"Percintaan itu memuakkan," ujar Aleena Gasha Zinantya.
"Gak punya pacar tapi punya support system itu asik," ujar orang lain yang berakhir terikat dengan hubungan 'kekasih', Aruna Rumantara.
"Jomblo itu asik," ujar seorang lain yang tetap menjomblo...
Setelah saat-saat yang canggung dan awkward setelah keduanya kembali dari kantin tadi, akhirnya Havina dapat dekat juga dengan keluarga Damar, mereka semua ramah sih. Dirinya juga mudah bergaul, meski sedikit heboh--katanya.
"Dam, tan, kak, saya izin pamit ya. Ada janji, tadi saya bilangnya nyusul, kalau kelamaan takut pada ngomel hehe," ujar Havina sopan sembari bangkit dari duduknya.
"Hati-hati ya," ujar ibu Damar dengan senyuman tulus.
"Ada sepupunya Gasha sama pacarnya di kamar Alen." Damar memberitahu mengenai hal tersebut yang membuat Havina mengernyit.
"Gue ga punya kenalan sepupu Gasha sih, jadi mari berkenalan!" Ujarnya bersemangat lalu meninggalkan ruangan tersebut dengan senyuman khasnya.
"Jadi, bocah tengil ini lagi kasmaran ya," goda kakaknya sembari tertawa membuat Damar memasang ekspresi kesal.
"Kayak kakak gak pernah kasmaran aja," sahut Damar tak terima.
"Kalau gak pernah ini gue disini apaan?" Tanya kakak iparnya tak terima.
. . . . .
Mari meninggalkan keributan tersebut dan menuju pada sepasang insan yang masih beradu argumen hingga saat ini.
Abi dan Aruna nampak sama-sama menahan kesalnya saat tau bahwa ini adalah ulah konyol dari Kiana dan Havina.
"Ngapain lo ga pulang?" Tanya Aruna dingin sembari melirik Abi yang berdiri tak terlalu jauh darinya. Posisinya ia berdiri menyandarkan punggungnya pada tembok sembari bersidekap dada sementara Abi berdiri di dekat kursi halaman belakang.
"Kakak juga ngapain ga pulang?" Tanya Abi membalikkan pertanyaan Aruna.
Demi tuhan, jangan buat kesabaran Aruna habis atau kata-kata tajam Aruna akan keluar di saat seperti ini. "Gue nanya kenapa lo balikin?"
"Aku nanya kenapa kakak nanya balik?" Abi menyahut tanpa ragu, kali ini biarlah Aruna tau bahwa dirinya juga bisa melawan. Agar Aruna juga tahu bahwa ia benar-benar menyukai gadis itu.
"Ck, anjing," Aruna mengumpat sembari menendang kerikil di depan kakinya dengan kasar.
"Kenapa ngumpat?" Tanya Abi menaikkan sebelah alisnya yang membuat Aruna merasa janggal. Ini Abi atau setan penunggu halaman belakang sih?
"Mau bilang cewek gak boleh ngumpat? Suka-suka gue dong, lagian kita ga ada hubungan apa-apa, kan juga udah ada Olivia," ujarnya mengerling malas. Dasar denial! Bilang saja kalau kau cemburu, bodoh!
"Paham banget gue kalau di sini kakak lagi cemburu," ujar Abi mengambil ponselnya dari dalam saku. Ia membuka aplikasi chat dan menunjukkan sebuah roomchat pada Aruna.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aruna membaca pesan-pesan tersebut dengan tidak tertarik, setelah selesai membacanya ia diam-diam mengepalkan tangannya sembari mengeraskan rahangnya.