08 | Dua bersaudara

412 96 18
                                        

Gerimis hujan kecil-kecil, mengawal kepulangan Ibunya Nadin ke rumah kakek neneknya di sebuah kampung kecil dan sunyi di kaki gunung terbesar di Jawa Barat.

Sudah seminggu Nadin di kampung karena khawatir dengan kondisi ibunya yang progres kesembuhannya agak lambat. Tapi sejak mengkonsumsi makanan sehat yang ketat dan asupan obat rutin, akhirnya tensi darahnya berangsur normal.

"Teh, kamu gak papa semingguan gini gak kerja? Gak dipecat?" Tanya sang Ibu yang sudah berbaring dibale-bale rumah mereka di halaman samping rumah.

"Teteh udah izin Bu. Gpp, ibu prioritas Nadin dulu saat ini. Makanya ibu sehat ya, saran dokter di ikutin. Gak usah banyak mikir ya Bu.."

Perempuan paruh baya itu mengangguk pelan.

Nadin melihat ibunya seperti menerawang memandang langit-langit rumah yang terlihat agak lapuk terkena usia. Ibu kenapa? Melamunkan apa?

"Tahu gak Teh, Ibu ngimpiin bapak kamu terus semingguan sebelum sakit.."

Deg, jantung Nadin terasa berdebar. Koq ?

"Ibu tuh kepikiran terus jadinya, kalut. Mikirin terus, apakah Ibu ada salah sama bapak? Kenapa ujug-ujug pergi tanpa kabar dan tanpa pesan apa-apa. Dia masih hidup apa enggak, ibu bingung kudu gimana. Hikss.."

Nadin meraih tangan ibunya menenangkan.

"Ibu mau cari kemana coba? Ibu mah urang kampung. Dulu ke Jakarta juga kan dibawa bapak kamu. Sudah berapa tahun Bapak pergi ya Teh.. Ibu kangen.. hikss"

Jadi ini masalahnya. Ibu ingat Bapak? Ibu kangen sama bapaknya itu?

Nadin meraih telapak tangan ibunya lalu mengelusnya lembut. Mencoba menguatkan mental beliau yang sepertinya tengah menurun.

"Bu, kalo misal ibu kangen Bapak ya gak apa-apa. Tapi jangan dipikirin dalem-dalem. Kan ibu bisa sibukan diri sama kerjaan, sama masak, jangan dibawa ke kepala. Inget ibu kan punya darah tinggi, gak boleh stres. Nanti kepikiran terus ibu sakit lagi kayak gini gimana? Jangan ya bu.. jangan pikirin Bapak lagi. Banyak doa sama Allah semoga dikasih petunjuk agar bapak bisa kembali"

Bu, andai ibu tahu, bapak udah punya yang lain. Lepaskan bapak. Nadin membatin sendiri.

"Tapi bapak itu gak pernah ada masalah sama Ibu Teh, selama ini kami baik-baik aja. Teteh tahu kan ibu gak pernah berantem sama Bapak. Ibu gak pernah nuntut apa-apa walo hidup kita juga pas-pasan"

Amat paham. Ibunya sering curhat soal ini padanya. Nadin tahu sekali kalau ibunya termasuk orang yang tak banyak menuntut. Dari kecil, ibunya selalu menjadi pengalah dibanding Bapaknya yang kadang banyak bicara.

Ingin rasanya Nadin bocorkan pertemuannya dengan sosok yang disebut Bapak itu. Tapi untuk apa? Kondisi ibunya sedang kurang baik. Jangan sampai beliau jadi makin tenggelam dalam kesedihannya.

"Oh ya teh, pacar kamu mau jemput enggak kalo kamu pulang? Biar ibu masakin pepes andalan ibu buat ngejamu dia.."

Halah, pacar dari mana? Nadin gondok terus lihat kelakuannya yang kayak otoriter gitu.

Gadis itu berdecak kecil.

"Bukan pacar Nadin Bu, itu bos di kantor yang gak tahu koq ngadi-ngadi pisan. Galak gitu bu.."

"Masa sih? Kayaknya sama Ibu suka senyum sopan gitu. Walau gak banyak omong, tapi kayaknya baik.."

Netra Nadin membola mendengarnya. Baik sih baik, tapi duh.. jangan sampai dia berjodoh dengan makhluk jutek begitu. Seenak udelnya juga menurut Nadin.

Hingga muncullah sebuah salam terdengar dari depan rumah Nadin membuat ia dan ibunya menoleh ke arah sumber suara.

"Assalaamu'alaikum.."

Berhenti DikamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang