sore ini aku pergi ke kebun teh nenek bersama Adit, kita menaiki sepeda masing masing, disana kita duduk di atas batu besar yang kemarin aku tempati, tempat yang selalu aku tunggu untuk menunggu datangnya senja. Kita saling bercanda dan bergurau, kita pun saling bercerita. Adit menceritakan soal dirinya dengan Salma, dan aku bercerita soal diriku kapadanya.
"hah, Salma sepertinya tidak bisa suka aku ham, dia ngejar kamu terus ham."
aku hanya menggelengkan kepalaku.
"eh iya bicara soal wanita, aku mau cerita dit, aku pernah bertemu dengan perempuan, dia cantik sekali dit."
"hah ?! iyakah ? dimana?"
"panjang ceritanya dit, tapi aku bisa tunjukan dimana rumah dia."
"ahhh kamu ini, yasudah lah kasih tau aku dimana rumah perempuan itu."
aku dan Adit pergi menuju rumah tersebut.
"udah sampe dit, kita berenti disini saja, simpan sepeda kita disini." menyimpan sepeda di pinggir jalan
aku dan Adit berjalan menuju rumah pohon dan mengintip dari balik pohon untuk melihat rumah itu.
ya aku mengajak Adit untuk melihat rumah si wanita biola itu.
"kita liat dari sini saja ya dit, jangan kesitu, kita liat dari balik pohon saja."
Adit hanya menganggukkan kepalanya dan menuruti perintahku.
"tapi ngomong ngomong dimana perempuan itu ham" bisik Adit padaku
"aku juga tidak tau dit, tunggu saja."
beberapa saat setelah aku dan Adit menunggu cukup lama, keluarlah wanita biola itu dari rumahnya, sembari membawa biola dan duduk di halaman rumahnya yang penuh dengan rumput, ia duduk di alasi tikar berwarna coklat muda.
"eh itu, itu dia keluar" ucapku pada Adit
"mana, wahh masya allah"
Adit terpesona melihat wanita biola itu.
"cantiknya ham"
aku mengusap mata Adit dengan cepat, dan langsung memukul punggungnya.
"heh sadar, inget Salma"
"kamu ham, tadi suruh liat, udah liat malah di ingetin."
"hehe"
"cantik sekali dia ham, siapa dia ? kayanya dia suka main biola ya ? kamu pernah ngobrol sama dia ham ?" tanya Adit terus menerus padaku
"iya cantik dit, mungkin iya dia suka main biola, aku ngobrol ? semoga ya"
"oia namanya siapa ham ?"
"nah itu dia aku belum tau namanya dit"
saat kita sedang mengobrol di balik pohon, wanita biola itu menoleh dan mengarah pada rumah pohon yang menutupi kita.
"kalo gitu tanyain ham" suara Adit tak sengaja berbicara lepas
"sutss !!!" aku mendekap mulut adit
aku langsung mendekap mulut Adit dan membawanya pergi menuju sepeda yang kita parkir di pinggir jalan tadi.
"ah kamu dit, hampir saja kita ketauan, kita pulang sekarang" menaiki sepeda dan menggowesnya
"maaf ham, ham tunggu" Adit menaiki sepedanya
🌹
Setelah aku selsai mandi dan memakai baju untuk berangkat ke kampus, aku langsung mengambil ponsel yang mengeluarkan bunyi notifikasi pesan dari Adit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enigma puspa manah
Puisi𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘤𝘪...
