Udara malam semakin dingin ketika Nadin duduk menunggu di kursi tunggu travel selarut ini. Pikirannya kosong dan mengembara tak karuan dengan kejutan yang ia alami tadi di resto.
Ia tak menyangka, sosok itu tidak mempedulikan keberadaannya. Sosok yang ia panggil Bapak belasan tahun lamanya tapi semudah itu beliau melupakannya. Ya Tuhan, kenapa ini terjadi?
Saat ia memberikan pesanan mereka dengan tangan bergetar, Nadin menatap mata hitam di wajah tua yang masih tampak segar dan berwibawa. Bapak, apa Bapak lupa dengan Nadin?
Gadis itu mengusap pipinya yang basah karena air mata. Sedari di ojek online tadi, ia tak henti menangis.
Bapaknya, seperti amnesia melihat Nadin. Bahkan ketika Nadin menyapanya lirih dengan sorot mata penuh kesedihan, lelaki tua itu seperti tidak mengenal Nadin. Ada apa dengan Bapaknya?
Nadin kembali mengusap pipinya yang kembali basah. Belum lagi bayangan akan ibunya yang tergolek sakit di kampungnya sana, tangisannya tak dapat ia bendung. Makanya Nadin memutuskan pulang malam ini karena mengkhawatirkannya. Walaupun dompetnya menipis, ia yakin uang masih bisa ia cari, tapi bertemu Ibu adalah prioritasnya saat ini.
Update terakhir tadi kata Adi, Ibunya masih lemas dan sepertinya kesadarannya mulai menurun. Jelas Nadin semakin kuatir dan memutuskan untuk pulang malam ini juga.
Usai mendapatkan izin dari mbak Dara selaku penanggung jawab Resto, dia bersiap untuk pergi ke tempat travel. Untungnya masih ada pemberangkatan jam 11 malam untuk kloter terakhir.
Brak!
Nadin terperanjat. Duh, hampir saja dia melompat dari kursinya. Netranya kontan melihat sosok si biang onar tersebut.
"LOE MAU KEMANA?"
🌷
Entah apa yang Nadin pikirkan, rasanya kepalanya mau pecah saja. Kenapa semua masalah muncul dalam satu malam? Soal Bapaknya, Ibunya, dan sekarang bosnya.
"Tidur, kalo ngantuk!"
Nadin hanya mengangguk kecil.
Apa-apaan coba ini? Kenapa ia jadi pulang kampung dengan bosnya? Siapa yang menyangka?
Orang itu, kenapa jadi sepeduli ini? Padahal sikapnya sering tak ramah dan membuat Nadin tak nyaman dibuatnya. Nadin tak menyangka, kenapa harus dia? Kenapa Paundra yang mengikutinya saat keluar resto tadi?
"Maaf Mas, jadi merepotkan" cicit Nadin agak takut karena kegalakannya.
"Bosen!"
Ih, Nadin kan betul-betul minta maaf karena lelaki itu jadi harus ikut dengan dia ke kampung. Duh, menyebalkan tapi responnya.
"Nadin tulus Mas"
"Brisik!"
Ya ampun, Nadin jadi serba salah dibuatnya. Terpaksalah ia kembali diam dan menatap jalanan yang cukup sepi didepannya.
Berdua saja didalam mobil yang dikemudikan lelaki itu, Nadin banyak berdoa dalam hati. Kecepatannya itu yang membuat nafasnya banyak tertahan dari tadi. Takut dan cemas jadi satu.
Tanpa terasa, hanya sekitar 2 jam saja ketika Nadin tiba di kotanya yang sepi dan dingin tak tertahankan. Benar-benar ngebut tanpa berhenti sama sekali.
Nadin sudah memberikan petunjuk dimana lokasi rumah sakit yang akan dia datangi. Dia juga sudah mengabari Adi bahwa dirinya sudah tiba di Kota mereka.
Gadis itu sampai mengucapkan terima kasih berkali-kali saat pamit hendak turun. Tak peduli hanya wajah datar saja yang ia dapatkan, Nadin tetap harus menghargai pertolongannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Berhenti Dikamu
ChickLitMenjalani hidup yang sempurna tentu keinginan semua orang. Uang berlimpah, makan dan tidur nyaman, pendidikan tinggi, jalan-jalan kemanapun bisa tinggal suruh pak sopir mengantar kita kemanapun, amat sangatlah indah untuk dibayangkan. Sayangnya semu...
