Keesokannya disekolah.
Aku datang lebih dulu karena hari ini jadwalku piketku. Aku menaruh tasku dan jaketnya di atas meja.
Segera aku menyapu lantai kelas dan menghapus papan tulis, "selesai deh, beres," batinku.
Aku kembali duduk ke bangkuku. Aku lihat BoBoiBoy sudah datang, dia langsung lari ke mejanya dan memeluk jaketnya erat-erat. Aku mengalihkan pandanganku ke jendela, "kenakak-kanakan," pikirku.
Bel berbunyi, pelajaran pun dimulai.
Beberapa hari berikutnya, juga seperti hari-hari biasanya. Esktrakulikuler kebanyakan aktif pada bulan depan. Jadi, pulang hanya sampai jam 3 sore saja. Kemudian, esoknya kembali sekolah lagi.
Seminggu berlalu...
Dua minggu berlalu...
Tiga minggu berlalu...
Beberapa ada yang bosan, beberapa ada yang meronta-ronta ingin liburan lagi.
Pada minggu keempat, di hari jum'at. Para guru mulai mengumumkan adanya ulangan harian, aku mulai cemas, karena belakangan kali ini aku agak sulit fokus karena anak sebangkuku ini.
Kadang dia suka bertanya hal yang aneh, yang membuat orang untuk berpikir, seperti ini,
"Y/n saya nak tanya, macam mana belajar bahasa Indonesia lancar dan laju?"
"Y/n kenapa malin kundang tu sama persis ke macam si tanggang?"
"Y/n macam mana reaksi pokok cactus selama bulan puasa?"
"Y/n macam mana rawat kucing yang baik?"
"Y/n air dengan manusia, banyak mana populasinya?"
"Y/n martabak dengan terangbulan tak sama ke?"
Belum lagi, dia selalu bawa aku ke ruang guru karena tidak tahu nama guru dari meja guru. Lalu, dia selalu kekantin sama aku, gara-gara mata uangnya beda. Kadang aku sering mentraktirnya malahan, gara-gara penjual kantin bingung kembaliannya.
Bel berbunyi, waktunya pulang.
"Huft, ini bikin kepala pusing," pikirku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Y/n kau oke?," tanyanya.
Aku hanya memberikannya jempol.
"Esok kau free?" Tanyanya lagi.
"Iya, kenapa?," balasku.
"Kalau macam tu, jom belajar sama-sama, hehe," ajaknya.
"Oke oke, dirumah siapa?" Tanyaku.
"Kat rumah teman aku," jawabnya sambil mengemasi tas.
"Oke, sharelock ya," kataku.
"Ehh, tak tak," tolaknya.
"Kenapa? Nanti aku ngga tau tempatnya dimana, nyasar nanti," jelasku.
Dia tertawa pelan, "tenang je, nanti aku jemput kau," jawabnya.
"E-ehh, rumahnya temanmu jauh?," tanyaku sambil mengemasi tas.
"Jauhhhh sangattt," jelasnya.
Dan aku percaya dan mengiyakan. Dia menyodorkanku totebag. "Apa ini BoBoiBoy?" Tanyaku.
"Bukalah, ambil satu sesuai ukuran tau," jawabnya.
Aku membuka totebagnya, isinya pakaian, seperti kaos bertulisan. Aku ngga bisa baca dengan jelas tulisannya karena terlipat. Aku menggambilnya dan memasukkan ke dalam tas.
Ia mengambil totebagnya kembali dan memasukkannya kedalam tas.
"Itu dari kawan aku, pakai ye esok. Jangan lupa esok jam 7 tau!" Katanya sambil buru-buru meninggalkanku.
Karena aku sudah menyapu lantai tadi pagi, aku hanya menghapus papan dan merapikan bangku seusai sekolah.
"Huft," aku meregangkan kedua tanganku ke atas.
Yang lain? Jangan tanya mereka selalu kabur duluan jika piket. Yang tersisa sekarang hanya aku dikelas, sendirian. Aku menutup jendela dan pintu kelas, berjalan menuju parkiran dan mengambil sepeda pancalku.
Aku pulang kerumah seperti biasanya.
~
KAMU SEDANG MEMBACA
Back to reality
FanfictionHanya seorang anak yang biasa. Sudah bertahun-tahun kehidupannya biasa-biasa saja. Seperti halnya dengan remaja pada umumnya, dia juga punya sesuatu yg sangat disukai, hobi, kegemaran, dan lain-lain. Namun, di suatu hari terdapat lelaki populer yang...
