?"
"Hei, Tuan Putri. Gak ada kerjaankan selain rebahan?" sapa Ansel dari seberang sana.
"Ansel, saat ini Ailie sedang tidak ingin bercanda. Jadi tolong langsung to the point," pinta Ailette dengan sisa kesabarannya.
Ansel menanggapinya dengan tertawa lebar, seakan menguji kesabarannya. "Tuan Putri mau ikut? Gue sama Verron lagi di salah satu mal deket rumah lo nih sekarang. Ayo sini."
Verron ....
"Gak dulu ya, Ansel. Ailie takut ganggu, next time-"
"Asal lo tau, justru ni anak yang nyuruh gue ngajak lo. Udahlah, gak usah ngerasa gak enak lagi. Mending sini," ajak Ansel setengah memaksa.
Ailette terdiam sesaat, sedikit dirinya menginginkan untuk ikut. Tapi di sisi lain ia tidak punya keberanian berhadapan langsung dengan Verron.
"Maaf ya Ansel-"
"Yakin lo nolak? Coba lu liat jendela kamar lo."
Jendela kamar?
Dengan patuh gadis itu beranjak dari ranjang dan menatap keluar jendela kamarnya. Ia tampak terkejut saat melihat dua orang yang tidak asing lagi berdiri di bawah, salah satu dari dua orang itu melambaikan tangan padanya.
"Tunggu apa lagi? Tuan Putri yakin menolak dua Pangeran yang udah dateng menjemput ini?" tanya Ansel dengan nada menggodanya.
"10 menit," jawab Ailette menutup panggila dan menyibak kembali gorden. Ia bergegas mengambil handuk dan bersiap karena tidak ingin membuat mereka menunggu lebih lama.
"Sudahkan?" tanya Ansel setelah panggilan terputus dengan melirik ke arah Verron, sementara laki-laki membuang muka acuh.
"Traktir gue buat balasan ini ya," pinta Ansel mengangkat bahunya acuh.
Verron hanya berdeham sebagai balasan. Ansel tidak melanjutkan pembicaraan membuat keheningan menyelimuti mereka sampai pintu rumah terbuka memperlihatkan seorang gadis remaja.
Ansel tersenyum bangga karena berhasil mengajaknya, sementara Verron hanya meliriknya sekilas. Ailette tampak salah tingkah karena lirikannya tapi ia mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin.
"Sudahkan? Ayo," ajak Ailette.
Ketiganya memiliki untuk berjalan kaki karena letak mal dengan rumah Ailette terbilang sangat dekat. Jika Ansel dan Ailette sibuk memperdebat hal kecil, Verron hanya diak menyimak dengan sesekali menyuri pandang dengan Ailette.
"Mau ke mana dulu?" tanya Ailette saat mereka tiba di mal.
"Ayo ke time zone!" ajak Ansel merangkul mereka berdua, membawanya ke tempat permainan.
Ansel pergi sebentar untuk mengisi kartu, meninggalkan Ailette bersama Verron dalam kecanggungan. Gadis itu ingin mengajaknya bicara, tapi rasa takut masih menghinggapinya.
"Ansel yang maksa ngajak lo padahal gue udah nolak, lo gak keganggukan?" tanya Verron membuatnya terkejut karena tiba-tiba mengajaknya bicara.
"Gak kok! Gak ganggu sama sekali, kebetulan Ailie memang bosen!" jawab Ailette tertawa hambar.
Verron ber'oh' panjang, percakapan mereka pun berakhir. Untungnya Ansel cepat kembali, mengusir keheningan mereka.
"Mau main apa dulu?" tanya Ansel.
"Terserah," jawab Ailette dan Verron bersamaan, mereka sendiri justru terkejut.
Ansel tersenyum jahil melihat Verron dan Ailette yang tampak salah tingkah.
"Kalau begitu, kita main dari sana," ajak Ansel menunjuk sebuah permainan basket yang berada di ujung.
Keduanya setuju. Orang yang pertama memainkan adalah Ailette, lalu Verron dan Ansel mendapat giliran terakhir.
Ailette mengerutkan wajah, tidak terima karena kalah dari kedua orang itu, ia hanya berhasil memasukkan bola tidak hampir setengahnya.
Ansel tertawa, mengajak untuk memainkan permainan selanjutnya.
Setelah hampir satu setengah jam mereka bermain, rasa haus memaksa untuk berhenti sejenak. Ailette mengajak untuk mencari minum sembari berkeliling mal.
Netranya menangkap sesuatu membuat langkah gadis itu berhenti. Kedua laki-laki di belakangnya ikut terhenti, merasa bingung.
"Ada apa?" tanya Ansel mengikuti arah pandang Ailette.
Rupanya, tidak jauh mereka terlihat Sanica tengah tertawa ria bersama laki-laki yang tidak lain dan tidak bukan adalah Juri.
"Gue baru tau kalau temen lo udah punya cowok," celetuk Ansel.
Ailette menggeleng, menolak pernyataannya. "Bukan, dia temennya Sanica."
"Temen ya ...." Ansel menggumamkan pelan kemudian menatap Ailette. "Mau bareng juga?"
"Gak usah, nanti ganggu," tolak Verron membuat kedua orang itu menoleh ke arahnya.
Ansel mengangguk. "Bener juga. Yok lanjut lagi," ajak Ansel kembali merangkul mereka berdua, berjalan menyusuri mal hingga matahari mulai terbenam.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINE
Misteri / Thriller"Semua perhatian hanya akan tertuju padaku!" Ailette Kathleen. Siapa yang tidak mengenalnya. Siswi yang berhasil menarik perhatian warga sekolah karena kepintaran serta perilaku dan sikapnya yang ramah dan manis kepada siapa pun. Tidak ada yang meny...
