chapter 9 : syukurlah

23 13 2
                                        

Anna yang saat itu membawa pisau dan surat yang membuat Icha ketakutan karena isi dari surat tersebut ialah surat dari Kana yang selama ini di simpan oleh Anna sejak temannya meninggal tersebut, ia juga membawa sebuah perekaman suara.

Anna membuka rekaman suara tersebut yang terdengar suara Icha yang sedang membully kana dan suara ejekan saat ia membully Anna dan Laura.

"Cukup!! Atau lu mau gue buat hidup lu lebih menderita?! " Teriak Icha yang mencoba mendekat ke arah Anna tapi di tahan oleh Chloe.

Anna tetap lanjut memutar rekaman suara soal pembullyan yang di lakukan oleh geng nya Icha.

"Sekarang gue bakalan bacain surat yang di tulis oleh kana sebelum dia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya karena di bully oleh babi!! " Ucap Anna dengan tegas dan menatap tajam semua orang.

"Gue Kana, gue udah gak sanggup menerima bully an dari Icha dan teman temannya, gue udah sering di pukuli setiap pulang sekolah baju gue selalu kotor karena di ganggu sama Icha, gue pernah gak masuk sekolah tapi dia malah nyamperin ke rumah gue dan hasilnya gue di pukuli di rumah gue sendiri, alasan kenapa dia bully gue karena gue temennya Anna, alasan yang aneh....
Gue masih bisa tahan sama perbuatan lo tapi lu sampe ngebuat temen gue Anna mau bunuh diri di rumahnya saat gue kerumahnya alhasil gue ngelawan lo dan Lo malah cari kelemahan gue dengan cara cari riwayat kriminal keluarga gue dan itu bukan perbuatan gue tapi kenapa harus gue yang nanggung rasa malu?!
Gue udah gak sanggup ama perlakuan elu yang kekanak-kanakan dan ngebuat korban lu sampe mau bu*uh di*i!!
Bukan mau tapi emang gue pengen bunuh diri!!
Biar gue aja yang mati Anna jangan!! Dia sahabat gue dan gue sayang sama dia jadi lo jangan ganggu dia!!
Gue bakalan bu*uh di*i di kamar mandi sekolah dan gue pengen lu di keluarin dari tu sekolah karena lo gak pantes sekolah di sana!!
Pembully!! Gue sumpahin lu hidup lu sengsara!!"

Isi surat dari kana yang di temukan oleh Anna di rumahnya membuat semua orang terkejut dengan apa yang telah Icha lakukan.

"Bohong!! Itu semua bohong!! " Teriak Icha yang sedang mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.

Selama Icha membully tidak ada korban yang berani angkat bicara karena takut dengan Icha akan semakin parah membully nya, ini adalah yang pertama kali Icha rasakan dan hal tersebut dan membuatnya sangat ketakutan.

Semua orang menatap Icha dan 2 teman nya dengan tatapan jijik.

Guru guru akhirnya berkumpul di keramaian tersebut dan menerobos masuk.

"Sudah!! Kana udah tenang di sana jadi biarin aja " ucap salah satu guru dan membantu Icha untuk bangun.

"Kalian ini sudah mau kelas 12 dan masih aja kayak anak anak, lihat Icha ketakutan tuh" ucap guru tersebut sembari memeluk Icha yang bergetar tersebut.

"Pak guru... Icha takut.." ucapnya lirih di dalam pelukan guru tersebut.

"Awas aja kalau ada apa-apa sama icha, bapak bakalan urus kasus ini" pembelaan guru tersebut kepada Icha.

"Pak? Apa maksud anda? Di sini kana lah korbannya dan Icha lah pelakunya, apa yang bapak lakukan? " ucap Anna dengan wajahnya yang terheran-heran dan nafas cepat nya membuat keringatnya bercucuran.

"Itu sudah kasus lama!! Jadi biarkan saja tapi kali ini sudah melewati batas dan bapak bakalan ambil tindakan " ucap guru tersebut.

"Kasus lama?! Pak saat kasus tersebut ada kenapa pihak sekolah lebih memilih diam dan tidak melakukan apapun?! Sedangkan di saat pelakunya tertangkap bapak malah membelanya?! Apa maksud bapak?! " Teriak Anna dengan napas cepatnya sedang menahan amarahnya.

"Ini bukan pembelaan tapi kalian sudah kelewat batas --" ucap guru tersebut tapi terpotong dengan teriakan dari Anna.

"Kelewat batas?! Lalu apa yang di lakukan Icha tidak kelewatan batas?! " Teriaknya.

Regret My Life Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang