FOLLOW SEBELUM MEMBACA!
SEQUEL PERJODOHAN MANTAN
BISA DIBACA TERPISAH!
****
Dunia Zionathan adalah Brianna.
Dunia Brianna adalah Zionathan.
Yah, setidaknya itu yang dikatakan orang-orang di sekitar mereka yang selalu merasa bahwa mereka lebih dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•°★
Brianna menutup laptop miliknya sambil menghembuskan napas panjangnya. Dengan mata yang tertutup, ia menyandarkan punggung ke kursi belajarnya itu, bersyukur hari yang melelahkan ini telah usai. Brianna adalah orang yang ingin hidup dengan damai dan tidak ada kata sibuk. Ia tidak mau hidup seperti kedua orang tuanya yang selalu sibuk dan sedikit memiliki waktu luang. Tapi, akhir-akhir ini justru ia menjalani kebalikan dari prinsipnya itu.
Setelah menyelesaikan semester awalnya, Brianna seharusnya menghabiskan waktu dengan berlibur, tapi dia malah sangat sibuk mempersiapkan banyak hal untuk kepergiannya ke Paris nanti. Ia bahkan mengambil kursus bahasa Prancis setiap hari tanpa jeda. Meskipun ia mengambil sesi online, tetap saja melelahkan. Ia melakukan ini agar tidak kesusahan dalam komunikasi di sana nanti.
Ia juga terpaksa harus menunda acara liburan ke vila bersama Luna dan Shakira. Untung saja mereka mengerti akan kesibukkannya. Jangankan untuk pergi berlibur, waktu bersama Zionathan saja harus berkurang. Padahal, mereka tinggal di satu atap. Tapi, memang laki-laki itu pun sama sibuknya. Brianna sering menghabiskan waktu di rumah sendirian karena Zionathan akan pulang saat ia sudah terlelap.
Merasa penat, Brianna kembali membuka laptop kemudian menghubungi ibunya. Di saat lelah seperti ini, ia butuh melihat kedua orang tuanya.
"Halo, sayang..." sapa Retta setelah mengangkat panggilan video dari anaknya.
"Hai, Ma...Mana Papa?"
"Lagi di office. Dia sibuk banget."
"Sama. Bri juga lagi sibuk dan cape. Biasanya ada Zio yang nemenin, tapi dia juga sibuk belakangan ini. Jadinya Bri telepon Mama."
Retta tersenyum melihat anaknya yang memang terlihat lelah. "Cape, ya, sayang?"
Brianna mengangguk dengan bibirnya yang cemberut dengan manja. "Biasanya apa-apa diurusin Mama. Apalagi soal pergi-pergi gini. Bri tinggal pergi aja. Sekarang harus Bri yang urus berkas-berkasnya sendiri."
"Harus belajar. Mau sampai kapan diurusin Mama?"
"Sampai Bri tua."
Sontak Retta tertawa mendengar penuturan anaknya yang sangat manja padanya. "Gimana bisa? Harusnya kamu yang urus Mama waktu Mama tua nanti. Kok malah Mama yang urus kamu?"
Brianna hanya tersenyum kecil mendengarnya. Ia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Ia ingin selalu bisa bermanja-manja pada mereka sampai rambutnya putih nanti. Namun, ibunya ada benarnya juga. Ia yang harus mengurus mereka saat mereka sudah tua nanti.
"Kamu udah kasih tau Zio, Nak?"
Brianna menggeleng pelan.
"Kok belum? Jangan mepet kasih taunya. Bentar lagi berangkat, kan kamu?"
"Iya, tapi Bri gak tau gimana cara kasih taunya. Marah gak, ya, Ma?"
"Kalau dia tau dari orang lain dan mepet, ya marah, sayang. Makanya, kasih tau. Sekarang kalau bisa. Memangnya kamu mau waktu kamu pergi dia gak ada?"