14.

42 2 0
                                        

Setelah jam kuliahnya selesai Daniel segera melajukan mobilnya menuju bandara, mendapat kabar bahwa sang sepupu baru saja tiba di bandara.

Ia sempat menyuruh sang sepupu untuk menunggu karena jamnya belum selesai sepenuhnya, masih tersisa sepuluh menit lagi untuk kelas dibubarkan. Dan untungnya sang sepupu masih memiliki hati dan kesabaran yang baik, hingga ia mengikuti saja ucapan Daniel.

Sesampainya di bandara ia langsung menuju ke tempat dimana sepupunya menunggu. Ia melambaikan tangannya saat sepupunya sempat menatap kearahnya.

Ia bergegas mendekati dua sosok yang kini duduk di kursi tunggu.

"Hey, why you so late? You know, im so bored," ujar sepupunya mengerling malas.

"Gue ada jam cil, Gasha lagi di rumah sakit. Gak mungkin pergi jemput lo," jawab Daniel menggaruk tengkuknya lalu membantu membawa koper bawaan sepupunya.

"What? Who is sick?" Tanya sepupunya lagi dengan heboh, ngomong-ngomong sepupunya ini perempuan yang masih seangkatan dengan Gasha.

"Temennya Gasha, lo gak usah sok Inggris. Lo SMP bahasa Inggris remidi tiga kali gue masih inget ya," kesal Daniel mengerling malas membuat sang sepupu memasang wajah tak terima.

"Itu dulu ya, sekarang gue mah pinter bahasa Inggris. Better than you do," ujarnya bangga.

"Iya deh iya, cepet masuk," ujarnya sembari membukakan pintu.

"Mau ke rumah dulu apa langsung ke rumah sakit?"

"Rumah dulu, badan lengket semua," ujar sosok remaja laki-laki yang bersama sepupunya. Lelaki tersebut bernama Alvando Clay Bimantara.

Dan sepupu Daniel tadi bernama Kaluna Cahya Nirela, gadis berkelahiran Jakarta yang sempat menetap di Bandung selama empat tahun tersebut tiba-tiba harus kembali ke Jakarta dan membuatnya harus menginap di rumah sang bibi yang tak lain ibu dari Daniel selama beberapa hari sembari mencari apartemen untuk tempat tinggal mereka selama di Jakarta.

Daniel mengangguk dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup cepat.

Sesampainya di rumah ia langsung menunjukkan kamar keduanya yang letaknya berhadapan dengan kamar Gasha serta kamarnya, hanya terhalang sebuah pagar pembatas. Di balik pagar pembatas tersebut kosong, namun ada sebuah lampu diatasnya. Lampu tersebut juga menyinari ruang utama lantai satu yang berada tepat di bawahnya. Di ujung di mana kamar Daniel dan Alvando berhadapan memiliki jarak untuk lewat dan memiliki sebuah gudang sebagai pemisah kedua ruangan tersebut.

Mereka--tepatnya Kaluna dan Alvando langsung membersihkan diri mereka masing-masing sementara Daniel membuat makan siang untuk mereka nanti di rumah sakit tentunya. Kenapa Daniel memasak sendiri? Jawabannya adalah karena sang art sedang pulang kampung selama dua minggu ini, yang berarti masih ada satu minggu lagi untuk sang pembantu kembali bekerja. Namun bukan masalah, baik Daniel, Gasha maupun kedua orang tuanya pandai memasak jadi bukan masalah yang besar.

Masalah besarnya adalah mereka memiliki waktu yang padat dan berakhir rumah sering berantakan apabila sang art sedang cuti.

Damar selesai menyiapkan nasi goreng spesial dengan campuran daging ayam yang dipotong kecil-kecil, bakso, sosis, juga udang. Ia mencicipi masakan tersebut, menurutnya sudah cukup enak. Ia lalu beralih pada wajan lain yang sedang dalam proses pematangan, wajan tersebut berisi dengan telur ceplok yang ia kecapi, sebenarnya ia juga tidak berniat memasak ini, namun mengingat Kaluna yang menyukai masakan tersebut membuatnya memilih untuk memasaknya juga.

Setelah matang dan mulai mendingin ia memindahkan nasi goreng tersebut ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari stainless berukuran cukup besar dengan diameter dua puluh sentimeter dan tingginya sepuluh sentimeter tersebut. Ia juga memindahkan telur ceplok buatannya ke dalam tempat bekal miliknya saat masih SMP yang masih disimpan, karena memang terkadang ia membawa bekal jika memang mendadak.

Im Yours.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang