02 | Aih Sayang!

781 122 35
                                        

Nadin baru saja sekejap merebahkan badan di kamar mess pegawai ketika sebuah ketukan pintu muncul. Duh, jam berapa ini? Siapa juga yang ngetok?

Hari ini memang tidak ada kerja sampe lembur karena acaranya berlangsung siang hari. Acara bersih-bersih perabotan dan peralatan lain juga sudah selesai tadi sekitar 2 jam lalu. Lalu ini siapa?

Agak malas Nadin menyambar hijab kecilnya dan berjalan menuju pintu kamar.

Matanya mengedip tak percaya. Siapa ya?

"Sorry, kamu bisa masakin nasi goreng gak? Gw laper"

"Maaf, bapak siapa?"

Mata didepan Nadin membola dan menatapnya tajam.

"Loe anak baru? Gw bos disini!" Sentaknya tajam.

Aduh, Nadin langsung mengkeret dibuatnya.

"Ii ii yaa.. baik Pak, saya buatkan sebentar"

Duh, pusing kepala Nadin dibuatnya. Ngapain coba malem-malem gini minta dia masak. Bukannya warung diluaran banyak. Kan bikin bete. Ah sudahlah, dia harus ikhlas menjalani ini semua. Apalah daya dia hanya seorang pekerja.

Gadis itu langsung masuk kembali untuk berganti pakaian yang lebih baik. Apa itu kali ya yang namanya pak Paundra?

Karena yang tinggal di mess ini hanya dia dan beberapa pegawai yang sudah menikah, otomatis Nadin tinggal di kamar sendiri. Tentu saja dia segan kalau harus membangunkan mereka.

Usai dirasa cukup layak keluar, gadis itu bergegas menuju dapur kecil yang biasanya memang digunakan untuk memasak yang simpel-simpel. Kalau dapur besar, tentulah menjadi dapur utama dari usaha katering ini.

"Bikin 5, gw lagi sama temen-temen mo begadang!"

Nadin hanya mengangguk kecil mendengar perintah lelaki itu. Apa dia itu yang namanya Paundra ya? Nadin belum familiar dengan putra bosnya yang satu itu.

"Nama gw Paundra. Loe gak usah curiga gw bakalan ngapa-ngapain loe karena ini kantor keluarga gw. Buruan ya, jangan lupa pedasnya sedang aja jangan kebanyakan"

Kembali Nadin mengangguk dan melihat stock nasi yang ada di magicom. Duh, untung nasi di magicom besar itu masih cukup untuk 5 orang. Jadi gadis itu gak perlu masak nasi dulu.

"Gw tunggu di gazebo depan. Loe jangan lelet bikinnya! Gak pake lama!"

Derap langkah meninggalkan area dapur terdengar keras menggema. Meninggalkan Nadin yang mulai melakukan pengecekan perlengkapan memasaknya. Ngantuk-ngantuk juga terpaksa kan harus dikerjakan?

Nadin sudah terbiasa memasak sejak Ibunya meninggalkan ia dan adik-adiknya di rumah sang Kakek. Ibunya sendiri berjualan warung nasi di rumah sakit umum untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Karena dia tak menemukan bumbu instan di dapur, Nadin terpaksa meracik bumbu yang biasa ia bikin sewaktu di kampung. Tokh rasanya juga gak memalukan.

Sambil memasak ia berpikir. Kenapa ya sikapnya itu kayak songong bin gak sopan? Mirip mirip sama si Elang itu juga. Apakah ada yang salah dengan didikan orang tuanya.

Memikirkan kejadian dulu saja Nadin dibuat kesal dan ingin teriak kencang sekalian jambak rambutnya. Ini malah dipertemukan lagi dengan sodaranya yang gak jauh beda kelakuannya. Heran!

Ah sudahlah, jauh-jauh saja dengan dua bersaudara itu. Yang penting aku kerja dan berusaha menghindari mereka. Aman kan?

🌷

"Lu semalem masak apaan Din? Gw nyium bau harum banget dari dapur sebelah. Elah, gw kagak ngimpi kan?"

Mpok Yati yang tengah asyik mengupasi kentang menyapa rungu Nadin.

Berhenti DikamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang