Beberapa menit menunggu, BoBoiBoy akhirnya datang ke kelas. Aku lihat mukanya biasa saja, sepertinya tidak ada apa-apa.
Aku menghampirinya dan berkata, "BoBoiBoy, ngga kena marah sama guru kan?" Tanyaku ragu.
Dia bermuka sedih sedikit, lalu tertawa.
"Pftt ahaahaha, kau cemas ke? Hahaha," jawabnya mengejekku.
Aku langsung mengambil tasku dan hendak pulang, dia menggenggam lengangku,"eh, kejab. Tunggu saya," ucapnya sambil terburu-buru merapikan mejanya.
Aku menunggunya didepan pintu. Dia menghampiriku setelah menggendong tasnya. "Jom pulang," ucapnya.
Kita berjalan menuju ke parkiran sekolah, tempatnya ada di belakang. Posisiku berada di depan dan BoBoiBoy di belakangku. Dia sepertinya sedang sibuk memainkan handphonenya.
"Main hp mulu, awas ketabr-" ucapku terpotong.
BRAKK
Dia sudah kena azabnya terlebih dahulu, dia meringis kesakitan akibat kepalanya terbentur tiang bendera.
"Aduhh, sakitnye.." rintihnya.
Aku berbalik badan dan segera menolongnya tuk berdiri. "Kamu ngga apa-apa?" Tanyaku.
"Tak pe, benjol dikit je," jawabnya.
Dia berdiri dan langsung memasukkan hp kesayangannya ke kantung celananya.
"Heyy, BoBoiBoy! Sini kejab!" Ada anak futsal memanggilnya.
Kulihat ia menoleh dan hendak menuju kearahnya. Aku meneruskan langkahku ke tempat parkiran. Dia menggenggam lengangku lagi dan menyeretnya ke arah anak futsal.
"Hey, BoBoiBoy! Lama tak jumpa!" Ucapnya sambil bersalaman ala ala anak gaul dengan BoBoiBoy.
"Hai juga!, hehe," balas BoBoiBoy.
"Kau tak nak ikut eksul ni kah? Kita nunggu kau," katanya.
"Mestilah!" Jawabnya antusias.
Anak futsal berkerumun di sekeliling kami dan berbincang-bincang dengan BoBoiBoy. Sampai ada satu orang yang melirikku, "eh, siapa ni Boy?" Tanyanya.
"Oh, dia ni kawan aku," jawabnya sambil tersenyum.
Aku mengangguk dan tersenyum.
"Tapi, kenapa kau asik pegang tangan dia?" Tanyanya.
"Eh?!!" Batinku, aku melirik kebawah dan ternyata benar apa yang dibicarakan anak itu.
"Eh eh, sorry sorry," katanya sambil menggaruk-garuk kepala dan ia pun melepaskan tanganku.
Setelahnya BoBoiBoy berpamitan kepada anak futsal tadi. Kami berdua meninggalkan lapangan dan menuju ke parkiran.
Di keheningan, aku memutuskan untuk bicara, "BoBoiBoy sudah kenal anak futsal," tanyaku.
"Mestilah kenal, dia orang kawan lamaku kat Malaysia," jawabnya.
Aku hanya meng-oh-kan saja. Aku mengambil sepedaku dan mengucapkan selamat tinggal kepada BoBoiBoy.
Aku mampir ke supermarket dulu untuk beli bahan masakan, karena dirumah sudah mulai habis. Aku memarkirkan sepedaku dan menguncinya. Aku sudah buat list daftar belanjaan yang akan kubeli kemarin.
Saat mencari bahan-bahan, bahannya ada diatas. Aku menjinjit, mengulurkan tanganku, melompat-lompat. Tapi tidak bisa.
2 menit....
5 menit....
10 menit....
"AKHHH, KENAPA LETAKNYA DIATAS. BUKANNYA BULAN LALU LETAKNYA NGGA TERLALU ATAS GINI," batinku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Back to reality
FanfictionHanya seorang anak yang biasa. Sudah bertahun-tahun kehidupannya biasa-biasa saja. Seperti halnya dengan remaja pada umumnya, dia juga punya sesuatu yg sangat disukai, hobi, kegemaran, dan lain-lain. Namun, di suatu hari terdapat lelaki populer yang...
