chapter 3 : rumah Aurora

28 20 0
                                        

.
.
(Cerita Glory)

Jadi kemarin saat Glory keluar dari kelas nya ia tidak sengaja berpapasan dengan marvin karena itu ia bergegas berpamitan dengan teman temannya lalu berlari menyusul Marvin, saat itu Glory berada tepat di belakang Marvin ia berjalan mengikutinya dengan wajah yang memerah bagaikan tomat.
"Aduhh ini gue gimana? Masa terus ngikutin di kira orang aneh nanti" batin Glory dengan menggenggam tangannya.

Glory berjalan menunduk karena tersipu walaupun tidak terjadi apapun tersebut tidak sengaja menabrak Marvin yang tiba-tiba berhenti.

Glory kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh untungnya Marvin dengan sigap langsung meraih pinggang Glory dengan tangan kanannya dan tangan kirinya sedang mengangkat telepon, ia memberikan isyarat bahwa Glory untuk diam karena ia harus menjawab telepon, Marvin pun menjawab telepon tersebut sedangkan Glory mencoba untuk bangun tapi lengan Marvin mencengkram erat pinggang Glory.

"Ugh" desah Glory karena kesemutan tidak dapat menggerakkan badannya.

Selang beberapa menit kemudian akhirnya Marvin sudah selesai menelpon ia memasukkan ponsel di kantongnya dan melepaskan cengkraman tangannya di pinggangnya.

"Oh maaf kalo tadi kelamaan" ujar Marvin
"Y-ya gak apa apa kok " jawab Glory

Marvin pun melanjutkan jalannya dan Glory juga karena kebetulan mereka satu arah, saat Glory berbelok masuk apartemen ternyata Marvin juga ikut ke apartemen tersebut.

"Loh? " Ucap Glory kebingungan.
"Ha? " Sahut Marvin.

Setelah itu pun hanya hening yang terjadi di antara mereka, lift pun sampai dan mereka juga berjalan ke arah yang sama saat mereka sedang menyusuri lorong apartemen Marvin berhenti di kamar no 431 yaitu kamar Carlos.

Glory hanya menatap bingung sampai saat kakak Carlos membuka pintu, mereka berbincang sebentar dan terdengar suara teriakan anak kecil dari kamar tersebut.
"Kakak" teriakan anak kecil tersebut

Tiba tiba Marvin meletangkan kedua tangan nya dan anak kecil tersebut melompat di pelukannya.
"Marcel udah lama nunggu kakak? " Ucap Marvin sembari mengelus rambut anak tersebut.
"Iyaa aku kangen kakak " ucap Marcel sambil memeluk kakaknya itu.

Glory yang melihat dari kejauhan tersenyum lembut dan pergi.
"Ternyata punya adik" batinnya

Glory masuk ke kamar apartemennya dan memulai memasak untuk kakaknya yang pulang bekerja, saat suara langkah kaki kakaknya terdengar ia langsung mendekati pintu tepat saat kakaknya mengetuk pintu Glory langsung membuka pintu tersebut dan tersenyum melihat kakaknya yang baru pulang bekerja tersebut.
"Kak aku udah masak ayo makan bareng" ucapnya sambil meraih tas kakak nya untuk di simpan.
"Baiklah" jawab kakaknya dan pergi duduk di meja makan.

Mereka mulai makan bersama dan saat di tengah tengah makan Selena berbicara.
"Glory, lusa papa minta kita kerumahnya" ujar kak Selena
"Papa? Tumben" sahut Glory dengan tatapan tidak peduli.
"Iya nanti ketemu sama adik sama kakak kita" ucap kak Selena mencoba menyenangkan adiknya tersebut.
"Adik kakak kita? Adik kakak tiri kita yang bener" sahut Glory dan langsung bangun dari meja makan.
"Ya tapi kita harus berangkat bareng ya? Mama juga mau ketemu jadi besok rame rame" ucap kak Selena

Glory yang mendengar hal tersebut langsung masuk ke kamarnya, kakaknya yang melihat Glory masuk ke kamarnya mencoba mendekati pintu kamarnya tersebut di luar pintu terdengar isak tangisnya kakak nya yang mendengar hal tersebut mengetuk pelan pintu kamar nya.
"Glory" panggil lembut kakak nya sembari membuka pintu kamar, ia masuk dan melihat Glory yang sedang menangis sambil mencakar tangan nya sendiri.

Selena langsung bergegas memeluk erat adiknya tersebut dan menenangkannya.

Glory pun memendam wajah nya di dekapan kakaknya tersebut, ia menangis sampai akhirnya ia berhenti menangis dan mulai mengenakan diri.
"Glory kamu gak boleh terus nangis okey? Kakak ada disini" hibur kak Selena kepada Glory.

Regret My Life Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang