Seorang pengurus panti asuhan mengantarkan Sagara ke salah satu kamar yang kelak akan menjadi kamarnya. Ruangan itu cukup luas. Diisi enam anak —oh, bertambah jadi tujuh anak dengan Sagara sekarang. Ada tiga kasur queen size yang masing masing ditempati dengan dua anak.
Iya... untuk sementara Sagara belum kebagian kasur.
"kie bocah sing nembe dianterna Pak Polisi yo, Mbak? [ini anak yang tadi dianter sama Pak Polisi ya, Mbak?]" salah seorang bocah usia delapan tahun bertanya. Memandang Sagara dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Mbak Nina, pengurus panti yang mengantarkan Sagara mengangguk.
"Sagara nanti bobonya disini, ya." Ujar Mbak Nina seraya menaruh bawaan Sagara di area sudut.
"ah.. emoh lah, Mbak. Wis sempit kie! [ah, nggak mau... Makin sempit dong!]" keluh bocah lain di kamar itu.
"iya Mbak... udah gak ada tempat."
"kasurnya penuh!"
Suara lain saling bersahut tak nampak senang.
Sagara merengkut. Belum apa-apa, ia sudah merasa takut. Penghuni kamar itu serupa singa yang tengah saling mengklaim teritori —dan Sagara nampak seperti kijang kecil yang tidak tau diri mengusik wilayah mereka. Calon mangsa yang siap diterkam.
"hush! Gak boleh begitu!" omel Mbak Nina. "sementara kasurnya sharing dulu. Besok baru nambah kasur baru."
"enggak mau!" suara protes bocah-bocah itu terdengar menjengkelkan. Memaksa si pengurus panti itu untuk banyak-banyak ber-istigfar meminta pengampunan Tuhan.
"kenapa, Mbak?" sebuah suara di ambang pintu mengalihkan atensi. Bocah lelaki yang nampak kalem itu membuat Mbak Nina mengukir senyum.
"alhamdulillah, kamu disini, Ri." Seru Mbak Nina senang. Perempuan itu menceritakan situasinya pada Hari —si bocah lima belas tahun yang merupakan penghuni panti paling tua, juga paling dipercaya oleh pengurus. Meminta Hari untuk membantu Sagara beradaptasi dengan anak-anak lain.
Hari mengangguk menyanggupi.
"suwun yo, Nang. Nanti bantu juga buat siap siap makan, yo." Ujar Mbak Nina sambil lalu.
Lalu Hari mengambil alih situasi kamar. Meminta semua penghuni yang ada disana untuk duduk melingkar di area kosong —yang dibalas oleh raut ogah-ogahan dari sebagian anak.
"hai... bisa Bahasa Jawa, nggak?" tanya Hari sebagai permulaan; yang dibalas Sagara dengan gelengan kecil.
Gelengan itu dibalas dengan desisan tidak menyenangkan dari beberapa anak. Hari menegur mereka dengan pelototan.
"namaku Haryansah. Panggil aja Hari, Mas Hari." Titahnya. "namamu?"
"Banyu Sagara." Jawab Sagara dengan suara kecil.
"dipanggilnya apa? Banyu?"
Sagara menggeleng, "Aga."
Hari manggut-manggut paham. "Dek Aga, kenalan dulu ya! Yang itu namanya Kemal." Hari menunjuk pada seorang bocah yang Sagara ingat mematainya dengan intensif sejak awal masuk tadi.
"yang itu Wisnu, sampingnya Banu, sebelahnya lagi Raffi, nah yang terakhir ini Panji." Terang Hari, "omong-omong, umurmu berapa tahun, Ga?"
"enam tahun, Mas." Jawab Sagara agak kagok.
"pantaran sama Raffi dan Panji dong ya."
Sagara mengerjap bingung.
"maksudnya, kamu sama Raffi dan Panji tuh seumuran." Jelas Hari. "kalau Kemal umurnya delapan tahun, Banu tujuh tahun, nah, Wisnu sebentar lagi sembilan tahun."
"jadi aku manggilnya Mas Kemal, Mas Banu, sama Mas Wisnu. Gitu ya?"
Hari tersenyum seraya mengangguk.
Raffi mengangkat tangan tiba-tiba, "aku mau dipanggil Mas juga!" katanya.
"heleh... pantaran kok arep diundang Mas? [seumuran kok maunya dipanggil Mas?]" Dengus Hari.
"tetep, aku iki senior neng kene, Mas. Pokok'e aku arep diceluk Mas. [aku senior disini, Mas. Pokoknya aku maunya dipanggil Mas.]"
Beberapa bocah sontak tertawa dengan itu. Sementara Sagara menaikkan sebelah alisnya. Tidak paham dengan apa yang mereka ributkan.
"huuu... Mas pekok. Gawene ciwek kok arep diceluk Mas. Ngisin-ngisini! [ cengeng begitu kok mau dipanggil Mas. Malu-maluin!]" Ledek Kemal.
Ledakkan tawa kian riuh.
"husssh...! Uwis..." ujar Hari kemudian. Meminta adik-adik sekamarnya itu untuk diam. Ia kemudian menatap ke arah Sagara untuk memberikan penjelasan, "Aga... katanya Raffi maunya dipanggil Mas juga. Boleh?"
Sagara mengangguk. Perkara memanggil Mas bukanlah hal sulit untuk Sagara.
"nek Raffi diundang Mas, aku yo kepengen diundang Mas juga. [kalau Raffi dipanggil Mas, aku mau dipanggil Mas juga." protes Panji.
Hari menghela napas lelah dengan semua protes itu.
"yasudah! Semua yang ada di kamar ini dipanggil Mas sama Aga, ya." Ujar Hari kemudian, "tapi sebagai syaratnya, Raffi, Panji sama Aga bobonya sekasur bertiga."
"lhaaaaa???" Panji bersiap protes.
"ora sah protes! Nggo sementara tok. Semisal dipan nggo Aga wis ana ya ngko turu ne diatur maning [nggak usah protes. Untuk sementara aja. Semisal kasur buat Aga sudah ada ya nanti tidurnya diatur lagi.]" tegas Hari. "kon kabeh wis diundang Mas dadi Dedene di jagani [kamu semua udah dipanggil Mas, jadi adiknya dijagain.]. Jangan jahil, jangan bully. Kita disini harus saling jaga satu sama lain. Ngerti?"
Serempak semua mengangguk mengerti. Tak ada yang membantah —karena Hari dan ketegasannya secara auto pilot membuat orang-orang mudah menurut.
Setelahnya, Hari menjelaskan beberapa hal pada Sagara. Jadwal makan, jadwal cuci baju, juga jadwal piket kamar dan lain sebagainya. Beberapa pekerjaan rumah yang diterangkan Hari bukanlah hal sulit. Sagara sudah terlatih dengan pekerjaan rumah sederhana. Jadi Sagara cukup percaya diri bahwa dia bisa mandiri disini.
"Mas Hari, Mas Kemal, Mas Wisnu, Mas Banu, Mas Raffi dan Mas Panji, terimakasih ya sudah boleh ikut pakai kamar ini. Aga janji akan jadi anak baik. Semisal nanti Aga ada bikin salah atau ada yang Aga nggak tau, Aga-nya di kasih tau ya, Mas..." ujar Sagara.
Hari tersenyum dan mengusap puncak kepala Sagara. Wisnu melirik iri. Kakak tertua mereka memang selalu bersikap baik pada semua makhluk.
![SAGARA [Na Jaemin]](https://img.wattpad.com/cover/343584567-64-k59241.jpg)