IV

687 74 3
                                        

Dalam kerjap tak tenang Minghao, terdengar suara berisik dari luar. Mobil berkali kali bergoyang seolah memberontak dan tak nyaman atas jalanan yang begitu bergelombang.

Jelek sekali, Pembangunan daerah ini mungkin belum terwujud atau jalanan yang di lalui Mobil berisi Alpha dan Omega dari desa Natsukashi yang memilih jalan aneh.

"Minghao!"

Lagi

"Minghao!"

Kembali lagi

"Minghao Hyegea!"

Kenapa kembali lagi?

"Putra ku, Minghao Hyegea...."

"Aaaaaak!"

Omega itu menjerit, tubuhnya tegak begitu bangun dari tidurnya.

"Tenanglah, tak apa." Seorang Wanita bertubuh jangkung yang duduk di sebelah Minghao mencoba menenangkannya, Ia membelai rambut Minghao seolah remaja itu adalah adiknya, "Kau mimpi buruk?"

Anggukan perlahan di terima Alpha wanita itu.

Gelap malam berpadu dengan angin dingin menusuk semua orang. Mobil melaju begitu cepat, mesin beroda 4 itu terbuka di bagian belakang namun tak memungkinkan para tawanan tersebut melompat dan lari keluar. Selain karena ada penjaga yang duduk mengawasi, namun karena tempat dimana mobil berjalan adalah sebuah hutan belantara.

"Kenapa lama sekali?" Tanya Minghao pada dirinya sendiri, "Kemana mereka akan membawa kita pergi."

Sudah 2 malam para tawanan itu duduk didalam mobil. Bak tak memerlukan bahan bakar, kereta mesin yang berjalan tak pernah berhenti. Roti dan air di sediakan, namun mereka di paksa untuk tetap diam.

Sekitar 7 mobil berjajar mengantre untuk berjalan. Semuanya berisi para alpha dan omega yang ditangkap dan Minghao adalah salah satunya.

Kakinya ia berusaha renggangkan, meminta maaf pada omega lelaki sedang di peluk lelaki lain disebelahnya.

Alpha.

Semua perasaannya kembali, Ingatan ingatan dan bayangan soal rasa bencinya pada ras tersebut datang lagi. Sikap kasar mereka, Keras dan merasa paling tinggi tertanam di otak batu para Alpha, semuanya kembali seperti semula.

Keluarganya mati tepat di hadapannya, di tembak oleh seorang Alpha. Ibunya hilang dan di nyatakan mati juga gara gara Alpha. Rumah Minghao, rumah tercintanya rusak berantakan oleh para Alpha, juga kacaunya dunia sekarang, disebabkan oleh Alpha.

"Tolong bunuh aku saja."

"Hey," Bisik wanita di sebelah Minghao, "Jangan bicara begitu."

Leher si manis tak berputar, Alpha disebelah hanya dilirik oleh ujung matanya. Malas, Minghao tak mau lagi berinteraksi dengan Alpha.

Mobil berhenti pada dini hari. Matahari belum berdiri namun Minghao sudah bangun sejak tadi. Selama sisa perjalanan, Si manis pindah duduknya di sebelah omega tua dan beta yang berjaga di paling belakang. Ya, para  petugas itu ternyata seorang beta.

Tenda tenda besar di tancapkan di tanah lapang ini. Dibatasi oleh kawat besi, seolah sedang menutup diri dari serangan Zombie.

Minghao tak tahu dimana ini, kota apa, negara apa, kerajaan siapa. Yang Minghao yakini, tempat ini bukan tempat yang ramah bagi para alpha dan omega.

.
.
.

Hansol mengernyit, apa maksudnya menyerang duluan?

"Tulgey sudah memberi respon untuk pernyataan perang ini?" Tanya raja muda itu di singgasananya.

Alphas - The War Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang