WE ARE NOT AS WE WERE BEFORE

1.1K 96 176
                                        

*****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*****

Malam ini Zionathan tidak merasa begitu bahagia setelah bertemu Maisya. Biasanya ia pulang dengan senyuman terpatri di wajahnya. Kali ini tidak. Ia bahkan berjalan dengan membungkuk dan lesu seolah membawa beban berat di pundaknya.

Saat kakinya hendak mengarah ke kamarnya, langkahnya tiba-tiba saja berhenti. Ia menoleh ke kamar seseorang yang berada di seberangnya.

TOK

TOK

TOK

Tangannya mengetuk pintu itu perlahan. Pikirannya berkecamuk dan satu-satunya yang ia pikirkan hanyalah gadis di balik pintu ini.

"Apa udah tidur?"

Zionathan tetap ingin masuk meskipun gadis itu sudah tertidur. Melihat wajahnya saja sudah cukup. Dia pun memutar gagang pintu itu. Untung saja tidak dikunci.

Senyuman yang biasanya menghiasi wajahnya itu muncul ke permukaan saat menemukan Brianna duduk di sofa balkon kamar. Zionathan bahagia gadis itu masih terjaga. Ia nampak sedang mengerjakan sesuatu di laptop-nya.

Brianna yang tengah mengenakan headphone itu terkejut melihat Zionathan. Laki-Laki itu duduk di sofa seberang Brianna. Di antara mereka ada meja bulat yang memisahkan.

"Pantes dia gak buka pintunya," bisik Zionathan.

Brianna melepaskan satu headphone pink-nya dan berbicara tanpa suara. "Aku lagi meeting buat UAS. Kamu diem dulu."

Zionathan tersenyum tipis dan mengangguk paham dengan mengangkat ibu jarinya. Selama lebih dari sepuluh menit, Zionathan hanya diam memandangi Brianna yang sibuk berdiskusi dengan teman-temannya. Beberapa kali ia terkesima saat dia mendengar bagaimana gadis itu bisa menyuarakan ide dan pendapatnya juga mau mendengarkan pendapat yang berbeda. Gadis ini terlihat dewasa.

Merasa matanya sakit karena terlalu lama melihat layar laptop, Brianna mengambil kacamata berbingkai tipis berwarna soft pink. Tampilan itu baru di mata Zionathan dan Brianna terlihat menggemaskan.

Setelah menghabiskan banyak waktu, Brianna pun akhirnya melepaskan headphone itu dari kepalanya. Pandangannya langsung tertuju pada laki-laki yang masih setia duduk di seberangnya.

"Udah selesai?" tanya Zionathan.

Gadis itu menggeleng pelan. "Lagi break sebentar."

"Oh."

"Ada masalah?"

Selama ia berdiskusi dengan teman-temannya, Brianna diam-diam mengambil kesempatan memperhatikan Zionathan. Ada laki-laki yang ia suka, duduk di depannya, dan terlihat sangat tampan meskipun dia telah berkegiatan seharian. Bagaimana bisa Brianna mengabaikannya? Karena itulah, Brianna sadar bahwa ada yang tidak beres dengan Zionathan.

Back To You (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang