"Make-up?" tanya Ailette memiringkan kepala.
Sanica mengangguk. "Iya, maukan mengajariku?"
Ailette tersenyum jahil. "Wah, wah, wah. Ada apa nih, Sanica? Tidak biasanya Sanica meminta Ailie mengajari sesuatu ...."
Sanica tersenyum sipu, tampak salah tingkah karena candaan Ailette. Sementara dirinya terkejut karena tebakannya benar.
"Siapa, Sanica? Siapa?" tanya Ailette mendekat dengan mata membesar penasaran.
"Itu ... Jurusan Bahasa kelas 3-2 ...."
"Astaga, Sanica! Biar Ailie tebak, pasti saat acara Putri Sekolah kamu bersama dengannya?"
Sanica mengangguk pelan dengan senyuman yang masih teruki di wajahnya.
Ailette menggenggam jemari Sanica dengan wajah berbinar. "Tenang saja, Sanica! Ailie akan membantu Sanica! Nanti pulang sekolah kita langsung ke tokonya biar Sanica bisa segera nyoba, ya!"
Sesuai kesepakatan, kini mereka berdua berada di sebuah toko kecantikan langganan Ailette. Bahkan semua pegawai toko menyambutnya ramah.
Ailette langsung membawa Sanica menuju bagian yang pertama, menentukan jenis kulit terlebih dahulu lalu sabun wajah dan perlengkapan lainnya.
Setelah mengelilingi toko selama hampir dua jam, Sanica menemukan yang cocok untuknya dan membawa barang menuju meja kasir. Sembaru menunggu Sanica membayar, Ailette melihat-lihat keluaran terbaru dari brand yang ia gunakan dan mencobanya.
"Itu cocok untukmu, Ailie," ujar Sanica yang muncul di sampingnya. "Kau tidak beli?"
Ailette menggeleng. "Yang sebelumnya belum habis Ailie pakai, nanti saja."
Gadis itu berjalan mendahului Sanica yang masih terpaku pada liptint yang Ailette coba.
"Ailette, bisakah kamu menunggu sebentar?"
Ailette menoleh, kemudian mengangguk. Gadis itu menunggu di depan toko, entah apa yang ingin dilakukan sang sahabat hingga memintanya menunggu.
Ia menaruh mengernyitkan dahi, memperjelas pandangannya. Dirinya tidak salah lihat, orang yang berada di seberang adalah Verron dan Ansel. Ia ingin menghampiri mereka, tapi tidak mempunyai keberanian untuk menampilkan wajahnya. Ailette hanya diam di tempat, memandang kedua laki-laki itu hingga hilang dari pandangannya.
"Ailette?"
Gadis itu mengejapkan mata, panggilan Sanica kembali menyadarkannya.
"Sudah?"
Sanica mengangguk, mereka berdua memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua sebelum kembali ke rumah masing-masing.
༻༺ ༻༺ ༻༺
Ailette mengejapkan matanya beberapa kali, merasa tidak percaya dengan perubahan Sanica yang begitu mengejutkan. Sementara perempuan yang ditatapnya tampak salah tingkah dengan tersenyum malu.
"Apa aku terlalu berlebihan?" tanya Sanica menyentuh tengkuknya.
Ailette menggeleng dengan bersemangat. "Tidak! Ailie hanya terkejut, Sanica tampak sangat berbeda!"
"Ailie terlalu berlebihan, berhenti berkata seperti itu," pinta Sanica sementara Ailette terbawa dibuatnya.
Ia tidak bohong, penampilan Sanica memang sangat berbeda. Yang biasanya tampil biasa tanpa polesan di wajah, kini Sanica tampil dengan sedikit lebih berani.
Saat keduanya berjalan melewati lorong, pandangan semua orang terpaku pada mereka, tepatnya pada Sanica yang terlihat berbeda.
"Jangan menunduk, Sanica," ujar Ailette.
"Ta-tapi aku-"
"Sanica?"
Mereka berdua menoleh ke sumber suara yang berada di belakang mereka. Orang itu adalah Juri, laki-laki yang disukai Sanica.
"Hallo, Sanica. Kau terlihat berbeda," ungkap Juri tersenyum, menampilkan lesung pipitnya.
"Ha-halo, Juri," balas Sanica tampak salah tingkah.
Sementara Ailette, ia kembali merasa jeda vu yang mengesalkan.
Gadis itu mengangkat pandangannya, tersenyum lebar. "Hallo, kamu Juri dari jurusan Bahasa itu, kan?"
Juri yang baru menyadari kehadiran orang ketiga merasa sedikit terkejut, kemudian mengangguk cepat. "Iya benar. Kamu pasti Ailette, Putri Sekolah tahun ini, kan?"
Ailette tertawa kecil. "Kamu kenal aku?"
Juri mengangguk. "Sanica banyak cerita tentangmu." Pandangan laki-laki itu beralih pada Sanica membuat gadis itu tersentak. "Aku suka saat Sanica bercerita tentangmu, wajahnya terlihat begitu bersemangat."
Senyum Ailette sedikit memudar, tapi ia berusaha menahannya agar tetap terlihat.
"Hentikan, Juri!" seru Sanica dengan siara tertahan, wajahnya terlihat merah padam karena malu.
Juri tertawa, suara tawa yang membuat jantung Sanica hampir copot. Laki-laki itu mengusap pelan pucuk kepala Sanica dengan senyuman tipis. "Pulangnya bareng, ya."
Sanica mengangguk patah-patah. Setelah memgatakan itu, Juri pamit untuk kembali ke kelas karena bel masuk hampir berbunyi.
"Astaga Sanica, kau sangat beruntung," bisik Ailette bermaksud menggodanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINE
Mystery / Thriller"Semua perhatian hanya akan tertuju padaku!" Ailette Kathleen. Siapa yang tidak mengenalnya. Siswi yang berhasil menarik perhatian warga sekolah karena kepintaran serta perilaku dan sikapnya yang ramah dan manis kepada siapa pun. Tidak ada yang meny...
