03

1.7K 204 8
                                        

Sayangnya, keributan Sagara dan Jaziel hari itu tidak hanya membuat Sagara dikucilkan. Pihak sekolah bahkan menerima beberapa aduan dari wali murid yang tidak senang dengan kegaduhan yang terjadi. Cerita yang beredar bertambah dan berkurang dari kenyataannya. Namun alih-alih memanggil orang tua Jaziel, pihak sekolah justru mengundang wali Sagara untuk hadir. Dan sejujurnya, kontak wali milik Sagara tertuju pada Harini. Bukan Yudhis.

Tapi Sagara masih kecil. Jadi saat guru wali kelasnya berpesan untuk memberikan surat itu kepada orang tua atau walinya, tanpa banyak pikir, Sagara menyerahkannya pada sang Papa. Mengetuk pintu ruang kerja beliau dan menaruh surat pemanggilan orang tua di meja —bertumpuk dengan beberapa kontrak yang tengah dikerjakan.

"apa?" Yudhis bertanya dengan suara rendah. Memicingkan mata menatap Sagara yang kehilangan wajah cerianya.

"disuruh Bu guru, kasih surat itu ke orang tua. Aga belum baca suratnya, tapi Aga baca amplopnya."

Yudhis melirik amplopnya sekilas. Pemanggilan orang tua/wali siswa an. Banyu Sagara. Pemanggilan; bukan undangan.

"nakal kamu di sekolah?" tuduh Yudhis.

Sagara menggeleng. "Aga anak baik."

"bohong!"

Yudhis membuka kasar amplop yang tersodor. Deretan ketikan rapi di kertas itu mendidihkan amarahnya. Sagara tambah menggeleng panik. Apalagi saat tatap marah Yudhis mengarah tepat ke matanya. Ketakutannya merambat ke seluruh tubuh.

"Aga nggak nakal, Pa. Aga anak baik."

Dengan satu gerakan, Yudhis berdiri. Menarik rambut Sagara dan melemparkan tubuh bocah enam tahun itu kedalam kamar mandi terdekat. Menyuarakan cacian dan sumpah serapahnya sambil mengisi penuh wastafel. Saat air di wastafel telah jatuh bercecer, Yudhis kehilangan akal sehatnya. Berulang kali menenggelamkan kepala Sagara dengan brutal hingga Sagara merasa kehabisan napas.

Bocah itu menangis. Sesekali berteriak meminta pertolongan hingga tersedak air yang masuk ke hidungnya yang berakhir dengan terbatuk kesakitan. Tak ada satupun permohonannya yang Yudhis dengarkan. Bahkan saat Sagara melunglai lemas, tubuhnya yang terkulai di lantai dingin kamar mandi itu diinjak dengan tak berperikemanusiaan. Menyisakan memar biru dibalik baju yang dikenakannya.

"Maaf, Papa..." lirih Sagara. "Maaf."

Salamah yang mendengar keributan itu bergegas menghampiri. Menghentikan sang Tuan yang tengah menggila. Mendorong tubuh besar Tuannya dengan susah payah.

"jangan, Pak... kasihan Aga..."

"nggak usah ikut campur!" teriak Yudhis. Sekali lagi kakinya menendang tubuh Aga dalam rengkuhan Salamah. Tak peduli sekalipun tubuh mungil itu lemah dan berdarah-darah.

"jangan, Pak... jangan..." mohon Salamah dengan tangis yang nyaris histeris.

"taruh dia, Salamah!"

"udah Pak... tolong jangan dipukul lagi Aga-nya."

"TARUH DIA, SALAMAH! KAMU BUDEG, YA?"

Salamah hanya menggeleng dengan air mata yang deras mengalir.

"KALAU KAMU MASIH NGEYEL, KAMU SAYA PECAT!"

Sekali lagi Salamah tidak mengindahkan titah tuannya. Peluknya erat melingkupi Sagara.

"Ibu..." lirih Sagara meminta pertolongan. "Ibu..."

"Ibu disini..."

"Ibu... Aga sakit..."

"Ibu disini..." lirih Salamah.

Yudhis melemparkan botol handsanitizer pada cermin di wastafel hingga pecah berkeping. Meluapkan sekali lagi emosinya sebelum akhirnya pergi. Membiarkan Sagara dan Salamah di ruang sempit nan dingin itu.

SAGARA [Na Jaemin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang