FOLLOW SEBELUM MEMBACA!
SEQUEL PERJODOHAN MANTAN
BISA DIBACA TERPISAH!
****
Dunia Zionathan adalah Brianna.
Dunia Brianna adalah Zionathan.
Yah, setidaknya itu yang dikatakan orang-orang di sekitar mereka yang selalu merasa bahwa mereka lebih dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•°★
Zionathan bangun dengan kepala yang berdenyut. Ia masih menutup matanya, berusaha meredakan pusing di kepalanya. Setelah beberapa saat, ia bangkit dari posisi rebahnya. Ia melihat ke sekeliling. Rupanya ia tertidur di sofa. Maisya pasti mengantarnya hanya sampai sini. Ia harus berterimakasih pada gadis itu nanti.
Ia beranjak dari sofa, berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Tenggorokannya terasa kering sekali setelah mengonsumsi minuman alkohol kemarin. Semua karena Jo dan Jarrel. Mereka memaksa memesan alkohol yang kadarnya lebih tinggi dari biasanya.
Tak lama, ia melihat Brianna datang menuju ke arahnya. Wajahnya tampak datar, namun ia sadar akan mata gadisnya yang sembab. Gadis ini menangis? Ia hendak mengajaknya bicara, namun Brianna hanya melewatinya saja. Gadisnya bahkan tidak meliriknya.
Apa yang terjadi?
Mengapa jadi Brianna yang marah begini?
"Bri," panggil Zionathan, yang tak disahuti balik.
Zionathan membuang napas dalam, "Bri, kita harus bicara."
Brianna menutup kulkas dengan kasar setelah mengambil satu botol susu untuk ia tuangkan ke gelas. "Now you wanna talk, huh? Besok aku pergi dan baru sekarang kamu ajak aku bicara?"
"Besok?" Zionathan tidak tahu bahwa keberangkatannya itu besok.
"Hm."
Besok adalah hari di mana cafe-nya akan buka dan ia sudah mempersiapkan banyak hal untuk Brianna, lalu gadis ini akan pergi meninggalkannya besok? Ia tidak percaya ini. Brianna akan meninggalkannya hanya dalam satu hari. Emosi yang sudah ia coba redam itu kembali meruak ke permukaan. Sia-Sia usahanya untuk bisa berbicara dengan tenang.
"What exactly am I to you, Brianna?" Zionathan mengatakannya dengan kekecewaan yang mendalam. Ia kecewa Brianna tidak memberitahunya lebih awal. Jika saja ia tidak menemukan kertas-kertas itu, mungkin sampai besok pun ia tidak akan tahu.
Gelas berisi susu yang hendak ia teguk itu terhenti tepat di depan bibirnya. Ia meletakkannya kembali dan menatap Zionathan. "Well, what exactly am I to you?"
Perkataan Zionathan kemarin malam sama sekali tidak bisa ia hilangkan dari pikirannya. Hal itu membuatnya juga sama emosinya dengan Zionathan. Kemarin Brianna sedih, tapi rasa kesalnya lebih besar sekarang.
"Tell me. What exactly am I to you?" ulang Brianna dengan nada tak santainya.
Zionathan berjalan mendekat, hingga wajah mereka kini saling berhadapan dengan Brianna yang mendongak dengan tampang beraninya.
"Can't answer?"
"What do you mean?"
Dengan santai, Brianna melipat kedua tangannya di depan dada dan menjawab, "Kemarin malam habis diantar Kak Mai pulang sambil mabuk, kan? Terus kamu juga banding-bandingin aku sama Kak Mai. Lupa?"