OPEN UP

1K 65 5
                                        

•°★

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•°★

Malam ini, ayahnya bersama dengan kekasih baru juga anaknya itu datang ke rumah untuk menonton film bersama. Namun, alih-alih menonton, ia hanya sibuk meniduri Violetta di pangkuannya dan mengamati ponselnya. Tontonan di layar televisinya menjadi sama sekali tidak menarik.

Anisaa, kekasih sang Ayah itu pun sadar akan hal itu. Maisya terlihat seperti memikirkan sesuatu. Anissa menoleh pada Attaric dan menyikut lengannya.

"Hm?" sahut Attaric.

"Kamu tidurin Violetta ke kamar, ya? Aku mau ngomong sama Maisya," bisiknya.

"Ngobrolin apa?"

"Udah...Sana, gih."

Meskipun penasaran, Attaric tetap mengikuti permintaan Anissa. Maisya membiarkan saja ayahnya itu membawa Violetta.

Anissa berdeham sebelum bergeser lebih dekat pada Maisya.

"Mai."

"Ya, Tan?" sahutnya.

Anissa tersenyum tipis. Maisya memang menjadi lebih lembut padanya. Dia seperti sudah bisa menerima kehadirannya di tengah mereka dan Anissa tidak pernah merasa lebih bersyukur dari ini.

"Tante mau terimakasih karena kamu perlahan udah bisa menerima Tante."

Maisya memanggut-manggut perlahan. "Aku liat gimana Tante sayang sama Papa dan aku perlahan ngerti kalau Papa juga masih butuh seseorang di sisinya. Aku gak bisa terus egois, kan?"

Anissa mengembangkan senyumannya. Baru kali ini mereka duduk sedekat ini dan bisa berbincang. Kekasih ayahnya ini memang cantik. Sudah berumur, namun masih sangat anggun dan menawan. Pantas ayahnya jatuh hati.

Anissa mengambil tangan Maisya untuk ia bawa ke dalam genggaman tangannya dan ia elus dengan lembut. Tindakan ini membuat tubuh Maisya membeku. Anissa mengingatkannya pada mendiang ibunya.

"Kamu harus ingat, ya. Kalau Papa kamu itu gak akan pernah lupakan Mama kamu. Tante pun sangat menghormati dan menghargai itu. Tante ngerti betapa berharganya Mama kamu untuk Papa dan kamu."

Maisya kembali mengangguk. "Iya, Tante. Terimakasih udah mau mengerti hal itu."

Anissa terdiam sebentar sebelum kembali berbicara. "Tante mau tanya boleh?"

"Tanya aja, Tante."

"Kamu lagi ada masalah? Muka kamu kayak banyak pikiran."

Maisya terkekeh kecil. "Ketara banget, ya?"

"Hmm...Tante tebak, masalah sama Zio?"

Tebakan yang tepat sasaran. "Hm."

"Kalau mau cerita, boleh banget. Tante ini ahlinya soal begini."

Senyuman gadis itu muncul. Kekasih ayahnya ini ternyata cukup lucu. Maisya merasa leluasa dan tidak canggung sama sekali.

"Boleh, Tan?"

Back To You (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang