aku meneruskan perjalananku menuju kebun teh di puncak gunung sana, tentunya dengan hanya mengendarai sepeda kesayanganku.
dengan sekuat tenaga aku menggowes menuju puncak gunung demi melihat senja di sore hari, namun saat di perjanan aku melihat seekor kucing yang sangat cantik, bulunya berwarna putih bersih dengan badan yang gempal, sebab aku tertarik ingin melihatnya aku menghentikan perjalan untuk mendekati kucing itu.
"hei, push.. hai kamu cantik sekali, kamu punya seseorang ya?." memegang kalung di leher si kucing
saat aku melihat kaki kucing itu, kakinya penuh darah bekas sayatan dan ada duri kecil menancap di kakinya.
"hei kamu berdarah, sini aku bantu, ini memang aga sakit sih, tapi nanti kalo tidak di cabut tambah parah lukanya." mencabut duri di kaki kucing
aku mencari plester di dalam tas
"perasaan aku bawa plester deh, nah iya ada, nih aku pakaikan ya, kamu sekarang udah aman ya. putih." melihat kalung kucing itu
"namamu putih ya?." mengelus kepala kucing
tak lama kucing itu pun pergi meninggalkan aku, aku pun melanjutkan perjalanan menuju puncak.
"hah akhirnya sampe juga di disini." menghirup udara sejuk puncak
aku duduk di atas batu besar yang ada di puncak sana, ntah mengapa bisa ada batu besar disana, aku pun tak tau.
selagi menunggu datangnya senja, aku mengeluarkan buku dan pena ku yang ada di dalam tas, aku menulis sebuah puisi tentang senja hari ini.
di kala sandhya
sekejap namun di rindukan itulah senja
jingga rupa warna, indah nan cantik di pandang mata
matahari turun kembali pada tempatnya, kenangan deepa
di siang hari membuat nilai yang indah di sore hari, ketenangan
surya tenggelam menawarkan hati yang tenang dan damai
surya jingga telah memberikan kenangan sekejap mata
untuk di simpan di ingatan tanpa balas pamrih.
setelah menunggu berjam jam lamanya hingga tertidur, saat aku terbagun waktu sudah memberikan keadaan langit yang sudah mulai menguning.
"waduh sudah sore, untung aku belum ketinggalan fajar, niatnya mau santai sambil tiduran eh malah keterusan sampe sore, disini terlalu nyaman sih."
aku menyaksikan terbenamnya matahari dengan rasa yang tenang dan damai, sangat indah sekali aku melihatnya.
setelah menyaksikan senja aku pun pulang ke rumah, namun saat di perjalanan pulang dari kejauhan aku mendengar suara biola dari sebrang jalan yang tak jauh dari rumah nenek, di dekat pohon besar, karena aku penasaran aku telusuri asal suara itu.
suara biola itu semakin kencang terdengar, akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan perjalanan pulang dan memarkirkan sepedaku di pingir jalan, aku berjalan mendekati pohon besar yang di atasnya ada sebuah rumah, mungkin ini rumah pohon, ntahlah aku tidak menghiraukan rumah pohon itu.
aku mendekati rumah pohon itu dan ternyata di balik pohon itu ada rumah yang tidak begitu besar namun tidak begitu kecil pula, sedang saja. aku tidak melanjutkan berjalan ke rumah itu, sebab dari balik pohon aku melihat ada seorang wanita sedang memainkan biola dengan lihai, aku sedikit mengintip di balik pohon, memastikan apakah dia memang manusia atau hanya mahluk jadi jadian yang sedang menyamar memainkan alat musik.
namun saat dia menoleh kebelakang dan masih memainkan biolanya, aku terkejut sebab dia sangat cantik rupawan.
"cantik sekali, apa mungkin dia manusia ?, mana mungkin seorang wanita bermain biola malam malam begini."
wanita itu menghentikan gesekan biolanya saat ada seorang pria yang keluar dari rumah itu, mereka berdua masuk ke daam rumah.
dengan cepat aku pergi dari situ sebab takut jika ada yang mengira aku akan mencuri barang di rumah itu. aku kembali pada sepeda yang ku parkir di pinggir jalan tadi dan bergegas menggowesnya untuk kembali pulang.
𝙝𝙖𝙞 𝙩𝙪𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙣𝙤𝙣𝙖, 𝙩𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙙𝙞 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞, 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙩𝙖, 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙖𝙣 𝙣𝙤𝙣𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣, 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙩𝙪𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙣𝙤𝙣𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙢𝙖𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙘𝙞𝙠𝙪𝙧 𝙗𝙪𝙖𝙩, 𝙗𝙖𝙞𝙠𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙧 𝙪𝙡𝙪𝙣𝙜.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enigma puspa manah
Puisi𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘤𝘪...
