18

1.8K 234 49
                                        

Sagara menatap bingung pada rumah Sari dan Khoirul yang nampak ramai. Area terasnya penuh dengan dus-dus air mineral. Pula beberapa orang yang lalu lalang dan nampak sibuk.

"kok ramai?" tanya Sagara sesaat turun dari motor dengan sedikit bantuan. "Ibu sedang ada tamu, ya?"

Sari hanya tersenyum kecil.

"nanti malam mau ada pengajian."Khoirul yang menjawab tanya Sagara.

"pengajian kenapa?"

"ya... acara syukuran aja."

"oh..." Sagara ber-ooh ria; meski raut wajahnya tetap bingung.

"ada Mbah Uti sama Mbah Kakung loh, didalam." Ujar Sari kemudian. Mengalihkan kebingungan Sagara tentang acara pengajian nanti malam.

"beneran, Bu?" balas Sagara dengan nada tak sabar. Tangannya terangkat untuk mengambil tas miliknya untuk dibawa masuk.

Sari mengangguk, "Aga masuk gih. Barang-barangnya biar Ibu sama Bapak yang bawa." Mempersilakan Sagara untuk masuk duluan tanpa perlu membawa tasnya sendiri.

Senyum sumringah Sagara tercetak sempurna. Langkahnya terburu melewati pintu. Mengucap salam dengan setengah berteriak untuk mendapati Mbah Uti yang duduk tersenyum diatas kursi roda. Sementara Mbah Kakung yang duduk di sisi Mbah Uti tertawa melihat tingkah Sagara.

"Wa alaikumussalam, Cah Bagus." Sapa Mbah Kakung. Menyambut tangan Sagara yang menyalaminya.

"Aga kangen sekali sama Mbah."

Mbah Kakung tersenyum. Merengkuh Sagara untuk masuk kedalam peluk. "Aga sehat?"

Sagara mengangguk. "sehat, Mbah. Mbah sehat?"

"Alhamdulillah." Jawaban Mbah Kakung terdengar lembut. "salam sana sama Uti."

Sagara menurut. Beralih pada Mbah Putri yang duduk di kursi roda. "rindu sekali sama Mbah Uti." Kata Sagara dengan binar penuh bahagia. "Mbah Uti sehat, kan?"

Mbah Uti tersenyum. Menggumamkan sesuatu yang Sagara tidak paham. Tapi dari caranya, Sagara yakin Mbah Uti mengucapkan sesuatu yang baik.

Tidak seperti sebelumnya —ketika Mbah Uti kesulitan menggerakkan anggota tubuh, kini perempuan tua itu sudah mampu menyambut jemari kecil Sagara yang mencoba menyalaminya. Sagara jelas takjub dibuatnya. Terlebih, ketika Mbah Uti memberikan sedikit usapan sayang di kepala.

"Mbah Uti bisa gerak." Sagara keceplosan dengan binar bahagia yang merekah di mata.

Sari yang berada di ambang pintu tersenyum mendengar celotehan spontan itu. Pula Mbah Kakung yang tak bisa menahan sumringahnya kian melebar.

"Alhamdulillah... Mbah Uti udah lebih sehat." Terang Mbah Kakung. "Cuma bicaranya belum jelas, ya. Aga masih ndak paham, ya?"

Sagara tersenyum malu. "maaf ya, Mbah Uti kalau Aga nggak ngerti. Nanti Aga tanya Mbah Kung, biar kita bisa ngobrol." Ujar Sagara dengan penuh pengertian.

Mbah Uti nampak tersenyum. Menggumamkan sesuatu yang lagi-lagi tidak Sagara mengerti.

"seneng Mbah Uti di ajak ngobrol sama Cah Bagus." Terang Mbah Kakung.

Sagara tersipu lagi. Mengusap sayang jemari Mbah Putri-nya. Agaknya, sudah lama sekali ia merasa se-disayang ini.

"Aga... lihat kamarnya, yuk." Ajak Sari kemudian.

Sagara menaikkan alisnya bingung, namun tetap mengekor sang Ibu. Menuju kamar yang sebelumnya ia ingat sebagai ruang serbaguna.

Kini, ruangan itu lebih rapi dengan perpaduan cat berwarna biru toska dan putih serta beberapa perabot baru. Ranjang single, lemari plastik, kipas angin dinding dan beberapa stiker dinding yang menghiasi sudut kosong.

SAGARA [Na Jaemin]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang