Ruang rawat bangsal kelas dua ruang dahlia itu terdengar ribut dengan berbagai cerita. Kebanyakan berasal dari para penjaga pasien yang saling bertukar dongeng —pula adu nasib. Bersahutan dengan tangis pasien anak yang merengek entah mau apa.
Dibalik bangunan gedung rumah sakit daerah itu, matahari sudah menanjak tinggi. Namun Sari masih duduk bersiaga menatapi Sagara yang betah memejamkan mata meski dengan tidak nyaman. Suhu tubuhnya yang masih tinggi itu membuat Sagara mengeratkan giginya. Deru napasnya terdengar seperti atlet pemula yang sprint puluhan kali. Sari mengusap perlahan rambut lepek Sagara yang basah oleh peluh. Hanya beberapa waktu tidak bertemu, namun Sagara terlihat lebih kurus dari yang terakhir Sari ingat. Wajah kecilnya nampak lelah.
"Dek..." suara Khoirul menjeda lamunan Sari.
Perempuan itu menoleh agak terkejut pada sang suami seraya melempar tatapan bertanya. "Mas... mau berangkat?"
Khoirul mengangguk. "saya janji sama Pak Kepala masuk jam sebelas."
"oh..." jawaban Sari menggantung.
Sari nampak kehilangan separuh fokusnya saat melihat bagaimana kepayahannya Sagara diatas blankar pemeriksaan UGD tadi. Terlebih, ketika dokter menyatakan bocah enam tahun itu perlu rawat inap karena diagnosa tukak lambung yang memerlukan pemeriksaan lanjutan. Sari makin enggan menyingkir dari sisi blankar. Perempuan itu merasa perlu memastikan Sagara baik-baik saja. Melihat itu, Khoirul langsung menelepon Kepala Stasiun untuk meminta izin datang siang. Bersyukur bahwa Kepala Stasiun memberikan keringanan untuknya. Bahkan Khoirul yang pada akhirnya membeli sarapan untuk bapak mertuanya dan menjelaskan situasinya karena Sari benar-benar tidak menyingkir dari sisi Sagara selama pemeriksaan.
"masih mau disini?" tanya Khoirul.
Sari terdiam. Memandang ragu pada Sagara dan atmosfer sekeliling. Haruskah ia pergi? Tapi hati kecilnya terdengar keras untuk tidak menyingkir.
"kalau kamu mau disini, ya gak papa. Toh, saya sudah izin sama Bu Fatma dan Pak Qori."
Ah, Sari bahkan melupakan eksistensi pengurus panti itu.
"boleh?"
Khoirul mengangguk.
"Mas..." ada getar dalam suara Sari kali ini, "Aga... gapapa, kan?"
"Insya Allah..." jawaban Khoirul terlalu diplomatis, "mudah-mudahan gak ada yang serius sama hasil LABnya."
"jadi kamu mau gimana?" Khoirul melanjutkan tanya. "kalau mau disini, nanti biar sama Bu Fatma. Pak Qori kebetulan tadi pamit mau urus berkasnya Aga di Dinsos. Dia kan masih tanggungan dinas sosial soalnya."
"saya... mau disini dulu."
Khoirul mengangguk. "yo wis. Hati-hati disini. Aku pamit, ya."
"iya... Mas juga hati-hati. Berkabar kalau sudah sampai." Balas Sari seraya mengamit jemari suaminya.
Sari bisa melihat suaminya tengah pamit pada Bu Fatma di ambang pintu. Terlibat percakapan kecil sebelum akhirnya pergi, dan Bu Fatma masuk ke kamar rawat.
Pimpinan panti asuhan itu sudah cukup sepuh. Namun raut wajahnya teduh dan terlihat sangat mengayomi. Siapapun bisa merasakan aura keibuan yang terpancar dari wajahnya.
"Mbak Sari, nggih?" suara mendayu Bu Fatma memastikan, "saya Fatma, pengurus panti asuhan tempat Sagara tinggal." Ujarnya memperkenalkan diri.
"Sari, Bu." Sari membalas uluran jabat tangan dari Bu Fatma.
Bu Fatma mengambil duduk di sisi Sari. Menjaga Sagara yang masih lelap. "kalau sama Mas Khoirul, sudah pernah bertemu. Tapi sama Mbak Sari, baru kali ini."
![SAGARA [Na Jaemin]](https://img.wattpad.com/cover/343584567-64-k59241.jpg)