FOLLOW SEBELUM MEMBACA!
SEQUEL PERJODOHAN MANTAN
BISA DIBACA TERPISAH!
****
Dunia Zionathan adalah Brianna.
Dunia Brianna adalah Zionathan.
Yah, setidaknya itu yang dikatakan orang-orang di sekitar mereka yang selalu merasa bahwa mereka lebih dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•°★
Untuk pertama kalinya, akhirnya lemari pakaiannya, yang selalu terlihat berantakan itu kini terlihat rapi. Sambil menunggu Zionathan selesai rapat, Brianna memutuskan untuk merapikan lemarinya sembari menyimpan beberapa pakaian musim dingin yang baru ia beli untuk dia ke Paris nanti. Saat dia di sana, musim dingin yang akan menyambutnya. Brianna sangat bersemangat akan hal itu.
"Kamu habis beres-beres?"
Mendengar suara itu, seketika ia memasukkan asal pakaian tebal yang ia pegang ke dalam lemari kemudian menutupnya dengan cepat. Tubuhnya berputar, menatap Zionathan dengan senyuman di wajahnya seolah tidak ada yang ia tutup-tutupi.
"Iya."
"Tumben," balas Zionathan, berjalan mendekat.
Brianna pun ikut melangkah, bertemu laki-laki itu di tengah. "Lagi pengen aja. Ternyata pusing juga liat lemari aku yang berantakan."
"Sadar juga akhirnya?"
PUK
Brianna menepuk lengan kekar itu mendengarnya. "You are not Zionathan if you don't make fun of me for a day."
Zionathan melingkarkan tangannya di leher gadis itu dan membawanya pada tubuhnya sampai tidak ada jarak lagi yang tersisa. "Maybe that's my love languange."
"Cih, love language kayak gitu," cibirnya.
Zionathan tersenyum pelan seraya mengecup dahi Brianna. Tindakannya yang tiba-tiba bersikap manis seperti ini membuat Brianna menaruh rasa curiga. Pasti laki-laki ini ada maunya.
"Apa? What do you wanna say to me?"
"Kok tanya gitu?
"I know you wanna say something. Tell me. Quick."
Zionathan memang terlalu keliahatan. Ia sedikit memberi jarak dengan wajah Brianna. "Aku mau minta izin."
Di dahinya terukir tiga kerutan. Tentu dia bingung. Jarang-bahkan hampir tidak pernah-Zionathan meminta izin padanya.
"Apa?"
"Jo sama Jarrel ajak aku main."
"Ya, mainlah. Sana."
"But, there's something you should know."
"Apa? Kamu gak to the point dari tadi."
Zionathan menjauh, menatap Brianna serius. "Gak cuma Jo dan Jarrel, tapi ada Anne, juga Maisya. Is that okay?"
Brianna menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal. Dulu, dia memang akan cemburu jika laki-laki ini pergi bersama dengan Maisya, tapi kini dia tidak lagi memusingkan hal itu. Toh, dia sudah tahu perasaan Zionathan yang sebenarnya.
"Go ahead. Kenapa harus izin gini?"
"I want to make sure you're okay with that. Jo sama Jarrel ajarin aku itu."