Malam ini gak seberisik malam-malam sebelumnya. Mereka masih malu-malu kucing buat bertingkah diluar nalar kayak biasanya. Terkecuali Haekal yang daritadi nyanyi-nyanyi gak jelas di kamarnya.
Nana lagi eksperimen masak, entah mau masak apa dia.
Jian yang lagi nonton anime di kamar dengan volume full karena lagu dari suara speaker Haekal yang menggema di seluruh lantai dua.
Jevan lagi ngedrakor di ruang tengah. Disebelahnya, ada Juan yang goleran dan ikut nonton bareng Jevan. Jevan walau sangar gitu ternyata jadi yang gampang akrab sama saudara-saudara barunya.
Sedangkan Joan,
"Ren, Gue lupa tadi ada paket atas nama Lo. Gue taruh sini, ya." Katanya sambil meletakkan sebuah paket entah berisi apa di meja dekat pintu kamar Rendra. Sedangkan Rendra sendiri hanya acuh dan terus melakukan kegiatannya tanpa merasa terganggu.
"Lo ternyata jago banget ngelukisnya!" Joan memuji Rendra setelah mengetahui apa yang sedang Rendra lakukan, melukis.
"Biasa aja."
"Ini mah luar biasa!"
"Hm."
Joan mendengus. Ternyata agak susah juga akrab sama saudara barunya yang satu ini. Dirinya lantas mengamati lukisan yang Rendra buat. Walau sedikit terganggu dengan nyanyian dan musik Haekal, juga Jian yang terus berteriak protes.
"Seperti mati lampu ya sayang! Seperti mati lampu~~"
Hingga dirinya dibuat mengernyit saat melihat goresan cat warna merah dengan tekstur yang sedikit berbeda dengan goresan warna lain di kanvas.
"Ini catnya emang sengaja dibeda, kah? Keren banget. Bisa persis kaya darah beneran-"
Gelap. Tiba-tiba listriknya mati.
"NAHKAN BENERAN MATI LAMPU!!!" Jian berteriak kesal bukan main.
"LISTRIKNYA PADAM! BURUAN PADA NGUMPUL DI BAWAH!!" sedangkan Jevan menginterupsi dari lantai bawah.
"ARGHHHHH GUE LAGI MANGGANG KUE WOYYYYY ANJEEENG HUHUHUHU," Nana ikut berteriak dari arah dapur. Joan sedikit tertawa karena pasti kue milik Nana berakhir bantet.
Rendra berhenti menggerakkan tangannya. Dia mendengus kala kegiatannya harus terjeda begitu saja. Mungkin, setelah listriknya kembali menyala, dia bisa melanjutkannya.
Listriknya padam, ditambah hujan deras dengan petir yang sesekali menyambar di langit. Beberapa kilat terlihat karena gorden kamar Rendra yang belum tertutup.
Rendra berdiri dari duduknya, berputar-putar mencari sesuatu.
"Cari hape? Nih." Joan menyodorkan ponsel Rendra yang kebetulan dilihatnya saat meletakkan paket di meja.
Rendra langsung merebutnya. Dirinya mulai melangkah untuk pergi ke ruang tengah sesuai intrupsi Jevan.
Joan hanya tersenyum maklum dan mulai mengikuti langkah Rendra. Entah kenapa, dirinya merasa aneh. Suara-suara para saudaranya barusan tiba-tiba hilang begitu saja. Sunyi, hanya terdengar suara hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar.
Baru saja Rendra ingin menutup pintu, suara Jevan kembali menginterupsi.
"BAWA SELIMUT! BANTAL SEKALIAN! KITA TIDUR DIBAWAH!!"
Rendra kembali mendengus. Apa-apaan.
Dirinya kembali masuk ke dalam. Sedangkan Joan masuk ke kamarnya.
"Gue ambil selimut sama bantal dulu,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi! My Twins!
Fanfiction00L NCT DREAM & TREASURE "Ayah mau nikah lagi!" "Oh, kalo itu gue udah tau dari lama. Lo nya aja yang ketinggalan be-" "Sama janda anak tiga, seumuran sama kita. DAN MEREKA KEMBAR!"
