TAKE EVERYTHING SLOW

1.1K 67 24
                                        

•°★

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•°★

Tidak ada detik tanpa dia merasa was-was akan keberadaan Zionathan. Semua ini karena ulah rekaman suara sialan itu. Mengingatnya saja mampu membuat wajah Brianna memerah. Rasa malu itu sama sekali tidak memudar. Malah semakin menjadi setiap detiknya.

Saking dia malunya, dia sama sekali tidak mau berinteraksi dengan Zionathan. Di rumah dan di kampus, ia sama-sama harus menghindarinya. Ia masih belum berani menampakkan wajahnya di hadapan Zionathan.

Namun, khusus untuk hari ini kekhawatiran Brianna berbeda. Bukan lagi soal bertemu Zionathan, tapi bagaimana bisa ia menghadapi Agam. Mereka akan bertemu di pantai dan Brianna akan memberikan jawabannya.

Brianna mengambil kotak hitam pemberian Agam dan ia masukkan ke dalam tasnya. Mendapat notifikasi bahwa mobil yang ia pesan sudah datang, ia pun segera keluar kamar dan turun.

Bertepatan dengan datangnya mobil pesanan Brianna, datanglah mobil Zionathan. Laki-Laki itu habis mengunjungi cafe-nya untuk memerika kesiapan hari pembukaan nanti. Ia sudah cepat-cepat pulang dengan niat ingin melihat Brianna. Namun, gadis itu malah pergi.

"Mau ke mana dia?" gumam Zionathan. Tanpa berpikir lagi, ia langsung mengikuti mobil itu.

*****

Agam menunggu kedatangan Brianna dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tegang, gelisah, juga optimis. Selama ini dia tidak pernah memperlakukan Brianna buruk. Dia selalu membuatnya senang dan selalu ada ketika gadis itu membutuhkan seseorang. Seharusnya, Brianna bisa melihat itu semua dan memberinya kesempatan.

Senyumnya tampak di wajah tampannya saat melihat Brianna berjalan dari kejauhan. Gadis itu mengenakan jeans panjang berwarna putih dengan kemeja kebesaran berwarna pink. Rambutnya ia biarkan tergerai. Agam menyukai tampilan ini.

Semakin dekat, senyumnya bukan semakin lebar, tapi malah perlahan sirna. Ia menyadari bahwa Brianna tidak mengenakan kalung pemberiannya dan di tangannya, ia memegang kotak itu.

"Kak." Brianna menyapa.

Agam hanya bisa terpaku melihat kotak itu di tangan Brianna.

"You don't give me a chance," celetuk Agam. Tidak perlu mendengarnya pun Agam sudah tahu.

Brianna sedih karena harus membuat Agam seperti ini, tapi ia juga tidak bisa menerimanya. "I'm sorry, Kak. Gue gak bisa kasih lo kesempatan itu karena gue tau kalau gue gak akan bisa lupain Zionathan dalam waktu dekat. Bisa jadi satu tahun, dua tahun, bahkan lebih."

Agam mengambil kotak hitam itu dari tangan Brianna. "You don't even give me a chance yet. How can you know that?"

"Because I like him and I love him the most. How can I let someone get any chance if I still have that feeling?"

Back To You (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang