"Kalau saya yang emang awalnya aneh-aneh kok anak-anak anda yang justru nunduk diem? Ga salah nih..."
Gasha dan ayah Alen duduk di sofa berhadapan dengan orang tua dari siswa-siswi yang bersalah dalam kejadian kemarin. Sementara itu anak-anak mereka duduk di kursi lain sembari menunduk.
Singkat fakta, berdebat merupakan salah satu hal yang paling Gasha benci. Selain bisa memancing emosi juga menghabiskan tenaga untuk berbicara panjang lebar. Namun ia akan melewati kebenciannya demi ini.
Kepala sekolah membuka pertemuan antara kedua wali--untuk Gasha sendiri ia memang tak memanggil Daniel. Toh, ia masih mampu.
Secara juga ia disini saksi nyata, dari awal sampai akhir sementara korbannya adalah teman sekelasnya dan Alen.
Disela-sela ucapan sang kepala sekolah yang menjelaskan nampak salah satu ibu-ibu yang menjadi wali pelaku menyahut.
"Anak saya gak begitu ya pak, pasti emang muridnya aja yang macem-macem."
Baik Gasha maupun Dirga--ayah Alen sama-sama mengepalkan tangannya erat. Semburat otot bahkan terlihat pada tangan Gasha, sungguh ia menahan emosinya saat ini.
"Betul, saya menyekolahkan anak saya di sekolah yang tinggi dan bermatabat tidak pernah melakukan hal seperti ini! Namun ketika sekolah di sini kenapa jadi seperti ini? Apa karena sekolah ini kurang bermartabat jadi siswa-siswinya seperti ini?"
Brak!
Gasha bangkit dari posisi duduknya, menggebrak meja dengan tangan kiri meski menggunakan tenaga yang tak main-main besarnya. Ia menggebrak meja hingga menggema bahkan terdengar sampai ruang guru yang berada di sampingnya. Vas bunga yang berada di atasnya juga nampak bergerak.
"Saya harap, anda jaga bicara anda. Kalau anda memang merasa sekolah ini kurang bermartabat kenapa anda menyekolahkan anak anda di sini?" Ia bertanya dengan dingin. Berusaha untuk tidak terpancing emosi lebih jauh lagi.
Salah satu wali perempuan bangkit, menyahuti ucapan Gasha dengan tak terima. "Saya tidak pernah menginginkan anak saya sekolah di sini. Itu karena anak saya yang meminta, saya sih ogah menyekolahkan anak saya di sekolah kumuh seperti ini, sudah sekolah kumuh, guru tidak tegas dan murid yang tidak beretik--"
"TUTUP MULUT ANDA!" Jangan salahkan jika Gasha emosi. Bagaimanapun ia tak bisa tinggal diam jika seperti ini. Siapapun boleh menghinanya asal jangan keluarganya, temannya, dan sekolahnya.
Semuanya seketika hening saat Gasha membentak dengan kedua tangan mengepal kuat di sisi tubuhnya. Siapa yang tidak ngeri melihat semburat otot yang mencuat dan sangat jelas terlihat.
"Jika anda tidak suka anak anda di sini, silahkan bawa keluar. Jangan pernah menjelek-jelekkan sekolah ini. Sebenarnya ini anda memiliki etika tidak sih? Anda sudah berusia lebih tua dibanding saya, namun anda justru memiliki etika yang lebih buruk."
"Sudah-sudah, Gasha duduk. Nyonya, silahkan duduk." Kepala sekolah menyela. Paham betul jika Gasha sudah emosi, anak itu bahkan pernah menjadi bahan perbincangan akibat berdebat di lapangan bahkan sampai dipisahkan guru saja tidak mempan jika Kiana tak mengancam anak itu.
"Baik, jadi disini dilaporkan bahwa anak tuan dan nyonya melakukan pembully-an dan penyerangan."
Salah satu diantara mereka hampir menyahut jika tidak melirik Gasha yang meletakkan tangannya di atas lutut dengan badan yang sedikit condong, dengan wajah seriusnya mendengarkan.
"Anak nyonya dan tuan akan menerima hukuman berupa drop out."
Ketiga wali siswa tersebut tak terima. "Apa-apaan ini? Bagaimana bisa, bahkan kebenarannya saja belum jelas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Im Yours.
Fiksi Penggemar"Percintaan itu memuakkan," ujar Aleena Gasha Zinantya. "Gak punya pacar tapi punya support system itu asik," ujar orang lain yang berakhir terikat dengan hubungan 'kekasih', Aruna Rumantara. "Jomblo itu asik," ujar seorang lain yang tetap menjomblo...
