Bab 08 : Ungkapan Kebencian

9 4 0
                                        

Kini murid terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama mereka yang percaya jika Ailette seorang pembunuh, kubu kedua mereka yang masih memercayainya. Walau begitu, Ailette tampak tak ambil pusing. Ia bersikap seakan tidak terjadi apa-apa, bahkan berpikir jika siswi bernama 'Liana' tidak pernah ada.

"Bukankah ia gila? Hanya karena kalah famous dari Liana, dia membunuhnya tanpa rasa bersalah. Bahkan sampai mengarang cerita!" bisik Riana, siswi jurusan sebelah, kepada temannya dengan nada setengah berteriak.

Angela, temannya mengangguk bersemangat. "Bener! Dasar cewek gila, bisa-bisanya dia masih berkeliaran bebas di sekolah ini!"

"Gak heran, bahkan polisi aja sampai menutup kasus itu. Biasalah, orang dalam," jawab Riana berbisik.

"Seperinya kalian asyik sekali bergosip ria, membicarakan Ailie di belakang. Kalian cuma berani di belakang ya, tapi gak berani di depan Ailie," celetuk Ailette yang entah muncul dari mana yang tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka membuat kedua gadis itu terlonjak kaget.

"Ailette!"

Gadis itu tersenyum tipis sementara Riana dan Angela memasang raut wajah penuh kepanikan.

"Ailie tidak mengerti. Padahal para polisi mengatakan jika Liana yang memilih bunuh diri, bukan Ailie, walau memang kami bertengar. Tapi kalian, yang tidak tahu apa-apa, justru memutar balikkan fakta," ujar Ailette menatap mereka dengan tatapan sendu. "Ailie punya salah apa de-"

"Dasar pembunuh gak tau diri!"

Plak!

"Ngaku aja, lo yang dorong Liana, kan! Yang memutarbalikkan fakta itu lo!"

Kinan, siswi dari IPS 3-2, tiba-tiba saja berteriak dan melayangkan tamparan padanya. Kejadian itu membuat semua orang yang berada di kantin terkejut karena keberanian gadis itu menampar dan mencaci Ailette terang-terangan.

Ailette menyentuh pipi kanannya, rasa perih menjalar wajahnya dari bekas tamparan itu.

"Gak usah banyak bertingkah, dasar pembunuh! Jijik banget gue sama lo!" cerca Kinan menunjuk dirinya, raut wajahnya menampilkan segala kebencian.

Keadaan kian memanas, tapi tidak seorang pun yang berani untuk menenangkan Kinan.

Ailette meremas roknya, mati-matian menahan air matanya yang sudah berada di ujung. Ia benci ini. Dirinya menang sangat menyukai menjadi pusat perhatian orang-orang, tapi bukan seperti ini.

"Hentikan, Kinan."

Tidak hanya Kinan, Ailette melirik siapa yang berani menghentikan perempuan pemarah itu.

"Ansel, lo mending diem. Gak usah berlagak pahlawan," ancam Kinan.

"Lo udah kelewatan, Kinan. Gak seharusnya lo bersikap begini," ujar Ansel berdiri menghalangi Ailette dari Kinan.

"Lo siapa nyuruh gue berhenti? Lagian ngapain lo belain si pembunuh itu!"

"Kinan Kusuma, dengerin gue. Ailette bukan pembunuh Liana, walau sulit dipercaya jika dia sendiri yang bunuh diri. Bukan karena pertengkarannya dengan Ailette yang menjadi penyebabnya bunuh diri." Ansel berhenti sejenak, menarik napas panjang. "Prustasi. Polisi menemukan bukti jika Liana mengalami prustasi, dan karena kondisinya tidak stabil yang menjadi pemicu pertengkaran mereka berdua sekaligus penyebab keputusan gilanya bunuh diri."

Kinan mengepalkan tangan, merasa jika omongan laki-laki itu hanya omong kosong yang ia gunakan untuk melindungi Aliette. Tapi tidak terlihat sedikit pun kebohongan dalam netra laki-laki itu.

"Lo percaya? Hei Ansel, gue kasih tau. Sekarang tuh banyak barang bukti yang bisa diubah! Bisa aja kan, bukti yang polisi temukan itu di-"

"Gue bingung. Sebenarnya lo marah ke Ailie karena kematian Liana, atau murni kebencian lo?"

Skakmat. Kinan dibuat bungkam seribu bahasa oleh pertanyaan Ansel.

Gadis itu menatap Ansel tajam sebelum akhirnya pergi meninggalkan kantin. Ansel berbalik, menatap Angela dan Riana yang masih berada di tempat dengan wajah pucat pasi.

"Ngapain kalian masih di sini?" tanya Ansel membuat kedua gadis itu refleks berlari pergi. Kini hanya tersisa dirinya dan Ailette yang masih menundukkan kepalanya.

"Gak usah terlalu dipikir-"

"Terima kasih, Ansel," potong Ailette mengangkat pandangannya.

"Em, sama-sama," balas Ansel menggaruk tengkuknya. Ia kemudian mengambil tempat di samping Ailette.
"Temen lo ke mana?" tanya Ansel melirik Ailette.

"Sanica tadi dipanggil ke ruang guru," balas Ailette. Ansel ber'oh' panjang, tidak ada percakapan di antara mereka membuat laki-laki merasa tidak nyaman.

"Soal Verron. Dia masih belum bisa nerima kematian Liana, jadi mak-"

"Verron masih berpikir Ailie yang ngedorong Liana, ya?" potong Ailette.

"Eh, gak gitu!"

Ailette tertawa masam, mengusap ujung matanya. "Tidak apa-apa. Setidaknya ada Ansel yang sudah nolongin Ailie tadi."

"Gue cuma kebetulan lewat," sargah Ansel.

"Kebetulan yang bagus, Ansel."

༻༺ ༻༺ ༻༺

Walau sedikit kebenaran sudah keluar dari mulut Ansel saat pertengkaran Kinan di kantin, banyak yang menolak kenyataan itu dan masih menganggap jika Ailette sebagai pembunuh.

Mulai dari surat-surat yang berisikan cacian padanya, serta berbagai coretan spidol yang menyebutnya sebagai pembunuh.

"Ailie ...."

Merasa terpanggil, dirinya menoleh. "Ada apa, Sanica?"

"Biar kutebak, belakang ini kau kurang istirahat ya? Kau tampak lelah, Ailie."

Ailette mengejapkan mata, menatapnya tidak percaya. "Benarkah? Apa aku tampak seburu itu?"

Sanica mengangguk pelan. Itu benar, belakangan ini memang ia tidak bisa tidur karena selalu bermimpi buruk, mimpi yang tidak bisa ia ingat saat bangun.

"Ailie tidak apa-apa, jangan khawatir!" balasnya tersenyum lebar. Netranya bergerak cepat saat ia tanpa sengaja menangkap sosok yang tak asing baginya.

"Verron ...." gumamnya tanpa sadar.

Sudah lewat dua minggu pasca kejadian, tapi sejak itu pula mereka berdua belum pernah bertukar sapa. Ailette menggigit bagian bawah bibirnya tanpa sadar. Sungguh, bukan seperti ini yang ia bayangkan.

MINE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang