Hannie memarkirkan mobilnya di deretan parkir khusus pengunjung menjelang pukul tujuh malam. Sean sudah menunggunya di undakan depan pintu masuk kantor. Setelan kerjanya yang berwarna polos membosankan mengeluarkan aroma kayu yang hangat dan juga manis.
Sean melempar senyuman tipis. Satu lengannya terentang seolah menyambut Hannie, namun dia menahan diri. Mereka sama-sama berjalan kembali ke parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil Sean, sesekali membicarakan hal-hal ringan.
Mobil Sean meluncur mulus keluar dari pakiran kantor, membelah jalanan padat West Coast. Mereka mampir ke restoran cepat saji dan memesan makanan melalui layanan drive thru, mampir sebentar untuk mengisi bahan bakar, dan tiga puluh menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Sean meminta Hannie keluar dari dalam mobil setelah dia memasukkan semua makanan ke dalam kantung plastik.
Hannie memperhatikan sekelilingnya. Banyak ilalang yang tumbuh, pepohonan besar yang tumbuh sangat rapat. Suasananya seperti di hutan. Hannie bahkan bisa mendengar bunyi hewan malam saling bersahutan.
"Aku tidak tahu kalau West Coast punya tempat seperti ini..."
Sean tertawa. "Ayah dan Ibuku yang menemukannya..." Lengan Sean terulur. Hannie memandang lengannya ragu-ragu sebelum menerima uluran tangan Sean dan mereka berdua berjalan masuk membelah hutan sambil berpegangan tangan.
Mereka terus berjalan sambil berpegangan tangan, menembus kedalaman hutan. Sesekali Sean akan menyingkirkan ranting dan dahan pohon yang menghalangi jalan mereka, sesekali dia menyingkirkan ranting-ranting kecil yang tersangkut di rambut Hannie. Akhirnya setelah menanjak jalan setapak yang dipenuhi jelatang liar di sekelilingnya, keduanya tiba di jalan kecil yang sudah diaspal dan di sekelilingnya terdapat bebatuan besar. Sean baru melepaskan tangan Hannie setelah mereka sampai di tanah yang rata.
Hannie berjalan dengan hati-hati untuk dapat melihat lebih jelas apa yang ada di depannya. Pemandangan yang luar biasa dia dapatkan dari ketinggian beberapa meter saat itu... West Coast di malam hari. Lampu berkelap-kelip. Dia membatin apakah salah satu pemilik lampu kendaraan tersebut adalah Jihan atau teman-teman kantornya?!
Hannie menoleh saat Sean kini berdiri di sebelahnya. Sean sudah menggelar alas piknik dan makanan yang mereka beli tadi diletakkan di atas alas piknik. "Bagaimana menurutmu?" Tanya Sean.
Hannie tersenyum. Dia menyibak rambut panjangnya yang kini digerai, menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. "Ini luar biasa... Kau selalu ke sini?"
Sean mengangguk. Hannie bisa mendengar pria itu bergerak di sebelahnya tapi dia tidak ingin menoleh untuk melihatnya. "Yah... Hanya jika aku perlu sedikit ketenangan..."
"Pekerjaanmu memang sangat berisiko... aku tidak terkejut mendengarnya..." Mereka berdua terdiam sesaat. "Apa kau selalu ke sini seorang diri?" tanya Hannie lagi.
"Yah..." Dari sudut mata Hannie bisa melihat Sean mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu harus mengajak siapa..." Dan kini Hannie benar-benar menoleh, memutar tubuhnya agar bisa melihat Sean dengan lebih jelas. Seolah mengerti arti tatapan Hannie, pria itu menggeleng sambil tersenyum simpul. "Aku tidak berkencan. Paling tidak, sejak empat tahun yang lalu. Aku sudah tidak berkencan lagi..."
Hannie mengatakan "ooh" tanpa suara dan kembali menghadap ke depan, ke pemandangan kota West Coast. Entah kenapa tiba-tiba saja hatinya merasa senang sekaligus bersemangat.
"Bagaimana denganmu?"
"Maaf?"
"Apa kau berkencan?"
Hannie sengaja berlama-lama menjawab pertanyaan itu. Otaknya dipenuhi kenangan akan Joshy, kenangan tentang bagaimana pria itu tertawa, bagaimana pria itu menyempatkan diri untuk datang menemuinya dua hari sekali, bagaimana pria itu melamarnya saat mereka pergi berlibur ke luar negeri, dan bagaimana ketika pria itu pasrah saja saat Hannie mengatakan bahwa dia harus pergi melihat-lihat tempat untuk lokasi pernikahan mereka seorang diri. Jika saja saat itu Hannie mengajaknya, jika saja saat itu Hannie tidak bersikeras untuk pergi seorang diri, Joshy mungkin masih hidup hingga saat ini dan mereka hidup sebagai suamu-istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRY FOR ME
RomanceDisclaimer Written and Published by : Raindroponme Rate : M Language : Indonesian Cover and Picture : taken and made by Canva. Thanks to the artist Syn : Hannie sudah berjanji tidak akan pernah lagi mengencani seorang pun pria setelah kematian Joshy...
