FOLLOW SEBELUM MEMBACA!
SEQUEL PERJODOHAN MANTAN
BISA DIBACA TERPISAH!
****
Dunia Zionathan adalah Brianna.
Dunia Brianna adalah Zionathan.
Yah, setidaknya itu yang dikatakan orang-orang di sekitar mereka yang selalu merasa bahwa mereka lebih dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•°★
Semalaman Brianna menunggu kepulangan Zionathan. Hatinya tidak tenang sampai-sampai ia sama sekali tidak bisa menutup matanya. Matanya itu terjaga sampai matahari terbit karena laki-laki itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Brianna sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif.
Di saat dia sudah putus asa dan hendak beranjak dari ruang tengah, dia mendengar suara pintu terbuka. Ia langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Zionathan dan langsung memberikan laki-laki itu pelukan eratnya.
"Kamu ke mana aja? Aku khawatir, Zio."
Zionathan mendorong pelan gadis itu sampai terlepas paksa dari tubuhnya. Berbicara dengan Brianna sama sekali bukan pilihan yang baik untuk saat ini. Suasana hatinya sangat buruk. Untuk melihat Brianna saja rasanya tidak ingin.
"Kamu ke mana semalam? Tidur di mana? Kenapa gak pulang? Aku khawatir. Aku nunggu sampai pagi. Takut kamu kenapa-"
"Nanti. Gue cape."
Brianna tertegun mendengar betapa dinginnya laki-laki itu. Zionathan seolah tidak peduli akan dirinya yang menunggu semalaman dengan perasaan khawatirnya.
Brianna menghadang Zionathan dan memegang tangannya. "Zio, aku mau jelasin. Kamu harus dengerin aku dulu."
"Gak sekarang."
"Ya, terus kapan?"
"Lo ngerti arti kata cape gak sih? Atau otak lo itu gak bisa ngerti bahasa manusia?"
Bicara Zionathan kasar sekali. Brianna ingin menangis saja rasanya. Mendapat perlakuan serta kata-kata yang manis dan hangat dari Zionathan membuatnya tidak biasa dengan nada juga kata-kata yang kasar seperti sekarang.
"Kamu kok kasar banget ngomongnya?"
Zionathan mengepalkan tangannya melihat kedua mata gadisnya yang berkaca-kaca. Ia juga tidak mau melihat Brianna seperti ini, tapi Zionathan tidak tahu harus melakukan apa. Pikirannya kacau, sama dengan suasana hatinya.
Laki-Laki itu tidak lagi ingin melanjutkan pembicaraan. Lebih baik ia pergi dan menenangkan dirinya supaya mereka bisa bicara. Jika mereka bicara sekarang, yang ada dia juga menyakiti Brianna.
"I get that you're tired, but we need to talk, Zio." Brianna kembali menghadang. Ucapan kasar itu tidak membuatnya berhenti.
Zionathan mendesah frustasi, "Lo pikir setelah apa yang gue liat kemarin gue masih mau ngomong sama lo? Jangankan ngomong, liat muka lo aja gue enggan."
Bisa ia rasakan dadanya yang sesak. Ia tidak menyangka Zionathan akan sekecewa dan semarah ini. Tapi, kenapa? Laki-Laki ini bahkan belum mendengar penjelasannya.
"Kamu kenapa kayak gini sih? Kamu bahkan belum denger penjelasan aku, kan? Kamu boleh kecewa, tapi harus dengerin aku dulu. Kalau gini, kan kamu jadi kecewa gak jelas."