Bab 17 : Pelarian yang Menjadi Akhir

8 3 0
                                        

"Kamu sudah sadar, Juri?"

Gadis itu tersenyum menyapanya dengan wajah yang terlihat masih membayang di matanya.

Juri mencoba mengejapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan dengan penerapan sekitar.

"Ailette?" panggilnya dengan suara parau. Kesadarannya mulai penuh, ia celingukan ke sekeliling dengan raut wajah penuh kepanikan.

Ailette tertawa kecil. "Tenang saja. Kalau kau mencari Sanica, ia aman."

"Ailette, kau ...."

"Menyelinap masuk ke rumah orang bukan sikap seorang murid teladan," potong Ailette tersenyum.

"Dan menyekap sahabat sendiri juga merupakan sikap seorang sahabat yang buruk!" seru Juri.

"Tida, tidak. Bukan salahku, Sanica duluan yang melupakannya," elak Ailette berjalan mendeka membuatnya mundur beberapa langkah menjauh. Jemari lentiknya menangkup wajah laki-laki itu, membuat netra keduanya bertemu.

"Padahal, lebih bagus kau tidak ikut campur ...." gumam Ailette memandang dengan tatapan kosong, entah apa yang tengah ia pikirkan.

Tidak mau kehilangan kesempatan, Juri menubrukan bahunya hingga membuat Ailette tersungkur ke belakang. Ia segera berlari ke arah pintu dan mendobraknya, berteriak memanggil Sanica dan berlari masuk ke salah satu ruangan. Entah bagaimana dan kapan Ailette melakukan, kini ia berada di kamar apartemen gadis itu.

"Sanica!" panggilnya dengan suara lantang.

Mendengar sebuah suara di belakangnya, rupanya Ailette membawa Sanica dalam keadaan tangan terikat dan mulut yang disumpal pergi ke luar.

"Berhenti, Ailette!"

Juri segera berlari mengejar, berusaha mendobrak sekuat tenaga pintu yang sempat Ailette kunci. Ia menoleh, kehilangan jejak mereka.

"Sial!"

Beruntung, terlihat noda kemerahan di lantai. Saat ia mengikutinya, rupanya mengarah pada sebuah rooftop.

Terlihat Ailette yang menahan gerak Sanica dengan menodongkan pisau di lehernya, mereka berdua berdiri tepat di ujungnya.

Melihat hal itu, seolah napas Juri terhenti dengan wajah pucat pasi.

"Ailette, mari kita buat ini menjadi mudah," tawar Juri melangkah pelan.

"Selangkah kau maju, kesayanganmu ini akan jatuh," ancam Ailette tersenyum tipis. Mendengar ancaman itu, Juri menghentikan langkahnya.

"Kalian sungguh membuatku iri," ujar Ailette tersenyum miring. "Saling melengkapi dan menolong satu sama lain. Sungguh membuat iri."

"Bagaimana kau bisa iri pada sahabatmu-"

"Justru karena itu!" potong Ailette berteriak. "Karena itu ... Sanica, tega sekali kau melupakan janji itu."

"A-Ailie. Kamu salah paham, ini-"

"Bohong! Sanica pembohong!" seru Ailette mendongakkan kepala. Kini terlihat jelas air mata yang turun membasahi wajahnya.

Sungguh, Juri merasa dirinya konyol karena tidak mengerti arah pembicaraan mereka dan hanya bisa menonton.

"Sanica ...." panggilnya dengan suara parau. "Aku punya ide bagus, ide yang bisa membuatku menjadi perhatian lebih banyak orang."

"Tidak, Ailie. Jangan!" tolak Sanica berseru panik seolah mengerti apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya.
Ailette tersenyum, mendorong Sanica sekuat tenaga ke arah Juri, dan menghempaskan dirinya sendiri ke bawah.

"AILIE!" Sanica berseru berang, berusaha menggapai tangan Ailette dengan ikatan yamg sudah terbuka. Tapi sayangnya posisinya terlalu jauh. Sanica melihatnya, mulutnya bergerak membentuk sebuah kalimat tanpa suara yang bahkan terdengar jelas di telinganya.

BRUK!

Juri menutup kedua mata Sanica yang begitu syok, ia sendiri dibuat tidak bisa memalingkan wajah. Terlihat keramaian orang mengerubungi Ailette untuk terakhir kalinya, saling berseru histeris bercampur kepanikan.

Juri meringis, keinginan gadis itu terwujud dengan caranya sendiri. Sementara Sancia menangis tanpa suara dalam pelukannya, sangat tidak menyangka akhir dari persahabatan mereka berdua yang sungguh tragis.

Setelah itu, semua berubah 180°. Kabar kematian Ailette serta perbuatan yang telah membunuh dua temannya serta menyekap dua orang lainnya menjadi pembicaraan panas di mana-mana.

Sanica yang terlalu syok tidak banyak bicara saat diminta keterangan, sementara Juri membuka mulut dan mengatakan kebenaran yang sedikit ia ubah.

Sanica terus mengurung diri di kamar, perasaan bersalah membuatnya kalut dan menutup diri. Ia terus-terusan memandang figur dirinya bersama Ailette yang diambil dua tahun lalu.

Ini salahku karena melupakan janji yang pernah kuucapkan ....

MINE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang